alexametrics
29.1 C
Malang
Thursday, 21 October 2021

Merasa Dikucilkan, Kaum Antivaksin Singapura Akhirnya Mau Divaksin

RADAR MALANG – Pemerintah Singapura berhasil mendorong masyarakat untuk bersedia divaksinasi. Untuk membuat warga sadar, pemerintah melarang mereka yang belum divaksinasi masuk ke fasilitas publik. Hanya mereka yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin Covid-19 yang diizinkan untuk masuk.

Tak pelak, sebagian warga yang masih belum divaksinasi merasa dikucilkan dan mereka protes. Mereka akhirnya bersedia untuk divaksinasi karena merasa tak nyaman dikucilkan. Mengutip Jawapos, Jumat (17/9), jumlah cakupan vaksinasi di Singapura melonjak hingga 81 persen. Restoran dibuka kembali untuk makan di tempat bagi mereka yang telah divaksinasi penuh. Pusat perbelanjaan dan bioskop diizinkan untuk memperluas kapasitas bagi mereka yang divaksinasi.

Kebijakan ini membuat warga yang tidak divaksinasi merasa dikucilkan. Salah satu warga, Ong, ragu-ragu untuk mendapatkan vaksin mRNA (Pfizer-BioNTech dan Moderna) dan menunda vaksinasi. Ia khawatir tentang potensi efek samping vaksinasi dan reaksi yang merugikan.

“Saya khawatir tentang miokarditis (radang otot jantung), yang merupakan salah satu potensi efek samping yang merugikan dari vaksin,” katanya.

Akan tetapi, ketika pemerintah mengumumkan langkah-langkah pembatasan baru untuk orang yang tidak divaksinasi, Ong merasa tertekan. Mau tak mau ia memesan untuk mendapatkan vaksinasi. “Saya merasa seperti orang buangan sosial,” katanya. “Jadi saya terpaksa memutuskan untuk mendapatkan vaksin sehingga saya bisa memiliki rasa kebebasan lagi,” ungkapnya.

RADAR MALANG – Pemerintah Singapura berhasil mendorong masyarakat untuk bersedia divaksinasi. Untuk membuat warga sadar, pemerintah melarang mereka yang belum divaksinasi masuk ke fasilitas publik. Hanya mereka yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin Covid-19 yang diizinkan untuk masuk.

Tak pelak, sebagian warga yang masih belum divaksinasi merasa dikucilkan dan mereka protes. Mereka akhirnya bersedia untuk divaksinasi karena merasa tak nyaman dikucilkan. Mengutip Jawapos, Jumat (17/9), jumlah cakupan vaksinasi di Singapura melonjak hingga 81 persen. Restoran dibuka kembali untuk makan di tempat bagi mereka yang telah divaksinasi penuh. Pusat perbelanjaan dan bioskop diizinkan untuk memperluas kapasitas bagi mereka yang divaksinasi.

Kebijakan ini membuat warga yang tidak divaksinasi merasa dikucilkan. Salah satu warga, Ong, ragu-ragu untuk mendapatkan vaksin mRNA (Pfizer-BioNTech dan Moderna) dan menunda vaksinasi. Ia khawatir tentang potensi efek samping vaksinasi dan reaksi yang merugikan.

“Saya khawatir tentang miokarditis (radang otot jantung), yang merupakan salah satu potensi efek samping yang merugikan dari vaksin,” katanya.

Akan tetapi, ketika pemerintah mengumumkan langkah-langkah pembatasan baru untuk orang yang tidak divaksinasi, Ong merasa tertekan. Mau tak mau ia memesan untuk mendapatkan vaksinasi. “Saya merasa seperti orang buangan sosial,” katanya. “Jadi saya terpaksa memutuskan untuk mendapatkan vaksin sehingga saya bisa memiliki rasa kebebasan lagi,” ungkapnya.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru