Awalnya Iseng dan Bermodal Patungan

Mencoba terjun ke dunia industri kreatif, 4 kera ngalam bermodal pengalaman otodidak ini hasil karyanya berhasil diakui di Asia Tenggara. Sekelompok anak muda berusia kisaran 20 tahunan ini menamakan dirinya dengan Kloppanome, game developer indie. Bagaimana perjuanganya?

——

Kemajuan era industri digital tak lagi mampu dibendung. Ranah hiburan pun merambah ke dunia digital, salah satunya adalah mobile game. Hal inilah yang membuat game developer indie asal Bhumi Arema, Klappanome, berjuang untuk mencari prestasi  hingga ke kancah luar negeri.

Mobile game berjudul VALZ karya Klappanome mampu menyabet gelar the best audio di ajang Level Up di Kuala Lumpur, Malaysia, 8 November 2019. Game ber-genre rhythm role playing game (RPG) ini mampu menyingkirkan 50 finalis dari sejumlah negara Asia Tenggara. Di antaranya, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Tak hanya itu, pada Oktober 2018, VALZ telah mendapat penghargaan serupa. Mereka dinobatkan sebagai the best audio di ajang 3rd International Mobile Gaming Awards Southeast Asia (IMGA SEA).

Prestasi gemilang tersebut tak didapat secara instan. Mulanya VALZ digarap sejak Maret 2016 sebagai prototipe. Hingga menyandang predikat di International Mobile Gaming Awards (IMGA) sebelum resmi rilis di App Store pada November 2018 lalu.

”VALZ bisa di-download di App Store dan masih belum tersedia di Google Play,” kata Team Leader Klappanome Ricky Ongkowidjojo. Untuk mengunduh dan menikmati permainan atraktif itu, para gamer dikenakan biaya sebesar 4 USD (Rp 56 ribu).

Dalam perjalanannya, game developer indie yang kini beranggotakan 7 orang ini memulai perjalanannya dari nol sejak 2016 lalu.  Dari semua anggota tim ini berasal dari daerah berbeda-beda.

Di antaranya, 4 orang dari Malang, 2 orang dari Surabaya, dan 1 orang dari Jepang. Empat orang dari Malang adalah Ricky Ongkowidjojo sebagai founder sekaligus team leader, Carvino Hendy sebagai programmer, Yoga Prayudha sebagai visual artist, dan terakhir Cecillia Harsono sebagai writer.

Mereka pun memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Adapun Ricky adalah lulusan teknik sipil UK Petra Surabaya, Carvino lulusan teknik informatika STIKI Malang, Yoga lulusan teknologi informatika Universitas Ma Chung, dan Cecillia lulusan sastra Inggris Universitas Ma Chung. Berangkat dari learning by doing itulah, mereka merasakan getirnya meniti karir.

Awal mula berdirinya Kloppanome adalah dirintis oleh dua remaja yang masih dalam ikatan keluarga, yakni Ricky dan Carvino. ”Waktu itu kami memang berangkatnya dari iseng-iseng juga buat isi waktu luang,” tutur Carvino saat bertandang ke kantor Jawa Pos Radar Malang akhir pekan lalu bersama timnya.  Dirasa banyak item pekerjaan yang dibutuhkan, maka masukklah beberapa orang lagi ke dalam tim ini, yakni Yoga dan Cecilia.

Proses mengawalinya tidaklah mulus. Sebab, mereka pada dasarnya sudah memiliki kesibukan pekerjaan freelance masing-masing sebelumnya. Sehingga kerap kesulitan mengatur jadwal bertemu untuk penuntasan proyek.

Dalam perjalanannya selama tiga tahun ini, mereka lebih banyak belajar  secara otodidak.  Minimnya pendampingan yang mereka rasakan untuk meningkatkan wawasan di industri digital menjadi tantangan terberat yang diirasakan oleh tim.

”Karena kami memang benar-benar baru mengalami hal ini, misalnya soal monetize. Kami  masih buta dalam hal itu,” kata Ricky. Jujur Kloppanome masih belajar dalam hal semacam ini.

Mereka mengakui awalnya menangani proyek semacam ini bukanlah passion-nya dan pastinya sulit untuk dijalani. Apalagi jika melihat sisi keuntungan yang belum tentu, tapi keluar modal materi dan waktu sudah pasti.

”Faktanya di lapangan banyak game developer baru bermunculan, tapi mendadak mandek di tengah jalan. Itu kemungkinan karena tidak adanya pendampingan mentor,” kata Ricky.  Pastinya ini adalah industri baru, perlu banyak penyesuaian serta effort yang tinggi.Menurut dia, yang terpenting adalah komitmen dan passion. Komitmen yang bikin kami tekun, passion yang bikin kami termotivasi,” tambahnya.

Banyak milenial berpikir dua kali untuk melangkah ketika dihadapkan dengan pembiayaan proyek serta waktu yang tersita. Untungnya, bagi Kloppanome, persoalan modal bukan menjadi batu sandungan karena semua anggota tim telah memiliki penghasilan dari pekerjaan freelance. ”Sejak awal berdirinya Kloppanome, kami habis dana sekitar Rp 400 juta. Itu termasuk buat menggaji diri kami sendiri ya,” terang Carvino sembari tertawa.

Untuk diketahui, selain VALZ ada proyek sampingan, yakni Sunset Road yang mulai penggarapannya sejak Mei 2019. ”Ini (Sunset Road) bisa di-download secara gratis di Google Play Store. Nantinya game ini akan terus kami sempurnakan,” ujar Cecillia.

Demikian juga dengan pengembangan VALZ, bakal tingkatkan kualitas kontennya  agar lebih bagus. ”Sejauh ini konten VALZ yang sudah dirilis masih sekitar 30 persen. Jadi, akan terus kami kembangkan semaksimal mungkin,” tutup Ricky.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mardi Sampurno

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here