alexametrics
26.9 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

Saat Brain Fog Menyerang Mental Pasien dan Penyintas Covid-19

MALANG KOTA – Anda sering merasa resah, gelisah, atau cemas tanpa alasan yang jelas saat menjadi pasien maupun sudah sembuh dari Covid-19? Barangkali itu adalah efek yang ditimbulkan akibat paparan virus asal Kota Wuhan, Tiongkok itu.
Sebab faktanya, selain menyerang paru-paru, infeksi SARS-CoV-2 juga terbukti menyerang organ otak. Dokter Spesialis Saraf Konsultan Infeksi dan Imunologi RSSA Malang dr Badrul Munir Sp S(K) menjelaskan, salah satu efek yang menonjol dari long covid di bidang saraf adalah brain fog. Potensinya mencapai 81 persen dari seluruh pasien yang terpapar virus Covid-19.
”Brain fog ini ditandai dengan gangguan kognisis, gejalanya seperti kesulitan konsentrasi, memori yang menurun terutama memori jangka pendek, dan gangguan eksekusi atau memutuskan sesuatu,” terang Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) itu. Gejalan ini berhubungan dengan kerusakan fungsi otak atau encefalopati saat pasien masih terinfeksi SARS-CoV-2.
Selain itu, Badrus menjelaskan bahwa brain fog juga berhubungan dengan derajat kelelahan atau fatique. ”Semakin besar fatique semakin besar potensi brain fog,” ujarnya. Dia menambahkan, brain fog mudah terjadi pada pasien dengan gangguan tidur, rasa kesepian, depresi, cemas dan kurang olahraga. Praktis, kondisi ini berkaitan erat dengan kondisi mental pasien maupun penyintas Covid-19.
Kondisi brain fog ini semakin mudah terjadi karena pada umumnya pasien masih menderita sakit kepala persisten dengan skala 61 persen yang dibarengi dengan rasa baal atau kesemutan, gangguan pembauan dan keseimbangan yang menetap sampai 6 bulan pascainfeksi.
Lantas bagaimana terapi yang bisa diberikan pada penderita brain fog? Dosen Neuroinfeksi Neuroimunologi FK UB itu menyarankan agar pasien mendapat penanganan tim yang terdiri dari dokter saraf, rehab medik, fisioterapis, psikologis, ahli gizi dan lainnya. ”Pertama pasien harus cukup tidur, karena tidur yang berkualitas itu mempercepat penyembuhan dan mengembalikan fungsi otak ke arah yang lebih baik, dan yang kedua olahraga teratur guna memperbaiki fungsi paru, jantung, dan otak.
Selain itu, pasien juga disarankan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang cukup guna memenuhi kebutuhan nutrisi otak. ”Juga hindari merokok, alkohol, serta hal lain yang berpotensi menimbulkan reaksi peradangan di otak,” sambung Badrus.
Secara klinis, Alumnus Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) itu menjelaskan bagaimana SARS-Cov-2 bisa menyerang organ otak. Dia menyebut, infeksi itu dimungkinkan terjadi sebab reseptor virus yang disebut ACE-2 reseptor juga terdapat di sel otak dan saraf. Dengan demikian, virus bisa menempel dan merusak jaringan yang ada di otak. ”Caranya bisa lewat peredaran darah (dari paru ke otak) atau juga menyebar lewat serat saraf yang menempel di ujung saraf tepi (bergerak ke atas dan masuk ke otak),” imbuhnya.
Imbasnya, muncul respon berupa inflamasi atau radang yang sering disebut dengan badai sitokin. Sitokin sendiri merupakan protein yang berperan sebagai pelindung tubuh ketika terdeteksi ada agen penyakit yang masuk. Pada pasien yang terinveksi korona, jumlah sitokin yang diproduksi oleh tubuh terlalu banyak dan tidak terkontrol sehingga menyebabkan kekacauan seperti badai. Dampaknya yakni kelainan di otak dan saraf manusia.
