JawaPos.com – Pasca dipanggil Bawaslu Kabupaten Limapuluh Kota, Caleg DPR RI asal PKS dari Dapil II Sumatera Barat (Sumbar), Nevi Zuairina meyakini tidak melanggar aturan kampanye.

Nevi mengatakan, dirinya telah menjelaskan persoalan tersebut saat dimintai klarifikasi pihak Bawaslu Limapuluh Kota pada Selasa (5/3) lalu.

“Saat itu, saya ada kegiatan di Limapuluh Kota dan diundang ke SMK 2 Guguk. Satu jalan dari lokasi saya sebelumnya. Undangan itu saya terima. Sebab, materinya sesuai kepakaran saya, yaitu tentang sekolah ramah anak. Datanglah saya kesana, ternyata yang hadir acara itu guru-guru. Saya beri materi, lalu pulang. Udah begitu,” kata Nevi pada awak media di Padang, Kamis (7/3).

Istri Gubernur Irwan Prayitno itu mengatakan, jika dirinya diperiksa sekitar 4 jam oleh Bawaslu. Saat itu, dirinya diminta menjelaskan dua foto terkait dugaan kampanye di tempat pendidikan.

Pertama, foto saat dirinya memberikan materi di acara SMK 2 Guguk. Lalu, foto salah seorang kepala sekolah (kepsek) memegang kartu nama pencalegan Nevi.

“Foto itu di tempat dan waktu yang berbeda. Tapi diasumsikan di acara SMK 2 Guguk, karena pakaian yang dipakai sama. Padahal, foto yang menyerahkan kartu nama itu bukan di acara seminar. Jadi seolah-olah saya kampanye di sekolah,” katanya.

Dengan penjelasan itu, Ketua TP PKK Sumbar ini meyakini, pencalonannya dalam kontestasi Pemilu 2019 tidak akan dicoret Bawaslu. Apalagi, sampai dijerat ke arah pidana dengan ancaman dua tahun penjara.

Bahkan, katanya, Nevi juga telah mendapatkan informasi, jika Bawaslu tidak menemukan bukti-bukti pelanggaran kampanye. “Setelah saya diminta klarifikasi. Lalu mereka (Bawaslu Limapuluh Kota) rapat sorenya. Selanjutnya, mereka informasikan tidak ada bukti pelanggaran. Informasi lisan dari perantara. Tinggal nunggu suratnya keluar minggu depan. Tunggu proses,” bebernya.

Sebelumnya, Nevi Zuairina diperiksa Bawaslu Kabupaten Limapuluh Kota pada Selasa (5/3) terkait dugaan kampanye di sekolah. Pemeriksaan Bawaslu menindaklanjuti laporan dari masyarakat, tentang dugaan kampanye di SMK 2 Guguk pada 31 Januari 2019 lalu. Nevi diduga membagi-bagikan bahan kampanye dalam bentuk kartu nama. Selain memeriksa Nevi, Bawaslu juga telah memeriksa 12 kepala sekolah yang hadir pada kegiatan itu. 

Editor           : Yusuf Asyari

Reporter      : Riki Chandra