JawaPos.com – Dua moderator debat pertama pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden diperkenalkan KPU secara resmi pada Kamis (10/1). Dua orang itu adalah Dwi Noviratri Koesno yang akrab disapa Ira Koesno dan jurnalis senior TVRI Imam Priyono.

Kemarin Ira dan Imam hadir dalam rapat persiapan debat bersama lima panelis karena Margarito Kamis berhalangan hadir.

Setelah pertemuan tertutup selama hampir tiga jam, anggota panelis Bivitri Susanti menjelaskan, rapat tersebut tidak lagi membahas substansi pertanyaan yang akan disampaikan, tapi hanya melakukan beberapa penajaman. Sebab, rata-rata bahasa yang digunakan para panelis adalah bahasa hukum.

Ilustrasi Pilpres 2019 (Kokoh Praba/JawaPos.com)

“Kami sesuaikan agar nanti para moderator yang bertanya bisa menyampaikan dengan baik, konteksnya mengerti, dan publik juga paham,” terangnya.

Bagaimanapun, debat itu merupakan kampanye yang bertujuan menyampaikan visi dan misi paslon. Karena itu, kalimat-kalimatnya harus didesain agar mudah dipahami para pemilih. Pihaknya sudah melihat kembali pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Moderator pun bakal membantu mempermudah penyampaian.

Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi yang hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan, daftar pertanyaan yang berupa kisi-kisi itu sudah disampaikan kepada setiap paslon. “Ada 20 pertanyaan yang bukan sama sekali multiple choice (pilihan ganda) dan bukan menuntut hafalan,” ungkapnya.

Moderator bakal bertugas memfasilitasi penyampaian pertanyaan yang telah dipilih paslon secara acak. Ketentuan tentang moderator sudah ada dalam UU Pemilu. Yakni, tidak boleh mengomentari dan tidak boleh memberikan penilaian. “Kami harap tidak memotong juga,” lanjut pria kelahiran Semarang itu.

Pramono menegaskan, para panelis juga tidak membahas pertanyaan terkait dengan sikap paslon atas kasus tertentu. Sebab, yang ingin digali adalah strategi dan pandangan setiap paslon. Namun, setiap paslon dipersilakan bila ingin menggunakan contoh tertentu saat memberikan jawaban. “Namun, dari daftar pertanyaan kami, kami kira itu terlalu mikro,” tuturnya.

Disinggung mengenai kemungkinan terjadinya saling menjatuhkan antarpaslon, menurut Pramono, publiklah yang lebih berhak menilai. KPU bertugas memfasilitasi sesuai dengan yang digariskan undang-undang. Selebihnya, apa yang dilakukan dan disampaikan para paslon menjadi milik publik sepenuhnya.

Mengenai moderator, Pramono tidak banyak berkata-kata saat memperkenalkan, “Inilah moderator debat,” ucapnya dengan gestur kocak. Dia mempersilakan wartawan menanyai para moderator secara langsung.

Ira Koesno adalah mantan jurnalis SCTV. Dia dikenal publik saat membawakan program berita Liputan 6. Setelah pensiun dari dunia jurnalistik, Ira kini berkarir sebagai konsultan media dan public relations. Perempuan 49 tahun itu punya pengalaman menjadi moderator debat paslon saat Pilpres 2004 dan Pilgub DKI Jakarta 2017.

Sementara itu, Imam Priyono adalah jurnalis senior di TVRI. Pada 2016 Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengganjar pria 38 tahun itu dengan penghargaan sebagai penyiar berita terbaik. Abang Jakarta 2004 itu berpengalaman menjadi moderator dalam sejumlah pilkada. Antara lain, pilgub Sumsel, Sumut, dan Bali, serta pilwali Bandung dan Pontianak.

Imam membenarkan penjelasan Bivitri mengenai penguatan pertanyaan. Dia diberi kesempatan menguatkan kata per kata serta memilih diksi yang kira-kira mudah dipahami publik dari segala kalangan. “Jadi, substansi yang bisa jadi begitu rumit, kompleks, dan kadang begitu akademis bisa diartikulasi dengan bahasa publik,” jelasnya. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (byu/c5/oni)

Copy Editor : Fersita Felicia Facette