Jadi Kontroversi, Ini Manfaat Main PUBG

KOTA MALANG – Game kolaboratif PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) tengah menjadi kontroversi di beberapa negara. Di India, pemerintah berencana memblokir game ini karena dianggap merusak generasi bangsa. Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengaji fatwa bagi PUBG menyusul adanya indikasi pendidikan radikal berbalut game pasca kejaian penembakan brutal di masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Di luar kontroversi tersebut, game bergenre battle royal juga memberikan dampak positif bagi pemainnya. Studi terbaru Universitas Brigham Young (BYU) merilis hasil studi terbaru. Di dalamnya disebutkan, dengan bermain 45 menit skuad PUBG, Fortnite atau Halo 4 dapat meningkatkan produktivitas hingga 20 persen.

“Melihat lompatan besar itu – terutama untuk jumlah waktu mereka bermain – sedikit mengejutkan,” kata penulis sekaligus profesor BYU, Greg Anderson.

“Perusahaan menghabiskan ribuan dan ribuan dolar untuk kegiatan membangun tim, dan kupikir, pergi membeli Xbox,” kata Anderson.

Melansir theinquirer, Senin (25/3/2019), para peneliti merekrut 352 individu dan secara acak mengorganisasikannya ke dalam 80 tim, memastikan tidak ada peserta dengan hubungan yang sudah ada sebelumnya berada di tim yang sama.

Tim diuji sebelum dan setelah berpartisipasi dalam sejumlah kegiatan, termasuk permainan battle royale. Bahkan, mereka juga diiming-imingi uang jika menang. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa indeks kerjasama tim mengalami peningkatan.

“Video game tim mungkin benar-benar menjadi alternatif yang layak – dan mungkin bahkan optimal – untuk membangun tim,” kata Pemimpin Peneliti sekaligus dosen BYU, Mark Keith.

Battle royale yang bersifat kolaboratif membuat pemainnya membangun komunikasi, dan hubungan kerja, bahkan lebih cepat dengan rekan satu tim baru untuk mempelajari nuansa permainan.

Game komputer seperti Fortnite dan PUBG, terutama ketika dimainkan dalam regu dua atau empat, bukannya pemain tunggal, menguji kemampuan orang untuk membuat keputusan cepat dan bekerja sama dalam lingkungan yang akut.

Pemain harus siap memberi dan menerima instruksi yang jelas dari rekan satu tim dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama.

Para peneliti mengklaim bahwa para peserta tidak perlu menjadi maniak game untuk merasakan efek positif dari permainan tim. Studi ini sendiri telah diterbitkan dalam AIS Transactions on Human-Computer Interaction.

Penyunting : Fia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here