Sanggar Panji Asmoro Bangun Pakisaji, Malang

MALANG – Topeng Malangan menjadi salah satu warisan budaya di Malang. Saat ini daerah yang memiliki perajin topeng Malangan adalah di Padepokan Asmoro Bangun, Dukuh Kedung Monggo, Desa Karang Pandan, Pakisaji, Kabupaten Malang.

Disanggar milik Tri Handoyo, 40, yang sudah dijalankan secara turun temurun ini memiliki beberapa pengrajin topeng. “Kalau di zaman dulu mungkin topeng hanya sebagai sarana hiburan saja, tapi sekarang topeng juga bisa dijual dan dijadikan buah tangan khas,” papar Handoyo.

Padepokan Seni Topeng Malangan miliknya ini mungkin jadi satu-satunya yang masih dijalankan oleh satu garis darah, dimana Handoyo sendiri merupakan cucu dari Mbah Karimun, sosok yang merintis tempat yang kini jadi tempat pusat kerajinan tari dan wayang topeng Asmoro Bangun di wilayah Kabupaten Malang ini.

Saat penulis berkunjung ada Bayu, salah satu pengukir topeng yang merupakan Keponakan Handoyo nampak serius mengukir topeng. Dalam kesempatan itu ia memberikan tips empat jenis berbeda Topeng Malangan agar pembeli tak keliru memilih.

Perlu diketahui, topeng pertama kali dibagi ke dalam dua bagian, laki-laki dan perempuan. “Untuk laki-laki biasanya ada kumisnya, dan kelihatan sedikit giginya, untuk perempuan hanya sekadar mesem (tersenyum),” papar sambil mencontohkan perbedaannya.

Kemudian Topeng dibagi ke dalam empat kategori, yang kedua yaitu dalam tokoh antagonis dan protagonis. Untuk tokoh antagonis atau lelakon baik, topeng biasanya di model layaknya orang baik di kehidupan nyata.

“Biasanya tersenyum, matanya menyipit kecil dan memakai warna terang seperti putih, kuning,” tambah dia. Sedangkan antagonis atau karakter jahat biasanya memakai warna merah atau ungu, dengan struktur mata bulat dan kadang bertaring. Tokoh antagonis termasuk buto dan sebangsanya.

Lalu ada kategori Abdi atau tokoh lucu. “Kalau Abdi ini biasanya dibuat jelek, kadang giginya maju, kadang ada tompelnya, dan arah matanya juga lebih fleksibel, pokoknya seperti tokoh orang desa,” papar Bayu.

Yang terakhir, yaitu tokoh hewan, di padepokan ini sendiri, tokoh hewan atau binatang dibuat seperti laler ijo atau lalat hijau, celeng atau babi hutan, naga taun, bader bang, hingga bedes atau kera.

“Untuk tokoh hewan masih menyerupai manusia, namun di bagian tertentu dibuat binatang sepeti babi ya hidungnya dibikin mirip babi, kalau lalat hijau ya jadi diwarnai hijau,” tutupnya.

Handoyo menambahkan, topeng di sanggar miliknya ini semua dijual. “Dijual mulai harga Rp 15 ribu sampai Rp 1 juta,” tukasnya.

Pewarta: Elfran Vido
Penyunting : Kholid Amrullah
Foto: Elfran Vido