MALANG KOTA – Aneka macam kreasi sekolah benar-benar terlihat di gelaran Green School Festival (GSF) 2018. Dalam penjurian kemarin (10/9), dua sekolah, yakni SDN Dinoyo 1    dan SDN Tunjungsekar 3 seolah-olah tak mau kalah dalam adu kreasi.

Di SDN Dinoyo 1 misalnya, menampilkan berbagai inovasi lingkungan andalan. Mulai dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL), pupuk kompos, patung dan gambar peta dari koran bekas, recycle botol plastik, dan rumah jamur.

Menariknya, untuk inovasi IPAL, sekolah ini memanfaatkan bekas air wudu. Yakni, setiap sisa air wudu dialirkan ke drum yang berisi ikan. Selanjutnya, air ini dialirkan ke tumbuhan hidroponik berupa sayur. ”IPAL ini tidak hanya bermanfaat, tapi bisa menghasilkan uang,” kata Kepala SDN Dinoyo 1 Drs H. Totok Wargo Santoso MM.

Sedangkan untuk kompos, sekolah ini memanfaatkan sampah dari tumbuhan di sekitar sekolah. Jadi, sampah-sampah yang biasanya dibuang maupun dibakar, oleh sekolah ini dimanfaatkan sehingga menghasilkan uang. ”Pupuknya itu kami gunakan lagi untuk tanaman di sekolah,” imbuhnya.

Selain itu, pupuk juga dijual. Per bungkus pupuk kompos dibanderol Rp 5 ribu. ”Ini bermanfaat buat lingkungan, menghasilkan uang buat kami juga,” ucap pria yang sudah 3 tahun menjadi kepala sekolah itu.

Sementara itu, di  SDN Tunjungsekar 3, unit kesehatan sekolah (UKS)-nya dielu-elukan para juri. UKS di sekolah yang berlokasi di Kecamatan Lowokwaru ini, termasuk UKS yang aktif.  Minimal sebulan sekali ada penyuluhan kesehatan gigi, penyuluhan menstruasi, dan penyuluhan kesehatan lainnya.

Untuk diketahui, UKS dalam GSF kali ini masuk penilaian. Selain UKS, yang dinilai adalah sembilan isu lingkungan, yakni peta umum sekolah, sampah, polusi, limbah cair, tanaman hijau, risiko, inovasi teknologi, literasi, dan UKS.

Kepala SDN Tunjungsekar 3  Dr Bettin Juniaria H.S. MPd menyatakan, beberapa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) digandeng sekolah ini untuk mengisi penyuluhan. ”Kalau dari STIKes, biasanya penyuluhan mengenai menstruasi atau yang berhubungan dengan akil balig,” ujar Bettin.

Selain itu, sekolah ini juga menggandeng beberapa mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya. ”Mereka yang memberikan penyuluhan cara merawat gigi yang baik,” ujarnya.  Bahkan, penyuluhan kesehatan ini diadakan lebih dari dua kali dalam sebulan.

Melihat ke UKS, ruangannya bersih dan tertata rapi. Pengaturan ventilasi, cahaya, dan obat-obatannya sesuai standardisasi UKS. Meski tidak setiap hari ada siswa yang membutuhkan UKS, tapi UKS tetap diperlukan. ”Tujuan UKS, yakni membangun kesadaran akan lingkungan dan pribadi yang sehat,” pungkasnya. 

Pewarta : Moh. Badar, Sandra
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Irham Thoriq
Foto : Moh. Badar