Lantas seberapa besarkah potensi hal tersebut? ”Dari semua pasien covid ada 20 persen sampai 25 persen yang bermanifestasi di otak dan saraf manusia,” jelas Konsultan Kolegium Neurologi. Badrus menambahkan, manifestasi virus Covid-19 di otak terbagi menjadi dua bagian, yakni yang melibatkan saraf pusat dan saraf tepi.
Pada kasus manifestasi yang terjadi di saraf pusat, pasien biasa mengalami gejala sakit kepala. ”Hampir 82 persen penderita Covid-19 mengalami sakit kepala, ada yang seperti sakit kepala ketika flu, namun ada juga yang mirip dengan sakit kepala migrant dan bahkan ada juga yang mengalami gejala awal radang otak yakni sakit kepala hebat yang disertai pingsan atau kejang,” beber Badrus.
Gejala lain yang juga sering muncul yakni gangguan keseimbangan, penurunan kesadaran, sroke, kejang, dan radang selaput otak. ”Yang menarik orang yang sembuh dari koma dan pulang ke rumah itu sepertiga di antaranya masih ada gejala sisa berubah gangguan mental seperti sulit melakukan sesuatu, gangguan komunikasi dan lainnya,” terang pria yang tengah menempuh program doktoral itu.
Selanjutnya, pada kasus manifestasi virus yang terdampak pada saraf tepi yakni pasien mengalami gangguan pembauan. Kondisi ini biasanya akan menghilang dalam waktu 2 sampai tiga minggu pascainfeksi. Dampak lain yang paling signifikan yakni kelemahan atau lumpuh pada organ tangan dan kaki. Selain dapat melemahkan otot tubuh, penyakit ini juga dapat melemahkan otot tubuh dan bahkan otot nafas yang memaksa pasien harus menggunakan ventilator atau alat bantu nafas. ”Yang pasti, keterlibatan saraf dalam Covid-19 menandakan derajat infeksi yang berat dan meningkatkan angka kematian juga kecacatan serta bisa menimbulkan long covid. (iik)

MALANG KOTA – Anda sering merasa resah, gelisah, atau cemas tanpa alasan yang jelas saat menjadi pasien maupun sudah sembuh dari Covid-19? Barangkali itu adalah efek yang ditimbulkan akibat paparan virus asal Kota Wuhan, Tiongkok itu.
Sebab faktanya, selain menyerang paru-paru, infeksi SARS-CoV-2 juga terbukti menyerang organ otak. Dokter Spesialis Saraf Konsultan Infeksi dan Imunologi RSSA Malang dr Badrul Munir Sp S(K) menjelaskan, salah satu efek yang menonjol dari long covid di bidang saraf adalah brain fog. Potensinya mencapai 81 persen dari seluruh pasien yang terpapar virus Covid-19.
”Brain fog ini ditandai dengan gangguan kognisis, gejalanya seperti kesulitan konsentrasi, memori yang menurun terutama memori jangka pendek, dan gangguan eksekusi atau memutuskan sesuatu,” terang Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) itu. Gejalan ini berhubungan dengan kerusakan fungsi otak atau encefalopati saat pasien masih terinfeksi SARS-CoV-2.
Selain itu, Badrus menjelaskan bahwa brain fog juga berhubungan dengan derajat kelelahan atau fatique. ”Semakin besar fatique semakin besar potensi brain fog,” ujarnya. Dia menambahkan, brain fog mudah terjadi pada pasien dengan gangguan tidur, rasa kesepian, depresi, cemas dan kurang olahraga. Praktis, kondisi ini berkaitan erat dengan kondisi mental pasien maupun penyintas Covid-19.
Kondisi brain fog ini semakin mudah terjadi karena pada umumnya pasien masih menderita sakit kepala persisten dengan skala 61 persen yang dibarengi dengan rasa baal atau kesemutan, gangguan pembauan dan keseimbangan yang menetap sampai 6 bulan pascainfeksi.
