KEPANJEN - Potensi desa dapat diketahui melalui informasi statistik. Namun belum semua desa di Kabupaten Malang yang mampu menyajikan data statistik secara layak. Karena itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang mencanangkan program desa cinta statistik (cantik). Program tersebut diluncurkan di Pendapa Panji, Kepanjen, kemarin (25/7).
Kepala BPS Kabupaten Malang Erny Fatma Setyoharini memaparkan, banyaknya desa dan kelurahan di Kabupaten Malang tidak memungkinkan pelaksanaan dilakukan sekaligus. “Secara pencanangan memang 100 persen. Artinya, seluruh desa maupun kelurahan siap dilakukan pembinaan desa cantik,” ujar Erny kemarin. ”Tetapi pelaksanaan dilakukan secara bertahap,” tambahnya.
Ketika nanti sudah menjadi desa cantik, dia mengatakan, mereka dapat menyajikan data yang siap dipublikasikan. Sebab, BPS sudah memberi pembinaan, mulai dari penulisan definisi hingga cara mengolah data. Selain dalam bentuk dokumen, lanjutnya, data tersebut juga akan disajikan dalam bentuk info grafis yang diunggah di media sosial (medsos) desa tersebut. “Bahkan nanti juga akan bisa membuat videografis,” kata dia.
Erny menyebutkan, untuk tahap awal, dipilih lima desa yang ditentukan oleh Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Malang. Seperti Desa Sumberdem, Wonosari yang akan diikutkan dalam lomba desa cantik nasional. Kemudian empat desa lainnya yakni Desa Pojok, Sengguruh, Toyomarto, dan Srigonco.
Plt Kepala Diskominfo Kabupaten Malang Ferry Hari Agung memaparkan, desa-desa tersebut dipilih karena terbukti sudah menorehkan prestasi. “Salah satunya Desa Sumberdem yang meraih penghargaan Paralegal Justice Award. Makanya kami akan ikutkan lomba desa cantik ke tingkat nasional,” ucap Ferry.
Selain itu, penyelenggaraan program desa cantik sekaligus untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di pemerintah desa maupun kelurahan. Utamanya dalam bidang pengolahan data. Dengan demikian, akan berpengaruh positif terhadap peningkatan literasi data di tingkat desa maupun kelurahan.
Sedangkan Bupati Malang H M. Sanusi menyebutkan, untuk sementara masih lima desa yang menjadi pilot project pencanangan desa cantik. Selanjutnya akan dilanjutkan secara bertahap sampai semua desa bisa mewujudkan program tersebut.
Orang nomor satu di Pemkab Malang itu juga menyampaikan, salah satu produk desa cantik adalah desa dalam angka. “Kalau dokumen kabupaten dalam angka itu belum dikolaborasikan dengan potensi-potensi lain di desa. Kalau desa dalam angka sudah mencakup semuanya,” pungkasnya. (yun/dan).
Editor : Mahmudan