KOTA BATU – Cita-cita Pemkot Batu mendorong pertanian organik masih butuh usaha ekstra. Lantaran, masih banyak petani yang bertahan dengan sistem pertanian konvensionalnya. Seperti tersaji di Desa Sumberjo, Kecamatan Batu. Dari luas lahan sekitar 500 hektare yang di-plot untuk pertanian organik, baru sekitar lima persennya yang terealisasi.

”Mayoritas pertanian memang masih konvensional. Karena untuk pertanian organik, petani masih kesulitan dalam pemasaran hasil panen,” terang Daim, salah satu petani yang ditemui koran ini. Pria berusia 43 tahun tersebut menjelaskan, sejumlah persyaratan masih harus dipenuhi petani agar bisa mengembangkan pertanian organik. Salah satunya harus tersertifikasi.

Untuk memenuhinya, beberapa persyaratan harus dipenuhi petani. Yakni, manajemen pengelola hingga teknis pertanian. ”Dulu, tahun 2012–2015, petani pernah memiliki sertifikat produk pertanian organik. Namun sekarang tidak berlanjut,” bebernya. Sertifikasi organik itu memang punya jangka waktu tertentu. Biasanya berlangsung selama tiga tahun.

Setelah melewati batas waktu tersebut, sertifikasi ulang harus dilakukan. Di sisi lain, Daim mengaku membutuhkan banyak biaya dan waktu yang lebih banyak untuk memulai pertanian organik. ”Petani saat ini banyak rugi jika langsung beralih ke pertanian organik. Belum lagi bayar sewa tanah seluas 1.500 meter ini,” keluhnya.

Dia menjelaskan, untuk sewa lahan itu per tahun harus membayar Rp 1,5 juta. Belum lagi untuk biaya operasional dan perawatan dalam satu kali masa tanam hingga panen, biayanya sekitar Rp 1,6 juta. ”Jumlah itu untuk menanam sawi daging. Saat panen per kilogram dijual seharga Rp 2.000. Itu harga tertinggi, kalau pasar kelebihan barang bisa Rp 700 per kilogram,” imbuh Daim.

Dengan tidak menentunya harga tersebut, dalam satu tahun dia harus menyiasati komoditas sayuran yang ditanam dengan seledri dan bawang prei.

Meskipun harga kedua sayuran itu cukup tinggi, namun perawatannya terbilang lebih sulit. ”Kebanyakan tengkulak langsung datang ambil sayur. Begitu juga harga, mereka yang menentukan,” pungkasnya.

Pewarta               : Miftahul Huda
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Bayu Mulya
Fotografer          : Rubianto