Stop Diskriminasi terhadap ODHA!

KOTA BATU – Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap penyebaran virus HIV/AIDS membuat diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih saja terjadi. Kondisi tersebut menyulitkan pihak berwenang untuk melakukan identifikasi.

Bantuan dan pendampingan pun menjadi tidak leluasa diberikan. Hal itulah yang kini dirasakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu.

”Asumsi orang tentang penyakit ini sangat berlebihan, hal itu membuat penderitanya menjadi pesimistis,” terang Sekretaris Dinkes Kota Batu dr Sri Rahati. Dia mengakui bila diskriminasi yang berlebihan masih tetap berlangsung hingga saat ini. Banyak ODHA yang kemudian merasa dikucilkan masyarakat. Tak sedikit pula di antara mereka yang putus asa.

Contoh kasusnya terjadi Kamis (21/3) lalu. Salah satu warga Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, diketahui meninggal setelah mengidap HIV/AIDS selama beberapa tahun.

Kabid Penyuluhan dan Pencegahan (P2) Dinkes Kota Batu dr Yuni Astuti menjelaskan, pria berusia 34 tahun tersebut sebelumnya sempat dikucilkan oleh warga setempat. Pihak keluarga pun sudah lepas tangan untuk mengurusi keperluan korban.

Karena putus asa, korban akhirnya enggan meminum obat ARV (Antiretroviral) lagi. Obat tersebut diketahui berguna untuk meredam aktivitas virus. Agar bekerja maksimal, obat tersebut harus diminum secara rutin oleh ODHA. ”Saya tidak mau menyebut nama korban. Yang jelas, ODHA harusnya mendapat dorongan mental yang lebih. Karena sekali saja berhenti meminum obat, virus yang berada di tubuhnya akan semakin menggerogoti imunnya,” terang Yuni.

Dia berharap kejadian itu tidak terulang lagi. Di sisi lain, dia mengakui bila jumlah ODHA di Kota Batu cenderung naik. Berdasarkan rekap dinkes di tahun 2016 lalu, diketahui ada 18 warga Kota Batu yang positif mengidap HIV/AIDS. Setahun berselang, tepatnya 2017 lalu, angkanya turun menjadi 16 jiwa. Pada tahun 2018 lalu, dinkes mencatat ada 42 warga yang positif HIV/AIDS.

”Semakin banyak warga yang melapor, artinya populasi penyebaran semakin terdeteksi,” sambung Yuni. Bila populasi itu bisa diintensifikasi, maka pihaknya bakal lebih leluasa melakukan pemetaan.

Langkah antisipasi penyebaran virus itu pun bisa disusun dengan baik oleh dinkes. Sayangnya masih banyak pengidap HIV/AIDS yang cenderung tertutup. Saat mereka mau terbuka pada pihak terkait, pendampingan dan bantuan bisa didapatkan

Pewarta               : Miftahul Huda
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Bayu Mulya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here