Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

10 Ruang SMK Turen Tak Bisa Difungsikan, Pembelajaran Terganggu

Aditya Novrian • Jumat, 9 Januari 2026 | 12:36 WIB
Ilustrasi ruang kelas
Ilustrasi ruang kelas

TUREN – Aktivitas belajar mengajar di SMK (STM) Turen terganggu serius pascakericuhan yang terjadi pada 28 Desember 2025 lalu. Sebanyak 10 ruang vital hingga kini tidak dapat digunakan. Dampaknya, sejumlah mata pelajaran terpaksa dialihkan ke ruang yang tidak semestinya, bahkan sebagian pembelajaran dilakukan secara daring.

Sepuluh ruang yang terdampak itu meliputi tiga laboratorium komputer, tiga ruang kelas, satu ruang tata usaha (TU), satu ruang guru, satu ruang kepala sekolah, dan satu ruang staf. Kericuhan tersebut dipicu konflik berkepanjangan antara Yayasan Pendidikan Teknologi Waskito Turen (YPTWT) dan Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPTT).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas STM Turen Nur Afidah menjelaskan, ruang-ruang tersebut dikuasai pihak lain sehingga tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar. Akibatnya, sekolah harus memutar otak agar proses pembelajaran tetap berjalan.

Kronologi Konflik Dualisme Yayasan SMK Turen
Kronologi Konflik Dualisme Yayasan SMK Turen

”Pembelajaran jelas terganggu. Untuk laboratorium komputer misalnya, biasanya digunakan 4 sampai 8 jam. Karena tidak bisa dipakai, kami alihkan ke ruang yang tidak seharusnya seperti perpustakaan,” ujar Afidah saat ditemui kemarin (8/1) kepada Jawa Pos Radar Kanjuruhan.

Menurut dia, ruang-ruang itu memang tidak disegel atau ditempati permanen. Namun, kerap digunakan untuk mobilisasi orang-orang yang tidak dikenal. Hal itu membuat guru dan siswa merasa tidak nyaman.

”Anak-anak banyak bertanya. Mereka itu siapa, kenapa seperti itu. Ini kan lingkungan sekolah, seharusnya aman dan kondusif,” imbuhnya.

Ketua Umum YPTWT Mulyono menuturkan, sengketa dua yayasan sudah berlangsung lama. Namun, situasi memanas setelah terjadi kericuhan yang melibatkan orang-orang luar. Guru dan siswa resah karena adanya dugaan preman masuk ke lingkungan sekolah.

”Kami tetap santun dan persuasif. Tapi karena KBM terganggu, anak-anak juga protes. Kami wadahi dengan istighosah supaya tidak terjadi tindakan anarkis,” kata Mulyono.

Ia menambahkan, para guru juga telah mendatangi Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk menyampaikan kondisi tersebut. Hingga kini, STM Turen dan SMP Bhakti Turen yang berada di bawah naungan YPTWT memilih menjalankan pembelajaran daring. Langkah itu diambil karena guru belum berani memasukkan siswa ke sekolah.

”Ini juga bentuk protes kami. Kami tidak ingin anak-anak terpapar situasi yang tidak aman,” tegasnya.

Di sisi lain, Ketua YPTT Hadi Suwarno Putro membantah pihaknya mengganggu kegiatan belajar mengajar. Ia mengklaim hanya mempertahankan satu kantor dan tidak pernah mengintervensi aktivitas sekolah.

”YPTT tidak pernah menjamah laboratorium atau ruang kelas. Kalau ada ruangan kosong, itu bukan karena kami,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris YPTT Agus Setiawan mengakui pihaknya sempat merobohkan pagar. Menurutnya, langkah itu dilakukan karena upaya dialog selalu ditolak. Ia menegaskan, bangunan tersebut merupakan aset sah YPTT berdasarkan putusan pengadilan yang telah inkrah.

”Kami punya dasar hukum. Sejak 1972 atas nama YPTT. Gugatan di PN sampai kasasi kami menangkan. Tidak ada PK, jadi secara legal itu hak kami,” tegas Agus. (yun/adn)

Editor : Aditya Novrian
#stm #TU #YPTTK #Kabupaten Malang