Marliadi, salah satu pandeta Vihara Buddha Ratana mengungkapkan, corak tradisi sengaja dipertahankan atas masukan Bhante Siriratano. ”Saran ini dilaksanakan karena memang sebagian besar penganut buddhisme di sini adalah orang Jawa,” kata Marliadi kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin. Selain pakaian dan busana, peribadatan Waisak juga dilengkapi sesaji berupa tumpeng ala Jawa.
Para sesepuh di sana berharap umat penganut buddhist tidak meninggalkan budaya leluhur. Apalagi sejak zaman Majapahit, buddhisme juga dekat dengan adat dan tradisi jawa. Karena itu, renovasi terakhir Vihara Buddha Ratana pada tahun 2011 memunculkan corak dan relief ala Jawa. Pada bagian depan, terdapat candi. Kemudian di bagian tengah vihara adalah ruang peribadatan. Di bagian belakang menjadi tempat tinggal para bhikkhu. ”Pintu masuk menuju vihara disebut sebagai Candi Kori Ageng. Yaitu, pintu besar untuk masuk belajar dhamma. Sedangkan di kiri dan kanan candi terdapat relief yang menceritakan perjalanan hidup Buddha Gautama, dari kelahiran, pencerahan, hingga wafat,” kata Marliadi yang memiliki nama Pandita Dhamma Sukho.
Selain tradisi ibadah bercorak Jawa, budaya gotong royong dan bersilaturahmi pun terbangun. Dalam komunitas masyarakat Desa Ampelgading yang sebenarnya mayoritas Islam, Marliadi menyebut ada rasa saling menghormati. Saat momen Trisuci Waisak seperti ini, tradisi silaturahmi terlaksana. ”Setelah ibadah Trisuci Waisak, umat buddhist pulang ke rumah. Tetangga dan warga beragama Islam akan bersilaturahmi dan bertamu ke rumah kami. Ini bisa berlangsung selama empat hari empat malam,” tambah Marliadi.
Sementara itu, Peringatan dan ibadah Waisak juga dilakukan di Candi Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, kemarin. Itu merupakan peringatan pertama yang dilakukan secara tatap muka setelah selama dua tahun sebelumnya vakum. ”Tahun ini, Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia, red) akhirnya bisa menyelenggarakan Waisak 2566 BE. Namun karena masih berada di dalam situasi pandemi, peserta dibatasi mengingat lokasi Candi Sumberawan yang belum bisa menampung umat Buddha se-Malang Raya,” ujar Ketua Kelompok Kerja Penyuluh Agama Buddha (Pokjaluh Buddha) Malang Raya Yuliwianto.
Peserta yang boleh masuk sebanyak 250 orang dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Para peserta kemudian mengikuti peringatan yang dimulai dari Pradaksina atau berjalan meditasi dan mengelilingi stupa tiga kali. Dalam prosesi itu, mereka mengucap kalimat namo sakyamuni budhaya yang berarti terpujilah yang maha suci yang telah mencapai penerangan sempurna. Selanjutnya, peringatan dilanjutkan dengan doa bersama yang dilakukan perwakilan dari lima majelis. Yakni, Majelis Tantrayana, Majelis Mahayana, Majelis Buddha Jawa, Majelis Maitreya, dan Majelis Theravada. ”Detik-detik Waisak dijadwalkan pada pukul 11.13.46. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan Dharmasanti,” imbuh Yuli.
Salah seorang umat, Zainal Imanudin, mengungkapkan, meski berasal dari majelis atau aliran yang berbeda-beda, tetapi Umat Buddha memiliki guru yang sama dan kesamaan dalam ajaran. Kesamaan inilah yang akhirnya menyatukan Umat Buddha. ”Jadi, kita tidak perlu bertengkar meskipun ada perbedaan. Karena seiring berjalannya waktu, terdapat pergeseran nilai. Contohnya, saya belajar di Majelis Mahayana, maka saya akan mengikuti tradisi Tiongkok karena ajaran Mahayana masuk melalui Tiongkok,” jelasnya.
Juru Pelihara Candi Sumberawan Dika Maulana menjelaskan, peringatan Hari Raya Waisak di Candi Sumberawan telah berlangsung sejak 1989. Namun, selama dua tahun pandemi (2020-2021) peringatan secara tatap muka tidak dilakukan. ”Meskipun kemarin tidak bisa menerima tamu, kami tetap melakukan perawatan di lingkungan candi atau stupa. Tahun ini baru boleh diadakan setelah mendapat izin dari Kemendikbud karena tempat ini terikat dengan cagar budaya nasional,” pungkas Dika. (fin/mel/fat) Editor : Mardi Sampurno