alexametrics
22 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Seniman Irlandia Edit Foto Korban Khmer Merah, Warga Kamboja Murka

RADARMALANG – Sejumlah warga kamboja yang kehilangan anggota keluarga akibat kekejaman rezim Khmer Merah ramai-ramai mengecam seniman Irlandia, Matt loughrey, karena memodifikasi foto para korban.

Loughrey mengubah foto para korban pembantaian Khmer merah dengan membuat korban seolah-olah tersenyum melalui teknik rekayasa digital. Loughrey juga memberi warna pada foto hitam putih para korban kekejaman Khmer merah sebagian dari proyek pribadi. Dia juga mengeklaim menambahkan senyuman pada beberapa foto korban dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat.

Melansir dari BBC News, Selasa(13/4) Nong chan phal, seorang mantan tahanan penjara S-21 yang kehilangan orang tuanya di penjara menyebut proyek Loughrey sebagai bentuk penghinaan terhadap para korban kekejaman Khmer Merah.

“Saya mengecam keras gambar-gambar berwarna ini karena semua korban di S-21 tidak pernah bahagia,” kata Nong chan phal (52) kepada AFP.

“Kami para korban yang masuk S-21 tidak sempat tersenyum, saya tidak pernah mendukung perubahan apapun pada gambar, kami menderita,” lanjut Phal.

Pilihan gambar dan wawacara dengan Loughrey dipublikasikan di situs Vice selama akhir pekan lalu. Laporan itu menuai banyak kritik dari berbagai kalangan masyarakat Kamboja maupun di media sosial.

“Saya sedang berbicara dengan museum mengenai pembuatan foto-foto ini yang dapat diakses oleh semua orang,” kata Loughrey dalam wawancara dengan Vice.

Kementerian Kebudayaan dan Kesenian Kamboja menganggap manipulasi foto korban kekejaman Khmer Merah yang dibuat Loughrey mempengaruhi martabat para korban serta realitas sejarah negara itu.

Proyek seni Loughrey juga disebut melanggar hak-hak Museum Genosida Tuol Sleng sebagai pemilik dan pemelihara sah gambar-gambar itu. Secara langsung kementerian meminta Loughrey dan Vice menghapus foto-foto itu

“Kementrian akan mempertimbangkan untuk mengambil tindakan hukum baik nasional atau internasional. Jika Matt Loughley tidak memenuhi permintaan di atas,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Hun Many, seorang parlemen Kamboja dan putra bungsu Presiden Hun Sen mengatakan dia terkejut melihat gambar-gambar korban khmer merah yang direkayasa oleh Loughrey.

“Ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang tersebut terutama orang asing, tidak memahami tragedi menyakitkan bangsa Kamboja dan khususnya para korban yang mengalami penyiksaan dan pembunuhan di penjara Tuol Sleng,” tulis Hun Many di laman Facebooknya.

Salah satu korban Khmer Merah yang fotonya diedit. kiri adalah foto asli, sedangkan kanan adalah foto yang diedit seniman Irlandia yang diberi senyum dan warna pada foto (ist)

Akibat banjir kritikan dari berbagai kalangan, Vice memutuskan untuk mencabut artikel itu dari halaman mereka pada Minggu,(11/4)

Rezim Khmer Merah mengambil foto ribuan korban pembantaian termasuk mereka yang dikirim ke tempat interogasi sekaligus penyiksaan di Tuol Sleng atau S-12. Bangunan itu pada mulanya difungsikan sebagai sekolah menengah di Phnom Penh lalu diubah menjadi penjara oleh Khmer merah.

Rezim Khmer Merah atau Partai Komunis Kamboja dipimpin oleh Pol pot, Nuon Chea, Ieng Sary, Son Send an Khieu Samphan dari 1975 hingga 1979. Pada mulanya, mereka melawan kekuasaan Raja Norodom Sihanouk, tetapi kemudian malah bersekutu untuk menghadapi pemerintah Republik Kamboja yang pro-Amerika Serikat.

Mereka menang dalam perang sipil dan mengambil alih kepemimpinan negara itu. Di masa pemerintahan khmer merah, diketahui sekitar dua juta warga Kamboja tewas karena kelaparan, kerja paksa, penyiksaan dan eksekusi massal.

Diperkirakan 15.000 orang telah diinterogasi dan disiksa sebelum dihukum mati di ladang pembantaian.

Penulis: Mega Annisa N

RADARMALANG – Sejumlah warga kamboja yang kehilangan anggota keluarga akibat kekejaman rezim Khmer Merah ramai-ramai mengecam seniman Irlandia, Matt loughrey, karena memodifikasi foto para korban.

Loughrey mengubah foto para korban pembantaian Khmer merah dengan membuat korban seolah-olah tersenyum melalui teknik rekayasa digital. Loughrey juga memberi warna pada foto hitam putih para korban kekejaman Khmer merah sebagian dari proyek pribadi. Dia juga mengeklaim menambahkan senyuman pada beberapa foto korban dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat.

Melansir dari BBC News, Selasa(13/4) Nong chan phal, seorang mantan tahanan penjara S-21 yang kehilangan orang tuanya di penjara menyebut proyek Loughrey sebagai bentuk penghinaan terhadap para korban kekejaman Khmer Merah.

“Saya mengecam keras gambar-gambar berwarna ini karena semua korban di S-21 tidak pernah bahagia,” kata Nong chan phal (52) kepada AFP.

“Kami para korban yang masuk S-21 tidak sempat tersenyum, saya tidak pernah mendukung perubahan apapun pada gambar, kami menderita,” lanjut Phal.

Pilihan gambar dan wawacara dengan Loughrey dipublikasikan di situs Vice selama akhir pekan lalu. Laporan itu menuai banyak kritik dari berbagai kalangan masyarakat Kamboja maupun di media sosial.

“Saya sedang berbicara dengan museum mengenai pembuatan foto-foto ini yang dapat diakses oleh semua orang,” kata Loughrey dalam wawancara dengan Vice.

Kementerian Kebudayaan dan Kesenian Kamboja menganggap manipulasi foto korban kekejaman Khmer Merah yang dibuat Loughrey mempengaruhi martabat para korban serta realitas sejarah negara itu.

Proyek seni Loughrey juga disebut melanggar hak-hak Museum Genosida Tuol Sleng sebagai pemilik dan pemelihara sah gambar-gambar itu. Secara langsung kementerian meminta Loughrey dan Vice menghapus foto-foto itu

“Kementrian akan mempertimbangkan untuk mengambil tindakan hukum baik nasional atau internasional. Jika Matt Loughley tidak memenuhi permintaan di atas,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Hun Many, seorang parlemen Kamboja dan putra bungsu Presiden Hun Sen mengatakan dia terkejut melihat gambar-gambar korban khmer merah yang direkayasa oleh Loughrey.

“Ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang tersebut terutama orang asing, tidak memahami tragedi menyakitkan bangsa Kamboja dan khususnya para korban yang mengalami penyiksaan dan pembunuhan di penjara Tuol Sleng,” tulis Hun Many di laman Facebooknya.

Salah satu korban Khmer Merah yang fotonya diedit. kiri adalah foto asli, sedangkan kanan adalah foto yang diedit seniman Irlandia yang diberi senyum dan warna pada foto (ist)

Akibat banjir kritikan dari berbagai kalangan, Vice memutuskan untuk mencabut artikel itu dari halaman mereka pada Minggu,(11/4)

Rezim Khmer Merah mengambil foto ribuan korban pembantaian termasuk mereka yang dikirim ke tempat interogasi sekaligus penyiksaan di Tuol Sleng atau S-12. Bangunan itu pada mulanya difungsikan sebagai sekolah menengah di Phnom Penh lalu diubah menjadi penjara oleh Khmer merah.

Rezim Khmer Merah atau Partai Komunis Kamboja dipimpin oleh Pol pot, Nuon Chea, Ieng Sary, Son Send an Khieu Samphan dari 1975 hingga 1979. Pada mulanya, mereka melawan kekuasaan Raja Norodom Sihanouk, tetapi kemudian malah bersekutu untuk menghadapi pemerintah Republik Kamboja yang pro-Amerika Serikat.

Mereka menang dalam perang sipil dan mengambil alih kepemimpinan negara itu. Di masa pemerintahan khmer merah, diketahui sekitar dua juta warga Kamboja tewas karena kelaparan, kerja paksa, penyiksaan dan eksekusi massal.

Diperkirakan 15.000 orang telah diinterogasi dan disiksa sebelum dihukum mati di ladang pembantaian.

Penulis: Mega Annisa N

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/