alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Kamp Pengungsi di Bangladesh Terbakar, 15 Jiwa Dilaporkan Tewas

RADAR MALANG – 15 orang tewas dan 400 hilang setelah kebakaran besar yang menghancurkan rumah-rumah kumuh milik puluhan ribu pengungsi Rohingya di pemukiman pengungsi terbesar di dunia di Bangladesh.

Menurut laporan Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang dirilis Selasa (23/3), insiden tersebut terjadi pada Senin. Sedikitnya 50 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Melansir France 24, Rabu (24/3), keluarga yang ketakutan melarikan diri dengan apa pun yang bisa mereka bawa.

“Orang-orang lari menyelamatkan diri karena penyebaran apinya cepat. Banyak yang terluka dan saya melihat sedikitnya empat mayat,” kata Aminul Haq, seorang pengungsi.

Johannes Van der Klaauw, perwakilan Badan Pengungsi PBB di Bangladesh, mengatakan sejauh ini telah dipastikan 15 orang tewas, 560 luka-luka, 400 hilang dan setidaknya 10 ribu tempat perlindungan hancur.

“Apa yang kami lihat dalam api ini adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya di kamp-kamp ini. Ini sangat besar. Ini sangat menghancurkan,” kata Van der Klaauw.

Para pejabat mengatakan kobaran api tampaknya telah dimulai di salah satu dari 34 kamp, yang membentang di sekitar 8.000 acre (3.200 hektar) lahan, sebelum menyebar dengan cepat ke tiga lokasi lain meskipun ada upaya untuk memadamkan api.

Asap tebal terlihat mengepul dari gubuk yang berkobar dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial, ketika ratusan petugas pemadam kebakaran dan pekerja bantuan menarik pengungsi ke tempat yang aman.

Petugas pemadam kebakaran akhirnya berhasil mengendalikan api sekitar tengah malam. Inspektur polisi Gazi Salahuddin mengatakan api membesar setelah tabung gas yang digunakan untuk memasak meledak.

Refugees International mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa banyak anak hilang, dan beberapa tidak dapat melarikan diri karena kawat berduri dipasang di kamp.

“kami tidak dapat melarikan diri karena pagar, putri bungsu saya terluka parah,” kata Myo Min Khan, seorang Rohingya.

“Tragedi ini merupakan pengingat yang mengerikan dari posisi rentan pengungsi Rohingya yang terjebak di antara kondisi yang semakin genting di Bangladesh dan realitas tanah air yang sekarang diperintah oleh militer yang bertanggung jawab atas genosida yang memaksa mereka untuk melarikan diri,” kata Refugees International.

Penulis: Talitha Azmi F.

RADAR MALANG – 15 orang tewas dan 400 hilang setelah kebakaran besar yang menghancurkan rumah-rumah kumuh milik puluhan ribu pengungsi Rohingya di pemukiman pengungsi terbesar di dunia di Bangladesh.

Menurut laporan Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang dirilis Selasa (23/3), insiden tersebut terjadi pada Senin. Sedikitnya 50 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Melansir France 24, Rabu (24/3), keluarga yang ketakutan melarikan diri dengan apa pun yang bisa mereka bawa.

“Orang-orang lari menyelamatkan diri karena penyebaran apinya cepat. Banyak yang terluka dan saya melihat sedikitnya empat mayat,” kata Aminul Haq, seorang pengungsi.

Johannes Van der Klaauw, perwakilan Badan Pengungsi PBB di Bangladesh, mengatakan sejauh ini telah dipastikan 15 orang tewas, 560 luka-luka, 400 hilang dan setidaknya 10 ribu tempat perlindungan hancur.

“Apa yang kami lihat dalam api ini adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya di kamp-kamp ini. Ini sangat besar. Ini sangat menghancurkan,” kata Van der Klaauw.

Para pejabat mengatakan kobaran api tampaknya telah dimulai di salah satu dari 34 kamp, yang membentang di sekitar 8.000 acre (3.200 hektar) lahan, sebelum menyebar dengan cepat ke tiga lokasi lain meskipun ada upaya untuk memadamkan api.

Asap tebal terlihat mengepul dari gubuk yang berkobar dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial, ketika ratusan petugas pemadam kebakaran dan pekerja bantuan menarik pengungsi ke tempat yang aman.

Petugas pemadam kebakaran akhirnya berhasil mengendalikan api sekitar tengah malam. Inspektur polisi Gazi Salahuddin mengatakan api membesar setelah tabung gas yang digunakan untuk memasak meledak.

Refugees International mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa banyak anak hilang, dan beberapa tidak dapat melarikan diri karena kawat berduri dipasang di kamp.

“kami tidak dapat melarikan diri karena pagar, putri bungsu saya terluka parah,” kata Myo Min Khan, seorang Rohingya.

“Tragedi ini merupakan pengingat yang mengerikan dari posisi rentan pengungsi Rohingya yang terjebak di antara kondisi yang semakin genting di Bangladesh dan realitas tanah air yang sekarang diperintah oleh militer yang bertanggung jawab atas genosida yang memaksa mereka untuk melarikan diri,” kata Refugees International.

Penulis: Talitha Azmi F.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/