Lantas bagaimana terapi yang bisa diberikan pada penderita brain fog? Dosen Neuroinfeksi Neuroimunologi FK UB itu menyarankan agar pasien mendapat penanganan tim yang terdiri dari dokter saraf, rehab medik, fisioterapis, psikologis, ahli gizi dan lainnya. ”Pertama pasien harus cukup tidur, karena tidur yang berkualitas itu mempercepat penyembuhan dan mengembalikan fungsi otak ke arah yang lebih baik, dan yang kedua olahraga teratur guna memperbaiki fungsi paru, jantung, dan otak.
Selain itu, pasien juga disarankan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang cukup guna memenuhi kebutuhan nutrisi otak. ”Juga hindari merokok, alkohol, serta hal lain yang berpotensi menimbulkan reaksi peradangan di otak,” sambung Badrus.
Secara klinis, Alumnus Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) itu menjelaskan bagaimana SARS-Cov-2 bisa menyerang organ otak. Dia menyebut, infeksi itu dimungkinkan terjadi sebab reseptor virus yang disebut ACE-2 reseptor juga terdapat di sel otak dan saraf. Dengan demikian, virus bisa menempel dan merusak jaringan yang ada di otak. ”Caranya bisa lewat peredaran darah (dari paru ke otak) atau juga menyebar lewat serat saraf yang menempel di ujung saraf tepi (bergerak ke atas dan masuk ke otak),” imbuhnya.
Imbasnya, muncul respon berupa inflamasi atau radang yang sering disebut dengan badai sitokin. Sitokin sendiri merupakan protein yang berperan sebagai pelindung tubuh ketika terdeteksi ada agen penyakit yang masuk. Pada pasien yang terinveksi korona, jumlah sitokin yang diproduksi oleh tubuh terlalu banyak dan tidak terkontrol sehingga menyebabkan kekacauan seperti badai. Dampaknya yakni kelainan di otak dan saraf manusia.
Lantas seberapa besarkah potensi hal tersebut? ”Dari semua pasien covid ada 20 persen sampai 25 persen yang bermanifestasi di otak dan saraf manusia,” jelas Konsultan Kolegium Neurologi. Badrus menambahkan, manifestasi virus Covid-19 di otak terbagi menjadi dua bagian, yakni yang melibatkan saraf pusat dan saraf tepi.
Pada kasus manifestasi yang terjadi di saraf pusat, pasien biasa mengalami gejala sakit kepala. ”Hampir 82 persen penderita Covid-19 mengalami sakit kepala, ada yang seperti sakit kepala ketika flu, namun ada juga yang mirip dengan sakit kepala migrant dan bahkan ada juga yang mengalami gejala awal radang otak yakni sakit kepala hebat yang disertai pingsan atau kejang,” beber Badrus.
Gejala lain yang juga sering muncul yakni gangguan keseimbangan, penurunan kesadaran, sroke, kejang, dan radang selaput otak. ”Yang menarik orang yang sembuh dari koma dan pulang ke rumah itu sepertiga di antaranya masih ada gejala sisa berubah gangguan mental seperti sulit melakukan sesuatu, gangguan komunikasi dan lainnya,” terang pria yang tengah menempuh program doktoral itu.
Selanjutnya, pada kasus manifestasi virus yang terdampak pada saraf tepi yakni pasien mengalami gangguan pembauan. Kondisi ini biasanya akan menghilang dalam waktu 2 sampai tiga minggu pascainfeksi. Dampak lain yang paling signifikan yakni kelemahan atau lumpuh pada organ tangan dan kaki. Selain dapat melemahkan otot tubuh, penyakit ini juga dapat melemahkan otot tubuh dan bahkan otot nafas yang memaksa pasien harus menggunakan ventilator atau alat bantu nafas. ”Yang pasti, keterlibatan saraf dalam Covid-19 menandakan derajat infeksi yang berat dan meningkatkan angka kematian juga kecacatan serta bisa menimbulkan long covid. (iik)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/