alexametrics
29C
Malang
Thursday, 15 April 2021

Marak, Kaplingan Hutan Amazon Dijual di Facebook

RADAR MALANG – Lahan hutan hujan Amazon seluas seribu kali lapangan sepak bola ditengarai dijual dan dipasarkan secara ilegal melalui Facebook oleh oknum tak bertanggung jawab. Mengutip dari BBC, Minggu, (28/2), praktik ilegal tersebut diketahui dari temuan aktivis lingkungan dan tim BBC dari iklan jual beli kaplingan lahan hutan Amazon di Facebook. Dalam penelusurannya, penjual menggunakan kata kunci pencarian seperti ‘forest’, ‘native jugle’, dan ‘timber’ dalam bahasa Portugis.

Diketahui, kegiatan ilegal itu dipicu oleh industri peternakan sapi di Brazil. Dalam praktiknya, para oknum memakai trik menggunduli hutan lebih dulu dan mengklaim hutan kondisi itu telah kehilangan fungsi utamanya sehingga hutan tersebut dapat dijual ke swasta.

Hal ini pun didukung oleh investigasi yang dilakukan tim BBC pada salah satu oknum penjual, Fabricio Guimarães. Dalam keterangan wawancara, ia mengungkapkan bahwa dirinya tak terlalu khawatir akan risiko inspeksi aparat pemerintah di kawasan hutan Amazon. “Tidak ada risiko inspeksi oleh aparat pemerintah di sini,” ungkapnya.

Terkait harga lahan yang dijual, ia sempat menyebut harga USD 35 ribu atau sekitar Rp 501 juta untuk tanah yang telah digunduli dan siap pakai. Jumlah itu tiga kali lipat dari harga awal yang tertera di situs Facebook.

Menanggapi praktik ilegal tersebut, Facebook mengungkapkan pihaknya siap bekerja dengan otoritas setempat untuk menyelesaikan masalah ini. “Kebijakan perdagangan kami mengharuskan pembeli dan penjual untuk mematuhi hukum dan peraturan,” jelas Facebook dari rilis yang dibuat untuk menanggapi adanya iklan juali beli hutan Amazon.

Namun, perusahaan yang berbasis di California itu terlihat tak menjadikan praktik ini sebagai hal yang serius. Bahkan, hingga kasus ini diselidiki belum ada perkembangan lebih lanjut mengenai temuan tersebut.

Di sisi lain, pemimpin salah satu komunitas adat yang terkena dampak turut mendesak perusahaan teknologi itu untuk bertindak lebih banyak. Sementara itu, menurut salah satu juru kampanye dari LSM lingkungan Ivaneide Bandeira mengklaim pemerintah Brasil tidak bersedia menghentikan penjualan. “Penjajah tanah merasa sangat diberdayakan sampai-sampai mereka tidak malu menggunakan Facebook untuk membuat kesepakatan tanah ilegal,” ungkapnya.

Penulis: Gilang Ilham

RADAR MALANG – Lahan hutan hujan Amazon seluas seribu kali lapangan sepak bola ditengarai dijual dan dipasarkan secara ilegal melalui Facebook oleh oknum tak bertanggung jawab. Mengutip dari BBC, Minggu, (28/2), praktik ilegal tersebut diketahui dari temuan aktivis lingkungan dan tim BBC dari iklan jual beli kaplingan lahan hutan Amazon di Facebook. Dalam penelusurannya, penjual menggunakan kata kunci pencarian seperti ‘forest’, ‘native jugle’, dan ‘timber’ dalam bahasa Portugis.

Diketahui, kegiatan ilegal itu dipicu oleh industri peternakan sapi di Brazil. Dalam praktiknya, para oknum memakai trik menggunduli hutan lebih dulu dan mengklaim hutan kondisi itu telah kehilangan fungsi utamanya sehingga hutan tersebut dapat dijual ke swasta.

Hal ini pun didukung oleh investigasi yang dilakukan tim BBC pada salah satu oknum penjual, Fabricio Guimarães. Dalam keterangan wawancara, ia mengungkapkan bahwa dirinya tak terlalu khawatir akan risiko inspeksi aparat pemerintah di kawasan hutan Amazon. “Tidak ada risiko inspeksi oleh aparat pemerintah di sini,” ungkapnya.

Terkait harga lahan yang dijual, ia sempat menyebut harga USD 35 ribu atau sekitar Rp 501 juta untuk tanah yang telah digunduli dan siap pakai. Jumlah itu tiga kali lipat dari harga awal yang tertera di situs Facebook.

Menanggapi praktik ilegal tersebut, Facebook mengungkapkan pihaknya siap bekerja dengan otoritas setempat untuk menyelesaikan masalah ini. “Kebijakan perdagangan kami mengharuskan pembeli dan penjual untuk mematuhi hukum dan peraturan,” jelas Facebook dari rilis yang dibuat untuk menanggapi adanya iklan juali beli hutan Amazon.

Namun, perusahaan yang berbasis di California itu terlihat tak menjadikan praktik ini sebagai hal yang serius. Bahkan, hingga kasus ini diselidiki belum ada perkembangan lebih lanjut mengenai temuan tersebut.

Di sisi lain, pemimpin salah satu komunitas adat yang terkena dampak turut mendesak perusahaan teknologi itu untuk bertindak lebih banyak. Sementara itu, menurut salah satu juru kampanye dari LSM lingkungan Ivaneide Bandeira mengklaim pemerintah Brasil tidak bersedia menghentikan penjualan. “Penjajah tanah merasa sangat diberdayakan sampai-sampai mereka tidak malu menggunakan Facebook untuk membuat kesepakatan tanah ilegal,” ungkapnya.

Penulis: Gilang Ilham

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru