alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Nilai Mata Uang Anjlok, Krisis Lebanon Makin Meluas

RADAR MALANG – Para pengunjuk rasa kembali ke jalan-jalan di ibu kota Lebanon pada Selasa (16/3), memblokir jalan dengan ban yang dibakar dan sampah. Protes itu terjadi dikarenakan mata uang Lebanon terus merosot ke posisi terendah sepanjang masa dan krisis keuangan negara kian memburuk.

Dilansir dari AP News pada Rabu (17/3), protes berlanjut setelah hari-hari tenang karena pound Lebanon yang terus merosot dan jatuh ke level terendah yaitu 15.000 terhadap dolar AS.

“Dimana orang-orang? Turunlah, kami lapar, kami muak!” teriak Ahmad Shuman, salah satu pengunjuk rasa.

Di bagian Beirut lainnya, sekelompok kecil pemuda dan beberapa pengendara skuter, melempari jendela toko dengan batu dan meminta mereka untuk menutup toko dalam upaya untuk memperluas kemarahan publik.

Dalam kepanikan, para pengendara antre di luar pom bensin karena khawatir harga akan naik. Polisi berkeliling ke beberapa pompa bensin di selatan Lebanon untuk memastikan tidak ada orang yang menimbun bahan bakar untuk mengantisipasi kenaikan harga.

Mata uang Lebanon telah kehilangan 90 persen nilainya sejak Oktober 2019, ketika protes anti-pemerintah meletus. Inflasi dan harga barang kebutuhan pokok telah meroket di Lebanon yang mengimpor lebih dari 80 persen barang pokok.

Politisi senior menolak bekerja sama untuk membentuk pemerintahan baru yang akan mengadakan reformasi yang diperlukan untuk mengeluarkan negara dari krisis.

Jatuhnya mata uang telah mendorong lebih dari setengah populasi ke dalam kemiskinan. Hal ini juga telah menguras cadangan devisa, meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral Lebanon tidak akan dapat mendanai subsidi beberapa komoditas dasar, termasuk bahan bakar dalam beberapa minggu mendatang.

Krisis ini menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas Lebanon sejak perang saudara 1975 – 1990. Menteri luar negeri Prancis memperingatkan menyalahkan pada pekan lalu bahwa Lebanon kehabisan waktu sebelum menuju kehancuran total, menyalahkan para pemimpin negara Lebanon yang menolak untuk bersatu membentuk pemerintahan baru.

Wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jalina Porter, berbicara pada hari Senin, AS prihatin tentang keadaan di Lebanon dan kelambanan dari tindakan para pemimpin negara dalam menghadapi berbagai krisis yang sedang berlangsung.

“Para pemimpin politik Lebanon perlu mengesampingkan keterkaitan partisan mereka dan membentuk pemerintahan yang akan segera menerapkan reformasi kritis dan yang telah lama dibutuhkan untuk memulihkan kepercayaan investor, dan menyelamatkan ekonomi negara,” katanya.

Penulis: Talitha Azmi F.

RADAR MALANG – Para pengunjuk rasa kembali ke jalan-jalan di ibu kota Lebanon pada Selasa (16/3), memblokir jalan dengan ban yang dibakar dan sampah. Protes itu terjadi dikarenakan mata uang Lebanon terus merosot ke posisi terendah sepanjang masa dan krisis keuangan negara kian memburuk.

Dilansir dari AP News pada Rabu (17/3), protes berlanjut setelah hari-hari tenang karena pound Lebanon yang terus merosot dan jatuh ke level terendah yaitu 15.000 terhadap dolar AS.

“Dimana orang-orang? Turunlah, kami lapar, kami muak!” teriak Ahmad Shuman, salah satu pengunjuk rasa.

Di bagian Beirut lainnya, sekelompok kecil pemuda dan beberapa pengendara skuter, melempari jendela toko dengan batu dan meminta mereka untuk menutup toko dalam upaya untuk memperluas kemarahan publik.

Dalam kepanikan, para pengendara antre di luar pom bensin karena khawatir harga akan naik. Polisi berkeliling ke beberapa pompa bensin di selatan Lebanon untuk memastikan tidak ada orang yang menimbun bahan bakar untuk mengantisipasi kenaikan harga.

Mata uang Lebanon telah kehilangan 90 persen nilainya sejak Oktober 2019, ketika protes anti-pemerintah meletus. Inflasi dan harga barang kebutuhan pokok telah meroket di Lebanon yang mengimpor lebih dari 80 persen barang pokok.

Politisi senior menolak bekerja sama untuk membentuk pemerintahan baru yang akan mengadakan reformasi yang diperlukan untuk mengeluarkan negara dari krisis.

Jatuhnya mata uang telah mendorong lebih dari setengah populasi ke dalam kemiskinan. Hal ini juga telah menguras cadangan devisa, meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral Lebanon tidak akan dapat mendanai subsidi beberapa komoditas dasar, termasuk bahan bakar dalam beberapa minggu mendatang.

Krisis ini menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas Lebanon sejak perang saudara 1975 – 1990. Menteri luar negeri Prancis memperingatkan menyalahkan pada pekan lalu bahwa Lebanon kehabisan waktu sebelum menuju kehancuran total, menyalahkan para pemimpin negara Lebanon yang menolak untuk bersatu membentuk pemerintahan baru.

Wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jalina Porter, berbicara pada hari Senin, AS prihatin tentang keadaan di Lebanon dan kelambanan dari tindakan para pemimpin negara dalam menghadapi berbagai krisis yang sedang berlangsung.

“Para pemimpin politik Lebanon perlu mengesampingkan keterkaitan partisan mereka dan membentuk pemerintahan yang akan segera menerapkan reformasi kritis dan yang telah lama dibutuhkan untuk memulihkan kepercayaan investor, dan menyelamatkan ekonomi negara,” katanya.

Penulis: Talitha Azmi F.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/