alexametrics
21.1 C
Malang
Monday, 20 September 2021

Update! Situasi Terkini Pandemi Covid-19 di Berbagai Negara

RADAR MALANG – Menjalani hari-hari di tengah pandemi Covid-19 tak hanya dirasakan di Indonesia. Warga negara dari empat penjuru dunia juga merasakan hal yang sama. Berikut ini situasi terkini pandemic Covid-19 dari sejumlah negara;

Inggris Rayakan ’Hari Kebebasan’
Mulai tengah malam waktu setempat, undang-undang di Inggris yang mewajibkan masker wajah untuk dikenakan di toko-toko dan tempat-tempat dalam ruangan lainnya akan berakhir. Demikian juga batasan kapasitas di bar dan restoran, serta aturan yang membatasi jumlah orang yang boleh bersosialisasi bersama.

Perdana Menteri Boris Johnson, yang tengah mengisolasi diri karena terinfeksi Covid-19, mengakhiri setahun lebih pembatasan penguncian Covid-19 di Inggris Senin (19/7) dengan menyebut sebagai ’Hari Kebebasan’. Namun dia tetap meminta publik tetap berhati-hati dan menaruh kepercayaan pada vaksin untuk melindungi negara bahkan saat infeksi melonjak.

Militer Korsel Alami Wabah Terburuk
Militer Korea Selatan telah mencatat klaster terbesar infeksi Covid-19 hingga saat ini di mana lebih dari 80 persen personel kapal perusak yang sedang bertugas di Teluk Aden dinyatakan positif. Kapal itu meninggalkan Korsel pada Februari untuk misi patroli anti pembajakan.

Mengutip sumber militer, kantor berita Yonhap melaporkan tidak ada personel yang mengalami sakit parah, meskipun satu orang telah menunjukkan kondisi yang memerlukan pengamatan ketat.

Kepala Staf Gabungan mengatakan pada Senin (19/7) bahwa hanya 50 dari 301 personel kapal yang hasil tesnya negatif ketika wabah pertama kali dilaporkan pada 15 Juli. Pihak berwenang telah memulai operasi untuk mengangkut mereka pulang. Sementara tim pengganti akan membawa kapal kembali ke Korsel.

Australia Perpanjang Lockdown di Victoria
Pihak berwenang Australia pada Senin (19/7) mengatakan negara bagian Victoria akan memperpanjang lockdown atau penguncian Covid-19 setelah Selasa. Meskipun ada sedikit penurunan infeksi baru ketika dua kota terbesar di negara itu berjuang menghentikan penyebaran varian Delta yang sangat menular.

Pemimpin negara bagian Victoria Daniel Andrews mengatakan aturan penguncian tidak akan dicabut karena kasus masih terdeteksi di masyarakat. Dia menjanjikan rincian lebih lanjut pada Selasa. Australia dapat menuju ke siklus baru penguncian tutup-dan-buka hingga akhir tahun sampai mencapai cakupan vaksinasi yang tinggi, kata para ahli.

Kasus Baru di Singapura
Kementerian Kesehatan Singapura pada Minggu (18/7) sangat menyarankan individu yang tidak divaksin, terutama orang tua, untuk tinggal di rumah sesering mungkin selama beberapa minggu ke depan. Hal itu seiring meningkatnya kekhawatiran tentang risiko penyebaran Covid-19 di komunitas.

Negara itu melaporkan 88 kasus baru virus korona yang ditularkan secara lokal pada Minggu (18/7), angka harian tertinggi sejak Agustus tahun lalu. Rekor itu dipicu oleh meningkatnya klaster penularan di bar karaoke dan pelabuhan perikanan.

Sebagai tindakan pencegahan, pihak berwenang pada Minggu menutup kios ikan segar dan makanan laut di pasar-pasar di seluruh negara-kota itu karena semua penjual ikan dites Covid-19. Ketika tingkat vaksinasi Singapura meningkat dan bersiap untuk hidup dengan virus, pemerintah mengatakan akan mencermati jumlah kasus dengan tingkat keparahan penyakit untuk memutuskan tindakan lebih lanjut.

Myanmar Hadapi Gelombang Ketiga
Didanai para donor di media sosial, upaya kalangan akar rumput tengah tumbuh di Myanmar untuk memerangi Covid-19 dengan melewati pihak berwenang dan menggemakan cara rakyat Myanmar menghadapi krisis selama beberapa dekade pemerintahan militer sebelumnya.

Sistem kesehatan terlemah di kawasan itu terbengkalai setelah kudeta karena banyak petugas kesehatan bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil untuk menentang junta. Vaksinasi, pengujian, dan tindakan pencegahan Covid-19 semuanya terhenti.

“Sekarang kami menderita gelombang ketiga Covid. Kami tidak tahu akan ada berapa gelombang lagi,” kata salah satu pengurus gerakan itu kepada Reuters melalui telepon, yang menolak disebutkan namanya karena takut akan pembalasan. “Kami sekarang harus bertindak seolah-olah kami tidak memiliki pemerintahan,” tambah dia.

Sumber: JawaPos.Com

RADAR MALANG – Menjalani hari-hari di tengah pandemi Covid-19 tak hanya dirasakan di Indonesia. Warga negara dari empat penjuru dunia juga merasakan hal yang sama. Berikut ini situasi terkini pandemic Covid-19 dari sejumlah negara;

Inggris Rayakan ’Hari Kebebasan’
Mulai tengah malam waktu setempat, undang-undang di Inggris yang mewajibkan masker wajah untuk dikenakan di toko-toko dan tempat-tempat dalam ruangan lainnya akan berakhir. Demikian juga batasan kapasitas di bar dan restoran, serta aturan yang membatasi jumlah orang yang boleh bersosialisasi bersama.

Perdana Menteri Boris Johnson, yang tengah mengisolasi diri karena terinfeksi Covid-19, mengakhiri setahun lebih pembatasan penguncian Covid-19 di Inggris Senin (19/7) dengan menyebut sebagai ’Hari Kebebasan’. Namun dia tetap meminta publik tetap berhati-hati dan menaruh kepercayaan pada vaksin untuk melindungi negara bahkan saat infeksi melonjak.

Militer Korsel Alami Wabah Terburuk
Militer Korea Selatan telah mencatat klaster terbesar infeksi Covid-19 hingga saat ini di mana lebih dari 80 persen personel kapal perusak yang sedang bertugas di Teluk Aden dinyatakan positif. Kapal itu meninggalkan Korsel pada Februari untuk misi patroli anti pembajakan.

Mengutip sumber militer, kantor berita Yonhap melaporkan tidak ada personel yang mengalami sakit parah, meskipun satu orang telah menunjukkan kondisi yang memerlukan pengamatan ketat.

Kepala Staf Gabungan mengatakan pada Senin (19/7) bahwa hanya 50 dari 301 personel kapal yang hasil tesnya negatif ketika wabah pertama kali dilaporkan pada 15 Juli. Pihak berwenang telah memulai operasi untuk mengangkut mereka pulang. Sementara tim pengganti akan membawa kapal kembali ke Korsel.

Australia Perpanjang Lockdown di Victoria
Pihak berwenang Australia pada Senin (19/7) mengatakan negara bagian Victoria akan memperpanjang lockdown atau penguncian Covid-19 setelah Selasa. Meskipun ada sedikit penurunan infeksi baru ketika dua kota terbesar di negara itu berjuang menghentikan penyebaran varian Delta yang sangat menular.

Pemimpin negara bagian Victoria Daniel Andrews mengatakan aturan penguncian tidak akan dicabut karena kasus masih terdeteksi di masyarakat. Dia menjanjikan rincian lebih lanjut pada Selasa. Australia dapat menuju ke siklus baru penguncian tutup-dan-buka hingga akhir tahun sampai mencapai cakupan vaksinasi yang tinggi, kata para ahli.

Kasus Baru di Singapura
Kementerian Kesehatan Singapura pada Minggu (18/7) sangat menyarankan individu yang tidak divaksin, terutama orang tua, untuk tinggal di rumah sesering mungkin selama beberapa minggu ke depan. Hal itu seiring meningkatnya kekhawatiran tentang risiko penyebaran Covid-19 di komunitas.

Negara itu melaporkan 88 kasus baru virus korona yang ditularkan secara lokal pada Minggu (18/7), angka harian tertinggi sejak Agustus tahun lalu. Rekor itu dipicu oleh meningkatnya klaster penularan di bar karaoke dan pelabuhan perikanan.

Sebagai tindakan pencegahan, pihak berwenang pada Minggu menutup kios ikan segar dan makanan laut di pasar-pasar di seluruh negara-kota itu karena semua penjual ikan dites Covid-19. Ketika tingkat vaksinasi Singapura meningkat dan bersiap untuk hidup dengan virus, pemerintah mengatakan akan mencermati jumlah kasus dengan tingkat keparahan penyakit untuk memutuskan tindakan lebih lanjut.

Myanmar Hadapi Gelombang Ketiga
Didanai para donor di media sosial, upaya kalangan akar rumput tengah tumbuh di Myanmar untuk memerangi Covid-19 dengan melewati pihak berwenang dan menggemakan cara rakyat Myanmar menghadapi krisis selama beberapa dekade pemerintahan militer sebelumnya.

Sistem kesehatan terlemah di kawasan itu terbengkalai setelah kudeta karena banyak petugas kesehatan bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil untuk menentang junta. Vaksinasi, pengujian, dan tindakan pencegahan Covid-19 semuanya terhenti.

“Sekarang kami menderita gelombang ketiga Covid. Kami tidak tahu akan ada berapa gelombang lagi,” kata salah satu pengurus gerakan itu kepada Reuters melalui telepon, yang menolak disebutkan namanya karena takut akan pembalasan. “Kami sekarang harus bertindak seolah-olah kami tidak memiliki pemerintahan,” tambah dia.

Sumber: JawaPos.Com

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru