alexametrics
25.6 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Heran Kotoran Anjingnya Tak Bau, Perempuan Ini Baru Nyadar Kena Covid

RADAR MALANG – Christine Nunn, seorang perempuan di Amerika Serikat mengetahui ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi tubuhnya. Hal itu bermula saat hidungnya tak mencium aroma kotoran anjing peliharaannya. Dia kemudian sadar untuk memeriksakan diri dan ternyata telah terinfeksi Covid-19.

Kejadian bermula saat dia mengajak anjing peliharaannya jalan-jalan. Dia berdiri di trotoar dengan anjingnya. Kemudian dia heran karena kotoran anjing peliharaannya tidak berbau. “Saya berusaha keras untuk menciumnya, tetapi tidak tercium apa-apa,” kata Nunn dari Fair Lawn seperti dilansir dari North Jersey, Rabu (16/6).

Nunn lantas tersadar ingat hilang penciuman menjadi salah satu indikasi terpapar Covid-19. Dia pun berlari pulang dan mengambil biji kopi yang dia simpan di lemari esnya. Setelah menghirupnya dalam-dalam, lagi dan lagi di tak merasakan baunya.

Dia juga sempat lari ke kamar mandi dan mencoba menghirup aroma Vicks VapoRub, salep penekan batuk topikal yang bau mentolnya kuat. Tetap saja hasilnya sama. “Nol, tak ada aroma apa-apa,” kata Nunn yang merupakan koki eksekutif Esty Street di Park Ridge.

Jutaan orang di seluruh dunia telah kehilangan kemampuan untuk mencium aroma atau merasakan setelah tertular Covid-19. Dan sementara sekitar 80 persen akhirnya sembuh, sisanya belum sepenuhnya pulih, atau sama sekali.

“Kami tidak tahu mengapa beberapa indra penciuman dan pengecap mereka kembali dan beberapa tidak,” kata Ketua Departemen Penyakit Dalam di Pusat Medis Universitas Hackensack, Laurie Jacobs, MD.

Ketua pendiri dan profesor Departemen Neurologi di Hackensack University Medical Center Florian P. Thomas, MD, mengatakan bau dan rasa sangat penting untuk menikmati makanan kita. Kehilangan indra perasa atau penciuman dikaitkan dengan penurunan berat badan dan depresi. “Itu hal yang buruk dan berbahaya. Itu juga bisa menjadi hal yang bikin stres,” katanya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara hilangnya penciuman (istilah medisnya adalah anosmia) dan bunuh diri. Sebuah studi baru-baru ini oleh dokter telinga, hidung dan tenggorokan di Korea Selatan menemukan bahwa orang dengan kehilangan penciuman yang berkurang atau anosmia total memiliki peningkatan risiko depresi dan bunuh diri. Selain itu, para peneliti dari Universitas Stockholm menemukan bahwa orang yang kehilangan penciuman total memiliki peluang 19 persen untuk meninggal lebih awal.

“Ini penting untuk kelangsungan hidup kita,” kata Dr. Thomas. “Jika hewan atau manusia zaman batu tidak merasakan atau mencium, mereka akan menelan racun atau makanan busuk. Mereka tidak akan selamat,” jelasnya.

Sumber: JawaPos.Com

RADAR MALANG – Christine Nunn, seorang perempuan di Amerika Serikat mengetahui ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi tubuhnya. Hal itu bermula saat hidungnya tak mencium aroma kotoran anjing peliharaannya. Dia kemudian sadar untuk memeriksakan diri dan ternyata telah terinfeksi Covid-19.

Kejadian bermula saat dia mengajak anjing peliharaannya jalan-jalan. Dia berdiri di trotoar dengan anjingnya. Kemudian dia heran karena kotoran anjing peliharaannya tidak berbau. “Saya berusaha keras untuk menciumnya, tetapi tidak tercium apa-apa,” kata Nunn dari Fair Lawn seperti dilansir dari North Jersey, Rabu (16/6).

Nunn lantas tersadar ingat hilang penciuman menjadi salah satu indikasi terpapar Covid-19. Dia pun berlari pulang dan mengambil biji kopi yang dia simpan di lemari esnya. Setelah menghirupnya dalam-dalam, lagi dan lagi di tak merasakan baunya.

Dia juga sempat lari ke kamar mandi dan mencoba menghirup aroma Vicks VapoRub, salep penekan batuk topikal yang bau mentolnya kuat. Tetap saja hasilnya sama. “Nol, tak ada aroma apa-apa,” kata Nunn yang merupakan koki eksekutif Esty Street di Park Ridge.

Jutaan orang di seluruh dunia telah kehilangan kemampuan untuk mencium aroma atau merasakan setelah tertular Covid-19. Dan sementara sekitar 80 persen akhirnya sembuh, sisanya belum sepenuhnya pulih, atau sama sekali.

“Kami tidak tahu mengapa beberapa indra penciuman dan pengecap mereka kembali dan beberapa tidak,” kata Ketua Departemen Penyakit Dalam di Pusat Medis Universitas Hackensack, Laurie Jacobs, MD.

Ketua pendiri dan profesor Departemen Neurologi di Hackensack University Medical Center Florian P. Thomas, MD, mengatakan bau dan rasa sangat penting untuk menikmati makanan kita. Kehilangan indra perasa atau penciuman dikaitkan dengan penurunan berat badan dan depresi. “Itu hal yang buruk dan berbahaya. Itu juga bisa menjadi hal yang bikin stres,” katanya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara hilangnya penciuman (istilah medisnya adalah anosmia) dan bunuh diri. Sebuah studi baru-baru ini oleh dokter telinga, hidung dan tenggorokan di Korea Selatan menemukan bahwa orang dengan kehilangan penciuman yang berkurang atau anosmia total memiliki peningkatan risiko depresi dan bunuh diri. Selain itu, para peneliti dari Universitas Stockholm menemukan bahwa orang yang kehilangan penciuman total memiliki peluang 19 persen untuk meninggal lebih awal.

“Ini penting untuk kelangsungan hidup kita,” kata Dr. Thomas. “Jika hewan atau manusia zaman batu tidak merasakan atau mencium, mereka akan menelan racun atau makanan busuk. Mereka tidak akan selamat,” jelasnya.

Sumber: JawaPos.Com

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/