“Hibah lahan daerah ini sudah disepakati eksekutif dan legislatif. Tetapi, ada sejumlah poin yang harus dipertanggungjawabkan UB sebagai penerima hibah,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herawanto kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin.
Pertama, semua pengelolaan lahan menjadi tanggungjawab UB. Kedua, ada tenggang waktu untuk program pembangunan di lokasi. Rencananya, groundbreaking kampus akan digelar antara Juli dan Agustus. Ketiga, kesepakatan membangun fakultas yang sesuai potensi kebutuhan Kabupaten Malang.
“Fakultas kedokteran hewan, vokasi, kedokteran umum, agrotek pertanian, peternakan dan perikanan,” tandas Tomie.
Kemudian, kesepakatan yang tak kalah penting, adalah prioritas bagi warga Kabupaten Malang. Bagi pendaftar asli putra daerah, harus mendapat prioritas ketimbang dari daerah lain.
Tomie memisalkan, ada dua calon mahasiswa. Satu asli Kabupaten Malang, satunya dari daerah lain. Skor nilai keduanya sama dalam ujian masuk. Sedangkan, slot penerimaan hanya satu. Maka, warga Kabupaten Malang, harus mendapat prioritas. UB sendiri kabarnya menargetkan bisa menerima 1000 mahasiswa di tahun pertamanya setelah kampus Kepanjen berdiri.
Menurut Tomie, poin-poin kesepakatan ini bisa menjadi kerangka untuk kampus lain. Yang terdekat, UIN Malang disebut bakal mendirikan kampus juga di Kabupaten Malang. Tepatnya, di Kelurahan Sedayu, Kecamatan Turen. Dari pantauan langsung di lokasi, terdapat tanah milik Kabupaten Malang di sisi selatan SMAN 1 Turen.
Tanah tersebut saat ini masih dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan. Luas tanah yang dijanjikan kepada UIN kurang lebih 16 hektar. Namun demikian, belum ada kabar terbaru kapan hibah dilaksanakan. Tomie mengatakan, saat ini UIN masih perlu menentukan fakultas apa yang akan didirikan di Turen.
Sedangkan, Unisma di Karangploso dan Politeknik Pariwisata di Wonosari masih dalam pembicaraan awal. Secara umum, Tomie mengatakan dampak ekonomi dari pembangunan kampus diprediksi besar. Dia memakai contoh pengaruh UB terhadap peningkatan pendapatan warga Talangagung.
“Estimasi kasar kami, peningkatan pendapatan warga di Talangagung Kepanjen bisa sampai 10-15 persen. Harga tanah bahkan sudah naik,” jelas Tomie.
Menurutnya, dampak ekonomi seperti ini tak terelakkan. Kos-kosan akan laris. Pasar juga bakal semakin ramai. Warung-warung makan untuk mahasiswa juga berdiri. Selain itu, Pemkab Malang menjanjikan peningkatan infrastruktur jalan. Sehingga, estimasi peningkatan ekonomi sampai 15 persen itu bisa terwujud.
Menyikapi lahan hibah dari Pemkab Malang, Wakil Rektor IV UB Dr Moch Sasmito Djati MS menuturkan, dengan perjanjian itu, pembangunan kampus UB akan segera dijalankan. "Untuk membangunnya ini masih perlu biaya. Kita akan membangun secara bertahap. Pembangunan akan dimulai tahun depan," terangnya saat ditemui.
Menurutnya, total biaya yang akan digunakan untuk pembangunan kampus Kepanjen masih belum dilakukan perincian. Pasalnya, pihak UB akan membangun secara bertahap, sesuai dengan dana yang dimiliki. "Target selesainya itu tergantung biaya yang ada. Biaya pembangunan ditanggung kami sepenuhnya," ujar Sasmito.
Dia menambahkan, dengan status hibah, tidak ada bagi hasil dengan Pemkab Malang. Hanya saja, biaya pembangunan diserahkan sepenuhnya kepada UB. "Kami tinggal mengelola lahan tersebut," sambungnya.
Sasmito menambahkan, di lahan 30 hektar itu akan didirikan seluruh fakultas yang dimiliki oleh UB. Nantinya gedung baru itu akan menjadi tempat belajar mahasiswa tingkat satu dan tingkat dua. Perkiraan jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kampus Kepanjen itu sekitar 35 ribu orang. "Semoga banyaknya mahasiswa akan ikut menumbuhkan perekonomian di Kabupaten Malang," harapnya.
Sementara Universitas Islam Malang (Unisma) saat ini sedang membangun semacam Metro Education di wilayah Karangploso. Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi mengatakan, alasan pihaknya memilih Karangploso karena keinginan ikut membangun dan memajukan kawasan di Kabupaten Malang. Selain itu dia memandang, di wilayah itu juga banyak pondok pesantren maupun SMA dan SMK unggulan. Sehingga memiliki lulusan peserta didik yang potensial. "Jadi Unisma ingin bersinergi dengan sekolah tersebut-tersebut dan kampus kami dekat dengan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Singosari," tuturnya.
Maskuri mengungkapkan, lahan Unisma di Karangploso seluas 80 hektar dan merupakan hak milik yayasan. Bukan hibah atau sewa kepada masyarakat atau pemerintah. Di lahan itu, selain kampus untuk pembelajaran akademik, akan disinergikan dengan edu wisata. Unisma berencana bakal membuka kebun jeruk, kebun kopi, dan kebun alpukat sebagai tempat rekreasi. Selain itu, Maskuri memiliki impian besar dengan membangun sirkuit motorcross internasional. " Jadi total untuk semua bisa saja menghabiskan Rp 2-3 triliun. Namun kami berproses, nanti juga akan kolaborasi dengan pihak lain. Pemerintah, swasta maupun dari luar negeri," kata dia.
Saat ini, pengembangan kampus di wilayah Karangploso, baru pembangunan laboratorium untuk beberapa program studi. Seperti pertanian, peternakan, MIPA, teknik dan kedokteran. Selain di Karangploso, dituturkan Maskuri, Unisma terus melakukan ekspansi di wilayah Malang Raya lainnya. Di antaranya Madyopuro, Kebonagung dan Wagir. "Semua ini ditujukan untuk mendukung MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) dan pengembangan mahasiswa," ujar Maskuri. (fin/adk/abm) Editor : Mardi Sampurno