alexametrics
26.4 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Kekerasan Myanmar Makin Parah, Jokowi Desak Pertemuan Tingkat ASEAN

RADAR MALANG – Presiden Joko Widodo menyerukan agar pertumpahan darah di Myanmar antara junta militer dengan masyarakat dihentikan. Jokowi meminta para pemimpin Asia Tenggara mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk mencoba menemukan jalan keluar dari krisis yang meningkat di negara itu pada Jumat (19/3).

Dilansir dari US News pada Jumat (19/3), Jokowi mengatakan ia akan segera berkomunikasi dengan Sultan Hassanal Bolkiah, Ketua PBB Asia Tenggara saat ini (ASEAN), dan mendesak diadakannya mengadakan pertemuan antar negara.

“Indonesia mendesak agar penggunaan kekerasan di Myanmar segera dihentikan agar tidak ada korban lagi,” kata Jokowi dalam pidatonya secara virtual.

“Keselamatan dan kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama. Indonesia juga mendesak adanya dialog, agar rekonsiliasi segera dilakukan untuk memulihkan demokrasi, memulihkan perdamaian dan memulihkan stabilitas di Myanmar,” terangnya.

Indonesia telah memimpin upaya di antara negara tetangga Myanmar untuk menemukan jalan keluar dari krisis. Para aktivis menyebut, telah menyaksikan lebih dari 200 orang tewas dalam protes nasional sejak kudeta 1 Februari yang merupakan pukulan besar bagi demokrasi Myanmar.

Ratusan pengunjuk rasa dan sisa-sisa pemerintahan Aung San Suu Kyi telah ditangkap, pemogokan yang melumpuhkan negara dan negara-negara Barat juga telah menyatakan kemarahan dan mengumumkan sanksi atas penggunaan kekuatan yang mematikan oleh junta militer.

Kementerian Luar Negeri Brunei tidak segera menanggapi komentar atas permintaan Jokowi.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, adalah pendorong utama yang mendesak ASEAN untuk mengadakan pertemuan “informal” secara virtual yang melibatkan utusan Myanmar yang ditunjuk junta pada 2 Maret, yang sayangnya mereka gagal membuat terobosan.

ASEAN secara kolektif menyerukan ketenangan dan dialog, tetapi tidak mencapai kesepakatan tentang solusi. Sejauh ini, posisi terkuat di Myanmar ditempati oleh Filipina, Singapura, dan Indonesia.

Penulis: Talitha Azmi F.

RADAR MALANG – Presiden Joko Widodo menyerukan agar pertumpahan darah di Myanmar antara junta militer dengan masyarakat dihentikan. Jokowi meminta para pemimpin Asia Tenggara mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk mencoba menemukan jalan keluar dari krisis yang meningkat di negara itu pada Jumat (19/3).

Dilansir dari US News pada Jumat (19/3), Jokowi mengatakan ia akan segera berkomunikasi dengan Sultan Hassanal Bolkiah, Ketua PBB Asia Tenggara saat ini (ASEAN), dan mendesak diadakannya mengadakan pertemuan antar negara.

“Indonesia mendesak agar penggunaan kekerasan di Myanmar segera dihentikan agar tidak ada korban lagi,” kata Jokowi dalam pidatonya secara virtual.

“Keselamatan dan kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama. Indonesia juga mendesak adanya dialog, agar rekonsiliasi segera dilakukan untuk memulihkan demokrasi, memulihkan perdamaian dan memulihkan stabilitas di Myanmar,” terangnya.

Indonesia telah memimpin upaya di antara negara tetangga Myanmar untuk menemukan jalan keluar dari krisis. Para aktivis menyebut, telah menyaksikan lebih dari 200 orang tewas dalam protes nasional sejak kudeta 1 Februari yang merupakan pukulan besar bagi demokrasi Myanmar.

Ratusan pengunjuk rasa dan sisa-sisa pemerintahan Aung San Suu Kyi telah ditangkap, pemogokan yang melumpuhkan negara dan negara-negara Barat juga telah menyatakan kemarahan dan mengumumkan sanksi atas penggunaan kekuatan yang mematikan oleh junta militer.

Kementerian Luar Negeri Brunei tidak segera menanggapi komentar atas permintaan Jokowi.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, adalah pendorong utama yang mendesak ASEAN untuk mengadakan pertemuan “informal” secara virtual yang melibatkan utusan Myanmar yang ditunjuk junta pada 2 Maret, yang sayangnya mereka gagal membuat terobosan.

ASEAN secara kolektif menyerukan ketenangan dan dialog, tetapi tidak mencapai kesepakatan tentang solusi. Sejauh ini, posisi terkuat di Myanmar ditempati oleh Filipina, Singapura, dan Indonesia.

Penulis: Talitha Azmi F.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/