alexametrics
24.1 C
Malang
Thursday, 21 October 2021

Ratusan Pedagang Kena Covid-19, Chinatown Singapura Mirip Kota Mati

SINGAPURA – Para pedagang di Chinatown, Singapura kembali gigit jari. Dagangan mereka banyak yang tak laku karena sepinya pengunjung. Bahkan sebagian besar kios tetap memilih tutup pasca munculnya claster Covid-19. Kompleks yang menampung 700 kios itu ditutup mulai pukul 15.00 pada Minggu (12/9) hingga 23.59 sejak Rabu (15/9).

Awalnya ada 66 kasus Covid-19 di tempat tersebut. Klaster kemudian berkembang menjadi 242 kasus. Sebagian besar individu yang terinfeksi adalah pemilik kios dan asisten yang bekerja di tempat pusat wisata kuliner yang populer bagi para lansia kumpul-kumpul itu. Straits Times menyebut Chinatown seperti kota mati saat jam 10 pagi hingga sore hari. Hanya sekitar 10 dari 260 kedai makanan yang buka dan hampir tidak ada orang yang mampir untuk makan.

Orang-orang yang bekerja di beberapa kios yang buka mengatakan ada penurunan 80 hingga 90 persen dalam jumlah pejalan kaki. Di Knight’s Kitchen, sebuah kedai makanan India di sudut pusat makanan mengatakan bahwa dia hanya menjual delapan bungkus briyani antara pukul 8 pagi hingga 13.30 siang. Pada hari-hari biasa, dia bisa menjual sekitar 100 paket dalam waktu itu.

Pria berusia 56 tahun tersebut mengatakan khawatir karena harus membayar SGD 600 dolar untuk sewa kios bulan ini. Padahal, pengunjung takut datang.

“Orang-orang takut datang ke sini karena kasus Covid-19, tetapi saya membuka kios saya karena saya perlu memberi makan keluarga saya,” katanya.

Pemilik warung Madam Lee, 68, mengatakan pengunjung kurang dari 20 orang sejak buka pada pukul 6.30 pagi. Bahkan saat jam makan siang pun masih sepi. “Biasanya, saat ini, sebagian besar barang akan terjual habis, tetapi hari ini tidak ada satu pun yang beli,” katanya merujuk pada roti yang dia jual.

Dia mengatakan bahwa saat dia divaksinasi, dia tidak terlalu khawatir terkena Covid-19. “Saya lebih takut orang tidak akan kembali (ke kios),” katanya.

Otoritas setempat mengatakan akan membantu pemilik kios dengan membebaskan biaya layanan dan pemeliharaan dan biaya izin kerja sementara di Kompleks Pecinan selama periode penutupan. Langkah ini tentunya cukup melegakan para pedagang di area tersebut.

Di lantai bawah, para pemilik warung yang menjual pakaian, sepatu, dan mainan juga terlihat murung. Seorang pemilik toko sepatu Ong, 68, mengatakan akan memakan waktu setidaknya beberapa minggu bagi pelanggan untuk kembali.

“Di sini sebenarnya aman karena sudah disemprot disinfektan, namun masih banyak orang belum mau datang,” katanya.

Sumber: JawaPos.com

SINGAPURA – Para pedagang di Chinatown, Singapura kembali gigit jari. Dagangan mereka banyak yang tak laku karena sepinya pengunjung. Bahkan sebagian besar kios tetap memilih tutup pasca munculnya claster Covid-19. Kompleks yang menampung 700 kios itu ditutup mulai pukul 15.00 pada Minggu (12/9) hingga 23.59 sejak Rabu (15/9).

Awalnya ada 66 kasus Covid-19 di tempat tersebut. Klaster kemudian berkembang menjadi 242 kasus. Sebagian besar individu yang terinfeksi adalah pemilik kios dan asisten yang bekerja di tempat pusat wisata kuliner yang populer bagi para lansia kumpul-kumpul itu. Straits Times menyebut Chinatown seperti kota mati saat jam 10 pagi hingga sore hari. Hanya sekitar 10 dari 260 kedai makanan yang buka dan hampir tidak ada orang yang mampir untuk makan.

Orang-orang yang bekerja di beberapa kios yang buka mengatakan ada penurunan 80 hingga 90 persen dalam jumlah pejalan kaki. Di Knight’s Kitchen, sebuah kedai makanan India di sudut pusat makanan mengatakan bahwa dia hanya menjual delapan bungkus briyani antara pukul 8 pagi hingga 13.30 siang. Pada hari-hari biasa, dia bisa menjual sekitar 100 paket dalam waktu itu.

Pria berusia 56 tahun tersebut mengatakan khawatir karena harus membayar SGD 600 dolar untuk sewa kios bulan ini. Padahal, pengunjung takut datang.

“Orang-orang takut datang ke sini karena kasus Covid-19, tetapi saya membuka kios saya karena saya perlu memberi makan keluarga saya,” katanya.

Pemilik warung Madam Lee, 68, mengatakan pengunjung kurang dari 20 orang sejak buka pada pukul 6.30 pagi. Bahkan saat jam makan siang pun masih sepi. “Biasanya, saat ini, sebagian besar barang akan terjual habis, tetapi hari ini tidak ada satu pun yang beli,” katanya merujuk pada roti yang dia jual.

Dia mengatakan bahwa saat dia divaksinasi, dia tidak terlalu khawatir terkena Covid-19. “Saya lebih takut orang tidak akan kembali (ke kios),” katanya.

Otoritas setempat mengatakan akan membantu pemilik kios dengan membebaskan biaya layanan dan pemeliharaan dan biaya izin kerja sementara di Kompleks Pecinan selama periode penutupan. Langkah ini tentunya cukup melegakan para pedagang di area tersebut.

Di lantai bawah, para pemilik warung yang menjual pakaian, sepatu, dan mainan juga terlihat murung. Seorang pemilik toko sepatu Ong, 68, mengatakan akan memakan waktu setidaknya beberapa minggu bagi pelanggan untuk kembali.

“Di sini sebenarnya aman karena sudah disemprot disinfektan, namun masih banyak orang belum mau datang,” katanya.

Sumber: JawaPos.com

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru