alexametrics
23.6 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Eric Nam Buka Suara Soal Sentimen Anti Asia di Amerika

RADAR MALANG – Pasca insiden tragis yang terjadi di Atlanta, AS sepekan terakhir, penyanyi sekaligus penulis lagu Eric Nam semakin lantang menyuarakan aspirasinya mengenai rasisme yang dihadapi oleh orang Asia yang tinggal di Amerika.

Belakangan, Eric bahkan sempat menulis artikel mengenai hal tersebut di majalah Time dan mendiskusikannya dengan media CNN.

Melansir dari CNN, Selasa (23/3), Eric Nam menjelaskan bahwa sejatinya telah ada tanda-tanda terkait meningkatnya rasisme dan kekerasan terhadap orang Asia di Amerika. Terutama selama rentang waktu tahun lalu, hingga menyebabkan komunitas orang-orang Asia Amerika dan Kepulauan Pasifik (AAPI) turut menyampaikan suara mereka untuk menentang kejahatan rasial ini.

“Selama setahun terakhir, kami menjadi yang paling keras yang pernah kami alami. Kami telah meminta sekutu untuk berdiri bersama kami dan bertarung dengan kami, dan sayangnya, dari semua tanda peringatan, mereka tidak sepenuhnya memperhatikan dan sepertinya mereka juga tidak terlalu mendengarkan (kami),” ucapnya.

Ia pun mengungkapkan kekecewaannya bahwa topik rasisme terhadap orang Asia diangkat ke permukaan hanya setelah insiden yang begitu mengerikan terjadi. Padahal, menurutnya komunitas Asia-Amerika telah mengalami peristiwa ini selama bertahun-tahun yang tidak pernah dibahas secara terbuka. Eric menyebut jika isu ini tidak terangkat dan disadari publik lantaran disebabkan oleh beberapa hal.

“Saya pikir itu berasal dari tempat ketidaktahuan, dari kurangnya pendidikan, kurangnya wacana, tetapi saya sendiri, seperti yang saya singgung dalam artikel opini saya, ada begitu banyak momen di mana saya merasa ditargetkan atau didiskriminasi atau hal-hal yang dapat bersifat rasis biasa,” tuturnya.

Lebih lanjut, Eric yang lahir dan tumbuh di Atlanta juga berbagi tentang perjuangannya hidup sebagai orang Amerika keturunan Asia, yang merasa asing di tanah kelahirannya sendiri. Ia mengatakan banyak peristiwa pahit yang dirasakan orang seperti dirinya seolah-olah mereka bukan dari sana.

Tak hanya itu, dari persoalan rasisme, Eric secara singkat menyinggung reaksi dan tanggapan di seluruh Asia terhadap meningkatnya kejahatan ini di seluruh Amerika dengan mengatakan bahwa, untuk sebagian besar, ada keragu-raguan untuk memandang Amerika secara positif dan pandangan tersebut sangatlah disayangkan.

“Menurut saya, sangat sangat disayangkan mengingat saya percaya dan benar-benar mencintai negara ini. Amerika Serikat memberikan banyak hal lainnya telah ditawarkan kepada dunia, dan untuk melihat (kejadian rasisme) itu, benar-benar mengecilkan hati,” tambahnya.

Sebelumnya, pada Selasa (16/3), telah terjadi penembakan brutal yang menargetkan tiga panti spa di daerah Atlanta AS. Dari insiden tragis itu, sebanyak delapan orang tewas, dimana enam di antaranya adalah wanita Asia. Diduga, kejahatan rasial ini dipicu informasi yang menyalahkan orang Asia atas penyebaran Covid-19.

Penulis : Gilang Ilham

RADAR MALANG – Pasca insiden tragis yang terjadi di Atlanta, AS sepekan terakhir, penyanyi sekaligus penulis lagu Eric Nam semakin lantang menyuarakan aspirasinya mengenai rasisme yang dihadapi oleh orang Asia yang tinggal di Amerika.

Belakangan, Eric bahkan sempat menulis artikel mengenai hal tersebut di majalah Time dan mendiskusikannya dengan media CNN.

Melansir dari CNN, Selasa (23/3), Eric Nam menjelaskan bahwa sejatinya telah ada tanda-tanda terkait meningkatnya rasisme dan kekerasan terhadap orang Asia di Amerika. Terutama selama rentang waktu tahun lalu, hingga menyebabkan komunitas orang-orang Asia Amerika dan Kepulauan Pasifik (AAPI) turut menyampaikan suara mereka untuk menentang kejahatan rasial ini.

“Selama setahun terakhir, kami menjadi yang paling keras yang pernah kami alami. Kami telah meminta sekutu untuk berdiri bersama kami dan bertarung dengan kami, dan sayangnya, dari semua tanda peringatan, mereka tidak sepenuhnya memperhatikan dan sepertinya mereka juga tidak terlalu mendengarkan (kami),” ucapnya.

Ia pun mengungkapkan kekecewaannya bahwa topik rasisme terhadap orang Asia diangkat ke permukaan hanya setelah insiden yang begitu mengerikan terjadi. Padahal, menurutnya komunitas Asia-Amerika telah mengalami peristiwa ini selama bertahun-tahun yang tidak pernah dibahas secara terbuka. Eric menyebut jika isu ini tidak terangkat dan disadari publik lantaran disebabkan oleh beberapa hal.

“Saya pikir itu berasal dari tempat ketidaktahuan, dari kurangnya pendidikan, kurangnya wacana, tetapi saya sendiri, seperti yang saya singgung dalam artikel opini saya, ada begitu banyak momen di mana saya merasa ditargetkan atau didiskriminasi atau hal-hal yang dapat bersifat rasis biasa,” tuturnya.

Lebih lanjut, Eric yang lahir dan tumbuh di Atlanta juga berbagi tentang perjuangannya hidup sebagai orang Amerika keturunan Asia, yang merasa asing di tanah kelahirannya sendiri. Ia mengatakan banyak peristiwa pahit yang dirasakan orang seperti dirinya seolah-olah mereka bukan dari sana.

Tak hanya itu, dari persoalan rasisme, Eric secara singkat menyinggung reaksi dan tanggapan di seluruh Asia terhadap meningkatnya kejahatan ini di seluruh Amerika dengan mengatakan bahwa, untuk sebagian besar, ada keragu-raguan untuk memandang Amerika secara positif dan pandangan tersebut sangatlah disayangkan.

“Menurut saya, sangat sangat disayangkan mengingat saya percaya dan benar-benar mencintai negara ini. Amerika Serikat memberikan banyak hal lainnya telah ditawarkan kepada dunia, dan untuk melihat (kejadian rasisme) itu, benar-benar mengecilkan hati,” tambahnya.

Sebelumnya, pada Selasa (16/3), telah terjadi penembakan brutal yang menargetkan tiga panti spa di daerah Atlanta AS. Dari insiden tragis itu, sebanyak delapan orang tewas, dimana enam di antaranya adalah wanita Asia. Diduga, kejahatan rasial ini dipicu informasi yang menyalahkan orang Asia atas penyebaran Covid-19.

Penulis : Gilang Ilham

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/