alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Bakar Pabrik Milik China, Puluhan Pendemo Anti-Kudeta Myanmar Tewas

RADAR MALANG – Korban tewas dalam aksi protes Anti-Kudeta Myanmar terus berjatuhan. Sedikitnya 22 pengunjuk rasa anti-kudeta di pinggiran kota industri Hlaingthaya di Myanmar dilaporkan tewas Minggu (14/3). Menyusul peristiwa pabrik-pabrik yang diduga didanai China dibakar di sana.

Selain itu, sebanyak 16 pengunjuk rasa lainnya juga meregang nyawa di tempat lain seperti dilaporkan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP). Kejadian tersebut menjadikannya hari paling berdarah sejak kudeta 1 Februari terhadap pemimpin terpilih Aung San Suu KyiKyi seperti dilansir France 24 Senin (15/3).

Kedutaan Besar China mengatakan, banyak staf China terluka dan terperangkap dalam serangan pembakaran oleh penyerang tak dikenal di pabrik garmen di Hlaingthaya. Mereka telah meminta Myanmar untuk melindungi properti dan warga China. Hal itu karena China dipandang mendukung junta militer yang telah mengambil alih kekuasaan.

”Ketika asap membubung dari kawasan industri, pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa di pinggiran kota yang merupakan rumah bagi para migran dari seluruh negeri,” tulis media lokal Myanmar.

Kebijakan darurat militer langsung diberlakukan di Hlaingthaya dan distrik lain di Yangon, pusat komersial Myanmar dan bekas ibu kota.
Televisi Myawadday yang dikelola tentara mengatakan pasukan keamanan bertindak setelah empat pabrik garmen dan pabrik pupuk dibakar. Namun juru bicara junta menolak untuk dimintai komentar.

Dokter Sasa, perwakilan anggota parlemen terpilih dari majelis yang digulingkan oleh tentara, menyuarakan solidaritas dengan rakyat Hlaingthaya. “Pelaku, penyerang, musuh rakyat Myanmar, SAC (Dewan Administrasi Negara) yang jahat akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap tetes darah yang tertumpah,” katanya dalam sebuah pesan.

Kedutaan Besar China menggambarkan situasi di Myanmar dengan kata “sangat parah” setelah serangan terhadap pabrik-pabrik yang didanai China. Belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas insiden pembakaran pabrik.

Sementara itu, halaman Facebook Kedutaan China dibombardir dengan komentar negatif dalam bahasa Myanmar. Sentimen anti-China telah meningkat sejak kudeta yang menjerumuskan Myanmar ke dalam kekacauan.

Penulis: Talitha Azmi F.

RADAR MALANG – Korban tewas dalam aksi protes Anti-Kudeta Myanmar terus berjatuhan. Sedikitnya 22 pengunjuk rasa anti-kudeta di pinggiran kota industri Hlaingthaya di Myanmar dilaporkan tewas Minggu (14/3). Menyusul peristiwa pabrik-pabrik yang diduga didanai China dibakar di sana.

Selain itu, sebanyak 16 pengunjuk rasa lainnya juga meregang nyawa di tempat lain seperti dilaporkan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP). Kejadian tersebut menjadikannya hari paling berdarah sejak kudeta 1 Februari terhadap pemimpin terpilih Aung San Suu KyiKyi seperti dilansir France 24 Senin (15/3).

Kedutaan Besar China mengatakan, banyak staf China terluka dan terperangkap dalam serangan pembakaran oleh penyerang tak dikenal di pabrik garmen di Hlaingthaya. Mereka telah meminta Myanmar untuk melindungi properti dan warga China. Hal itu karena China dipandang mendukung junta militer yang telah mengambil alih kekuasaan.

”Ketika asap membubung dari kawasan industri, pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa di pinggiran kota yang merupakan rumah bagi para migran dari seluruh negeri,” tulis media lokal Myanmar.

Kebijakan darurat militer langsung diberlakukan di Hlaingthaya dan distrik lain di Yangon, pusat komersial Myanmar dan bekas ibu kota.
Televisi Myawadday yang dikelola tentara mengatakan pasukan keamanan bertindak setelah empat pabrik garmen dan pabrik pupuk dibakar. Namun juru bicara junta menolak untuk dimintai komentar.

Dokter Sasa, perwakilan anggota parlemen terpilih dari majelis yang digulingkan oleh tentara, menyuarakan solidaritas dengan rakyat Hlaingthaya. “Pelaku, penyerang, musuh rakyat Myanmar, SAC (Dewan Administrasi Negara) yang jahat akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap tetes darah yang tertumpah,” katanya dalam sebuah pesan.

Kedutaan Besar China menggambarkan situasi di Myanmar dengan kata “sangat parah” setelah serangan terhadap pabrik-pabrik yang didanai China. Belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas insiden pembakaran pabrik.

Sementara itu, halaman Facebook Kedutaan China dibombardir dengan komentar negatif dalam bahasa Myanmar. Sentimen anti-China telah meningkat sejak kudeta yang menjerumuskan Myanmar ke dalam kekacauan.

Penulis: Talitha Azmi F.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/