JawaPos.com – Lembaga survei yang salah prediksi di pilkada maupun pilpres disarankan harakiri. Demikian disampaikan Wakil Ketua Partai Gerindra Fadli Zon dalam acara diskusi bertajuk ‘Jelang Pilpres Jokowi Blunder & Panik?’ di Seknas Prabowo-Sandi, Jalan Hos Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2).

Sebagai informasi, harakiri merupakan bentuk bunuh diri para samurai di Jepang, yang dilakukan dengan menyobek perut dengan pedang. Harakiri dilakukan oleh samurai yang merasa gagal mengemban tugas.

“Jadi sebetulnya, ini namanya lembaga survei harus ada akuntabilitas. Kalau di Jepang itu harusnya kita kasih pedang kecil. Harus suruh harakiri lembaga survei itu. Malu harusnya, karena mereka sudah memprediksi dan kesalahannya ratusan persen,” kata Fadli.

Fadli mengungkit prediksi lembaga survei pada pilkada DKI Jakarta 2017. Waktu itu, kata dia, hampir seluruh lembaga survei memprediksi petahana akan menang. Namun, hasilnya justru berbeda dari prediksi.

“Waktu DKI dikatakan Ahok akan menang, malam itu 18 April 2017, kita kumpul di restoran di SCBD. Pak Prabowo mengumumkan insya Allah kita akan menang 58 persen. Ternyata setelah dihitung kemenangan Anies-Dandi 57,97 persen. Jadi, meleset 0,03 persen apa yang disampaikan Prabowo waktu itu,” tuturnya.

Tak hanya sekali, kejadian itu kemudian terulang pada pilkada-pilkada lainnya. Mulai dari Pilkada Jabar sampai dengan Jateng pada 2018 lalu.

“Di Jabar, Sudrajat-Syaiku itu angkanya selalu (prediksinya) 6 persen-7 persen, maksimal 8 persen. Ternyata, hasilnya 29 persen. Di Jateng, SS (Sudirman Said) yang kami usung, mungkin ada yang persentase survei 8 persen yang tertinggi 11 persen. Hasilnya justru 42 persen,” tuturnya.

Atas dasar itu, Fadli meminta lembaga survei untuk tidak dijadikan alat kampanye bagi salah satu paslon. Apalagi, lembaga survei tersebut tidak mempublikasikan sumber dananya.

“Harusnya ada regulasi supaya lembaga ini tidak dijadikan alat kampanye. Kita tahu lah di Indonesia lembaga survei jadi alat kampanye. Dia tidak declare siapa yang biayai. Mungkin ada satu dua yang declare,” pungkasnya.

Editor           : Estu Suryowati

Reporter      : Igman Ibrahim