alexametrics
27.1 C
Malang
Sunday, 29 May 2022

Biarawati Berlutut di Depan Polisi di Protes Anti-Kudeta di Myanmar

RADAR MALANG – Seorang biarawati di Myanmar dengan berani menghadapi polisi bersenjata seraya berlutut memohon kepada mereka untuk menghentikan kekerasan pada hari di mana dua pengunjuk rasa tewas pada Senin (8/3).

Suster Ann Roza yang mengenakan jubah putih dan pakaian hitam berlutut di depan petugas junta bersenjata di MyitkyinaMyitkyina menurut Daily Mail UK pada Selasa (9/3).

Suster Ann Roza sebelumnya berkata kkepada polisi pada 28 Februari dia siap mati untuk menggantikan pengunjuk rasa.

Biarawati itu kembali menghadapi petugas pada hari Senin beberapa saat sebelum mereka menembaki pengunjuk rasa.

Suster Roza bahkan mengatakan kepada junta “jika kamu ingin melakukan ini, kamu harus datang melewati saya.”

Suster Roza mengatakan, sekitar pukul 12 siang pasukan keamanan akan segera menindak. “Jadi sekali lagi saya memohon kepada mereka, saya berlutut di depan mereka dan saya memohon untuk tidak menembak dan tidak menangkap orang-orang,” katanya.

Polisi juga berlutut dan mereka mengatakan kepada Suster Roza bahwa mereka harus melakukannya untuk menghentikan protes.

“Setelah itu, gas air mata dilepaskan dan saya berjuang untuk bernapas, kemudian saya melihat orang yang jatuh di jalan dan [dia telah ditembak].”

Biarawati itu mengatakan dia tidak bisa melihat siapa yang menembak para pengunjuk rasa karena ia terkena gas air mata, tetapi ia berharap bukan petugas yang dia ajak bicara.

Pemerintah militer melanjutkan upayanya untuk membasmi setiap penentangan terhadap kudeta 1 Februari.

Sebuah video di media sosial menunjukkan pengunjuk rasa di jalan mundur akibat gas air mata, lalu mereka merespons dengan melempari batu, kemudian melarikan diri setelah petugas melepaskan rentetan tembakan.

Para pengunjuk rasa buru-buru membawa sejumlah orang yang terluka, termasuk satu orang yang tampaknya meninggal dunia dan seseorang yang menderita luka di kepala yang parah.

Sampai saat ini, tindakan keras pemerintah telah menewaskan lebih dari 50 pengunjuk rasa. Setidaknya 18 orang ditembak mati pada Minggu pekan lalu dan 38 pada Rabu, menurut Kantor Hak Asasi Manusia PBB.

Pasukan keamanan juga menekan pengunjuk rasa anti-kudeta di tempat lain pada Senin, menembakkan gas air mata untuk membubarkan sekitar 1.000 orang yang berdemonstrasi di ibu kota, Naypyitaw.

Para pengunjuk rasa mengerahkan alat pemadam kebakaran untuk membuat asap saat mereka melarikan diri dari pihak berwenang.

Ribuan pengunjuk rasa yang berbaris di Mandalay, kota terbesar kedua di negara itu, membubarkan diri di tengah kekhawatiran bahwa tentara dan polisi berencana menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstrasi mereka.

Sementara itu, angkatan bersenjata dari salah satu kelompok etnis Myanmar dikerahkan untuk melindungi demonstran anti-kudeta setelah penumpasan brutal yang dilakukan junta.

Penulis: Talitha Azmi F.

RADAR MALANG – Seorang biarawati di Myanmar dengan berani menghadapi polisi bersenjata seraya berlutut memohon kepada mereka untuk menghentikan kekerasan pada hari di mana dua pengunjuk rasa tewas pada Senin (8/3).

Suster Ann Roza yang mengenakan jubah putih dan pakaian hitam berlutut di depan petugas junta bersenjata di MyitkyinaMyitkyina menurut Daily Mail UK pada Selasa (9/3).

Suster Ann Roza sebelumnya berkata kkepada polisi pada 28 Februari dia siap mati untuk menggantikan pengunjuk rasa.

Biarawati itu kembali menghadapi petugas pada hari Senin beberapa saat sebelum mereka menembaki pengunjuk rasa.

Suster Roza bahkan mengatakan kepada junta “jika kamu ingin melakukan ini, kamu harus datang melewati saya.”

Suster Roza mengatakan, sekitar pukul 12 siang pasukan keamanan akan segera menindak. “Jadi sekali lagi saya memohon kepada mereka, saya berlutut di depan mereka dan saya memohon untuk tidak menembak dan tidak menangkap orang-orang,” katanya.

Polisi juga berlutut dan mereka mengatakan kepada Suster Roza bahwa mereka harus melakukannya untuk menghentikan protes.

“Setelah itu, gas air mata dilepaskan dan saya berjuang untuk bernapas, kemudian saya melihat orang yang jatuh di jalan dan [dia telah ditembak].”

Biarawati itu mengatakan dia tidak bisa melihat siapa yang menembak para pengunjuk rasa karena ia terkena gas air mata, tetapi ia berharap bukan petugas yang dia ajak bicara.

Pemerintah militer melanjutkan upayanya untuk membasmi setiap penentangan terhadap kudeta 1 Februari.

Sebuah video di media sosial menunjukkan pengunjuk rasa di jalan mundur akibat gas air mata, lalu mereka merespons dengan melempari batu, kemudian melarikan diri setelah petugas melepaskan rentetan tembakan.

Para pengunjuk rasa buru-buru membawa sejumlah orang yang terluka, termasuk satu orang yang tampaknya meninggal dunia dan seseorang yang menderita luka di kepala yang parah.

Sampai saat ini, tindakan keras pemerintah telah menewaskan lebih dari 50 pengunjuk rasa. Setidaknya 18 orang ditembak mati pada Minggu pekan lalu dan 38 pada Rabu, menurut Kantor Hak Asasi Manusia PBB.

Pasukan keamanan juga menekan pengunjuk rasa anti-kudeta di tempat lain pada Senin, menembakkan gas air mata untuk membubarkan sekitar 1.000 orang yang berdemonstrasi di ibu kota, Naypyitaw.

Para pengunjuk rasa mengerahkan alat pemadam kebakaran untuk membuat asap saat mereka melarikan diri dari pihak berwenang.

Ribuan pengunjuk rasa yang berbaris di Mandalay, kota terbesar kedua di negara itu, membubarkan diri di tengah kekhawatiran bahwa tentara dan polisi berencana menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstrasi mereka.

Sementara itu, angkatan bersenjata dari salah satu kelompok etnis Myanmar dikerahkan untuk melindungi demonstran anti-kudeta setelah penumpasan brutal yang dilakukan junta.

Penulis: Talitha Azmi F.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/