Butuh Investasi Rp 1,5 T
KEPANJEN - Bupati Malang H M. Sanusi berencana membangun pabrik tisu.
Bahan bakunya akan diambil dari ampas sisa penggilingan tebu yang melimpah.
Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi Rp 1,5 triliun.
“Ini lagi penjajakan dengan investor dari Tiongkok. Kami mendiskusikan supaya ampas tebu bisa diolah menjadi tisu,” ujar Sanusi beberapa waktu lalu.
“Supaya dapat menambah pendapatan petani tebu,” tambahnya.
Dia memaparkan, luas lahan tebu sekitar 44 ribu hektare.
Itu sekitar 27,28 persen dari total lahan pertanian di Kabupaten Malang yang mencapai sekitar 161 ribu hectare.
“Ini lagi penjajakan dengan investor dari Tiongkok. Kami mendiskusikan supaya ampas tebu bisa diolah menjadi tisu.”
H M. SANUSI
Bupati Malang
Dari luas lahan tersebut, produksinya mencapai sekitar 4 ton per tahun.
Potensi limbah ampas dari 4 ton tebu itulah yang diolah.
Sehingga batang tebu yang sudah diambil sari atau cairannya, masih dapat bermanfaat.
“Nantinya, pabrik tersebut akan ditempatkan di kawasan industri, yakni Kecamatan Jabung,” kata dia.
Sanusi berharap, rencana tersebut akan terwujud dalam kurun dua tahun ke depan.
“Investasinya bisa mencapai Rp 1,5 triliun,” kata politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.
Untuk diketahui, ampas tebu memang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif.
Salah satu nya untuk tisu dengan cara menumbuk ampas tebu hingga tersisa serat halusnya.
Selain tisu, juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan wood pellet, yakni bahan bakar pengganti batu bara.
Seperti diberitakan, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicena Medisica Sani Putera menyebut, produksi tebu dari Kabupaten Malang mampu mencukupi kebutuhan gula di Jawa Timur.
Namun, produksinya harus terus dimaksimalkan.
Sebab, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang menyebut, produksi tebu pada 2022 mencapai 4,09 juta ton turun menjadi 4,01 juta ton pada 2023.
“Masyarakat itu tidak mau membongkar lahannya. Jadi, setelah dipanen, ditumbuhkan dan dipelihara lagi (rawat ratun),” kata dia.
Dia menjelaskan, rawat ratun hanya efektif dilakukan selama 56 tahun.
Lebih dari jangka waktu tersebut, kualitas produksi tanaman tebu akan menurun.
Sedangkan masyarakat menerapkan rawat ratun sampai 10 tahun.
Karena itu, sempat terjadi penurunan produksi.
Untuk memaksimalkan produksi, Kabupaten Malang menyiapkan tebu dengan varietas baru.
Yakni tebu pringu yang sentra pengembangannya di Kecamatan Bululawang dan beberapa kecamatan lain.
Varietas tersebut sudah diresmikan sejak November 2023 lalu dan kini sedang dikembangkan.
Produksinya diperkirakan mencapai 1.000 kuintal per hektare atau 100 ton per hektare.
Rendemen varietas tersebut juga terhitung bagus.
Yakni mencapai 12,15 persen.
Artinya, dari 100 kilogram tebu dapat menghasilkan 12,15 kilogram gula. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana