alexametrics
33C
Malang
Sunday, 18 April 2021

Dituntut Mundur, PM Armenia Pecat Kepala Militer

RADAR MALANG – Sekitar 15.000 pengunjuk rasa yang menyerukan pengunduran diri perdana menteri Armenia berbaris di Kota Yerevan bagian tengah Sabtu (27/2). Unjuk rasa itu ditujukan untuk Perdana Menteri Nikol Pashinyan pasca dia menandatangani perjanjian perdamaian yang ditengahi Moskow atas Nagorno-Karabakh, wilayah etnis Armenia yang memisahkan diri dari kendali Azerbaijan selama perang di awal 1990-an.

Setelah enam minggu bentrokan dan pemboman yang merenggut sekitar 6.000 nyawa, sebuah perjanjian gencatan senjata ditandatangani dengan menyerahkan wilayah Nagorno-Karabakh ke Azerbaijan. Perjanjian itu dipandang sebagai penghinaan nasional bagi banyak orang di Armenia. PM Armenia, Pashinyan mengatakan dia tidak punya pilihan selain setuju atau melihat pasukan negaranya menderita kerugian yang lebih besar.

Protes terhadap Nikolai Pashinyan sudah muncul bulan November tahun lalu setelah dia menandatangani gencatan senjata yang mengakhiri perang enam minggu dengan Azerbaijan atas wilayah separatis Nagorno-Karabakh. Perjanjian tersebut membuat Armenia kehilangan kendali atas wilayah di Azerbaijan yang telah dikuasainya selama lebih dari 25 tahun menurut Euro News Minggu (28/2).

Saat ribuan warga menggelar demo Sabtu lalu (27/2), Pashinyan memerintahkan pemecatan kepala tentara, Onik Gasparyan. Dia memecat Gasparyan setelah apa yang dia sebut percobaan kudeta yang bertujuan untuk menyingkirkannya. Gasparyan dan pejabat tinggi militer lainnya telah mengeluarkan surat terbuka yang menyerukan agar Pashinyan dan kabinetnya mengundurkan diri atas penanganan konflik dengan Azerbaijan.

Namun, Presiden Armenia Sakissian yang perannya sebagian besar bersifat seremonial mengatakan dia tidak akan mendukung tindakan pemecatan kepala tentara tersebut. “Krisis politik tidak dapat diselesaikan melalui pergantian personel yang sering,” ujarnya.

Penulis: Talitha Azmi F.

RADAR MALANG – Sekitar 15.000 pengunjuk rasa yang menyerukan pengunduran diri perdana menteri Armenia berbaris di Kota Yerevan bagian tengah Sabtu (27/2). Unjuk rasa itu ditujukan untuk Perdana Menteri Nikol Pashinyan pasca dia menandatangani perjanjian perdamaian yang ditengahi Moskow atas Nagorno-Karabakh, wilayah etnis Armenia yang memisahkan diri dari kendali Azerbaijan selama perang di awal 1990-an.

Setelah enam minggu bentrokan dan pemboman yang merenggut sekitar 6.000 nyawa, sebuah perjanjian gencatan senjata ditandatangani dengan menyerahkan wilayah Nagorno-Karabakh ke Azerbaijan. Perjanjian itu dipandang sebagai penghinaan nasional bagi banyak orang di Armenia. PM Armenia, Pashinyan mengatakan dia tidak punya pilihan selain setuju atau melihat pasukan negaranya menderita kerugian yang lebih besar.

Protes terhadap Nikolai Pashinyan sudah muncul bulan November tahun lalu setelah dia menandatangani gencatan senjata yang mengakhiri perang enam minggu dengan Azerbaijan atas wilayah separatis Nagorno-Karabakh. Perjanjian tersebut membuat Armenia kehilangan kendali atas wilayah di Azerbaijan yang telah dikuasainya selama lebih dari 25 tahun menurut Euro News Minggu (28/2).

Saat ribuan warga menggelar demo Sabtu lalu (27/2), Pashinyan memerintahkan pemecatan kepala tentara, Onik Gasparyan. Dia memecat Gasparyan setelah apa yang dia sebut percobaan kudeta yang bertujuan untuk menyingkirkannya. Gasparyan dan pejabat tinggi militer lainnya telah mengeluarkan surat terbuka yang menyerukan agar Pashinyan dan kabinetnya mengundurkan diri atas penanganan konflik dengan Azerbaijan.

Namun, Presiden Armenia Sakissian yang perannya sebagian besar bersifat seremonial mengatakan dia tidak akan mendukung tindakan pemecatan kepala tentara tersebut. “Krisis politik tidak dapat diselesaikan melalui pergantian personel yang sering,” ujarnya.

Penulis: Talitha Azmi F.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru