KOTA MALANG – Terdiagnosis menderita diabetes melitus tipe 1 sejak usia tiga tahun, Vicky Christian Sugiarto tak pernah lepas dari suntikan insulin. Saat duduk di bangku SD, jika bekal sekolah temannya berisi aneka macam makanan, tas Vicky malah berisi suntikan insulin. Kini, pemuda berusia 27 tahun ini masih melanjutkan kuliah S-2-nya di Taiwan.

Vicky sudah mahir menyuntik insulin ke tubuhnya sejak duduk di bangku SMP. Saat tahun 2009 lalu, Jawa Pos Radar Malang pernah meliput tentang sosoknya yang berjuang melawan penyakit yang diderita sejak lahir itu. Siswa SMP yang terus melanjutkan studinya meskipun mengidap diabetes yang setiap waktu bisa menganggu aktivitasnya.

Alumnus SMP Budi Mulia Lawang ini tahu betul dengan kondisi tubuhnya. Setiap hari, dia harus mengelola asupan nutrisi yang masuk ke tubuhnya. Karena penderita diabetes harus menyuntikkan insulin, minimal sebelum makan. Vicky juga baru boleh makan setelah insulin bekerja di dalam tubuhnya antara 30–60 menit.

Kalau makan dulu sebelum suntik insulin, tubuhnya langsung bereaksi. Vicky bakalan merasakan kesemutan dan kelelahan luar biasa. Dalam sehari saja Vicky perlu sekitar dua hingga empat kali suntikan.

”Tergantung kondisi badan saat itu,” ujarnya. Vicky juga sering menyuntik insulin di area dekat pusarnya, bahkan saat di tengah-tengah pelajaran.

Vicky pun banyak belajar tentang penyakit yang diidapnya. Dia tahu, diabetes menyebabkan sistem imunnya menghancurkan sel di dalam pankreas. Itu mengapa, insulin alami yang seharusnya bisa dihasilkan tubuhnya tak bisa diproduksi. Sehingga harus dibantu suntik insulin.

”Hidup saya tergantung suntikan insulin,” katanya.

Vicky juga tidak bisa beraktivitas berat. Karena ada efek samping dari penggunaan insulin atau hipoglikemia yang menyebabkan penderita diabetes merasa kelelahan. Meski begitu, Vicky tak mau diabetes mengalahkan semangatnya meraih cita-cita. Sebagai remaja, Vicky terobsesi menjadi ilmuwan atau pakar teknologi. Sosok yang dikagumi adalah Bill Gates dan Steve Jobs.

Saat duduk di bangku SMA misalnya, dia berhasil menciptakan robot analog yang diberi nama Naviget L. Proses pembuatan robot ini membutuhkan waktu panjang dan ketelitian yang tinggi. Proses yang dijalani untuk membuat robot tersebut sebenarnya bisa menganggu kondisi tubuhnya.

”Asal bisa menjaga tubuh dan tahu kapan istirahat dan berhenti, saya bisa menuntaskan robot itu,” cerita Vicky saat duduk di bangku kelas XII IPA.

Vicky juga sering menjuarai kontes robot antarsiswa SMA kala itu. Gara-gara Vicky, SMAN 1 Lawang yang awalnya tak dikenal di jajaran SMA dan SMK pencetak robotik, kini banyak generasi penerusnya yang berjaya.

”Semua itu tak lepas dari support keluarga yang terus-menerus mendorong saya. Saya bangga akan itu,” kata Vicky.

Kini, Vicky yang sedang menempuh studi S-2-nya di Taiwan terus mengejar mimpinya menjadi peneliti andal. Saat dihubungi, suara Vicky sangat tegas, lancar, dan tidak ada kesan bahwa dia memiliki penyakit yang berat di tubuhnya.

”Ya, masih harus tetap mengontrol makanan, suntiknya juga masih kok. Kan tidak bisa lepas sepanjang umur,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Cuaca Taiwan yang tidak menentu, kadang cepat panas, kadang cepat dingin, bisa menganggu kondisi tubuhnya. Belum lagi, di Taiwan juga mengalami empat musim. ”Ya cukup menganggu juga. Tetapi saya sudah bisa mengantisipasi dan menjaga diri di sini,” jelas alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini.

Apalagi teman-temannya di Taiwan juga ikut membantu sekaligus mengetahui kondisi Vicky. ”Kalau mau makan-makan di luar, kadang mereka mau menunggu insulin saya bekerja,” kata dia.

Malah, Vicky aktif mengikuti kelas tambahan. Saat ini, Vicky sedang disibukkan dengan seabrek aktivitas. Tetapi Vicky yakin. Dirinya masih bisa menciptakan teknologi masa depan yang sangat canggih. Kalau bisa, ada kolaborasi teknologi canggih di dunia kedokteran yang bisa membantu pasien diabetes. Semoga saja.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani