Fahri Hamzah Terima Kunjungan Mahasiswa UIN Alauddin - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan bahwa lahirnya DPR (setelah amandemen UUD ke tiga) adalah lahirnya daulat rakyat, lahirnya demokrasi dalam pengetian sebenarnya.

“DPR hari ini beda dengan DPR zaman dahulu. Ini adalah DPR demokrasi, karena dia nyantol di konstitusi yang demokrasi,” kata Fahri Hamzah saat menerima kunjungan Mahasiswa UIN Alauddin Makassar dalam rangka praktikum kompetensi dengan tema “Undang-undang Politik Pemilu dan Masa Depan Demokrasi di RI, di Ruang Abdul Muiz DPR Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (4/9).

Politikus PKS itu mengatakan, empat kali amandemen konstitusi membuat DPR sekarang ini sebagai konstitusi terbaik di dunia atau konstitusi demokratis.

“Itu perbedaannya. Kalau DPR era otoriter itu adalah embel-embel dari eksekutif. Tapi kalau DPR di era demokrasi adalah lembaga independen. Itu pun, menurut saya belum terlalu independen. Saya termasuk yang memperjuangkan di gedung ini lebih kepada independensi,” kata dia.

Fahri juga mengatakan, politikus jangan level lokal tetapi harus punya perspektif dan standar berpikirnya itu harus global.

“Kaum intelektual dan founding fathers kita dulu, pikirannya enggak ada yang lokal. Otaknya mereka itu otak dunia. Soekarno, Hatta, Syahir, Tan Malaka, Agus Salim, semuanya itu adalah intekeltual-intelektual dunia,” beber Anggota DPR dari Nusa Tenggara Barat (NTB) itu lagi.

Fahri pun menyebut salah satu contoh seperti pemikiran-pemikiran Natsir tentang bagaimana agama dan negara jalan bersamaan. “Pemikiran seperti itu adalah pemikiran yang mahal,” ucapnya. (adv/jpnn)