LAWANG – Produk ecoprint asal Lawang sepi pembeli lokal, namun diminati warga Amerika Serikat. Karena itu, para perajin akan memaksimalkan pemasarannya ke mancanegara, sehingga bisa menembus pasar internasional.
Untuk diketahui, ecoprint adalah teknik pembuatan motif kain yang memanfaatkan daun-daun dari tanaman liar. Seperti daun eucalyptus maupun daun-daun dari tanaman yang sudah dikepras seperti daun jambu. Sedangkan, bunga yang dimanfaatkan seperti bunga cosmos, waru, dan gerbera.
”Kami pernah memiliki pembeli asal Amerika. Mereka menyukai produk dengan warna-warna natural,” ujar pemilik K'isty Ecoprint Iis Istiqomah saat ditemui di Galeri K'isty Ecoprint, Desa Bedali, Kecamatan Lawang kemarin.
Menurutnya, selera orang luar negeri dan lokal berlawanan. Sebagai contoh, pembeli asal negara barat lebih menyukai kain yang memiliki motif abstrak dengan warna soft. Sedangkan pembeli lokal lebih menyukai motif yang jelas, seperti dedaunan atau bunga.
“Contohnya, ada kain yang kami anggap produk gagal karena motifnya tidak terbentuk, Namun ketika dijelaskan bahwa warna itu bekas getah tanaman, malah laku,” lanjut Iis.
Dalam pemasarannya, dia bekerja sama supplier di Bali. Mereka bertugas menjual produk-produk ecoprint ke wisatawan mancanegara. Selain itu, dia juga memasarkan produknya melalui pameran-pameran. Misalnya saat Festival Batik Singosari dan pameran di Jakarta tahun lalu.
Iis menuturkan, produk ecoprint biasanya memerlukan perawatan khusus. Seperti pencucian manual menggunakan sabun berbahan lerak. Namun lambat laun, warnanya akan semakin memudar. “Tapi ada juga produk ecoprint yang warnanya akan semakin eksotis ketika sering dicuci,” kata dia.(yun/dan).
Editor : Mahmudan