Di Radar Malang, The Dance Company Curhat Omzet

The Dance Company.

MALANG KOTA – Kunjungan The Dance Company ke kantor Jawa Pos Radar Malang menjadi ajang curhat sekaligus bongkar rahasia, kemarin (4/7). Mulai dari perilaku negatif musisi muda yang pernah satu panggung, omzet manggung, hingga pemilihan nama The Dance Company, semuanya dikupas secara blak-blakan oleh Pongki Barata dan kawan-kawannya.

Meski membeber aib musisi lain di tanah air, namun suasana terasa gayeng. Sontak saja, pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit itu berlangsung gergeran. Hampir setiap personel The Dance Company itu berbicara, selalu diiringi tawa dari jajaran pimpinan Jawa Pos Radar Malang dan puluhan karyawan yang hadir.

Misalnya, ketika wartawan koran ini menanyakan konsep The Dance Company, mereka justru mempelesetkan jawabannya.

”Omzet? Kami tidak ngomongin (berbicara) omzet karena jumlahnya sedikit,” jawab Baim lantas disambut tawa Pongki Barata, Ariyo Wahab, dan Nugie yang duduk bersebelahan itu.

Pongki lantas menimpali jawaban Baim. ”Oh, nanya konsep. Siapa bilang kami punya konsep? Kami manggung tidak ada konsep. Seperti band aja ada konsepnya,” jawab Pongki dengan mimik wajah serius, namun justru mengundang tawa personel lainnya.

Cerita lain yang mengocok perut adalah ketika Pongki menjawab pertanyaan Direktur Radar Malang Kurniawan Muhammad. ”Kenapa band-nya bernama The Dance Company?” tanya Kum, sapaan akrab Kurniawan Muhammad.

Meski pertanyaannya bernada serius, Pongki tetap saja menjawab dengan gayanya yang khas, yakni berwajah serius tapi terkesan asal jawab. Dia menceritakan, pemilihan nama The Dance Company terinspirasi dari band mancanegara. Pongki menyebut nama beberapa band, di antaranya Backstreet Boys.

Suatu ketika, dia bersama Nugie, Ariyo Wahab, dan Baim naik bus. Dalam perjalanan, dia melihat ada papan nama bertuliskan ”The Dance Company”.

”Saya merasa pas (jadi nama band). Untung saja saya tidak pakai dari papan nama di sebelahnya. Warung masakan Jepang,” kata Pongki lantas tertawa.

Sementara itu, terkait perilaku musisi muda, Pongki, Baim, dan Nugie menilai berbeda dengan zamannya. ”Dulu ketika kami baru (jadi anak band), bertemu Chrisye, langsung menyapa. Lha sekarang?” kata Nugie.

Pongki, Ario Wahab, dan Nugie juga menceritakan kesuksesan lagu berjudul Papa Rock and Roll. Awal tahun 2010, hampir semua band Indonesia menyuguhkan lagu Melayu. Tapi, The Dance Company yang hadir dengan genre musik berbeda, justru diterima masyarakat Indonesia.

”Padahal, lagu Papa Rock and Roll dibuat tanpa konsep, malah laku dua juta keping, lho,” ujar Pongki dengan bangga.

Setelah obrolan ringan berlangsung sekitar 30 menit, pukul 15.00–15.30 WIB, personel The Dance Company itu kembali ke hotel. Malam harinya, mereka menyemarakkan malam penganugerahan Otonomi Award Lurah-Camat 2018 di gedung Graha Cakrawala, Universitas Negeri Malang (UM).

Sebelum mampir ke kantor Radar Malang, para personel The Dance Company mampir ke rumah makan (RM) Taman Indie. Di rumah makan khas Jawa itu, personel The Dance Company disambut General Manager (GM) Radar Malang Don Virgo dan manajer iklan M Atho’illah.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Mahmudan
Foto: Darmono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here