Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sempat Terancam Amputasi, Munir Kini Pulih dan Produktif seusai Ditangani RSSA

Aditya Novrian • Senin, 16 Februari 2026 | 15:07 WIB
Nabila Amelia / Radar Malang PANTANG MENYERAH: Munir menunjukkan kopi dan keset hasil buatannya, beberapa hari lalu.
Nabila Amelia / Radar Malang PANTANG MENYERAH: Munir menunjukkan kopi dan keset hasil buatannya, beberapa hari lalu.

Tiga bulan setelah pulang merantau dari salah satu daerah di pesisir utara ujung timur Pulau Jawa, Munir merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Tepatnya di bagian telapak tangan maupun kaki. Di dua bagian itu mendadak muncul lesi berwarna merah kehitaman.

Namun, dia tidak merasakan gatal atau sakit. Rasanya hanya kebas. Itu terjadi pada 2019 lalu. Karena khawatir mengalami penyakit tertentu, dia mencoba memeriksakan diri ke Puskesmas Lawang.

Tenaga kesehatan Puskesmas menyampaikan bahwa yang dialami Munir hanya alergi. Agar lesi berwarna kehitaman di kulitnya menghilang, Munir diberi salep. Dua bulan menggunakan salep dari Puskesmas, lesinya tak kunjung menghilang.

Tak bisa berbuat banyak, pihak Puskesmas pun menyarankan Munir untuk memeriksakan diri ke RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. Munir mengiyakan saran tersebut. Dia lantas ke RSSA dengan diantar dua kakaknya. Di sana, Munir mendapat pemeriksaan laboratorium.

Dokter sebenarnya meminta Munir datang kembali beberapa waktu setelah menjalani pemeriksaan laboratorium. Tujuannya untuk menyampaikan hasil pemeriksaan. Namun Munir tidak datang. ”Waktu itu ada kendala biaya dan bersamaan dengan ibu yang terkena serangan jantung,” kenang lelaki berusia 34 tahun itu.

Memasuki tahun 2020, kondisi kesehatan Munir semakin menurun. Dia kesulitan untuk bergerak. Selain sulit bergerak, beberapa kukunya lepas satu per satu. Muncul bintik-bintik di bagian kulit juga. Lalu, penglihatan mata kirinya berangsur-angsur menurun.

Melihat kondisi Munir, orang tua bersama dua kakaknya mencoba memberikan perawatan seadanya. Pola makan Munir benar-benar dijaga. Dia juga dilatih untuk bisa bergerak secara normal lagi. ”Supaya bisa membantu saya bergerak dan berjalan, keluarga membuatkan kursi roda dari kayu. Kebetulan kaki saya waktu itu kondisinya sampai menekuk,” kata warga Dusun Krajan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang itu.

Saat berada dalam kondisi yang sulit bergerak itu, Munir sempat mendapat kunjungan dari Lingkaran Sosial (Linksos). Organisasi nirlaba yang fokus pada pemberdayaan disabilitas itu berkunjung setelah diberi tahu kondisi Munir oleh pengurus Puskesmas Lawang. Mereka juga mengajak Munir ikut kegiatan bersama jika mulai pulih.

Selain memberikan perawatan di rumah, ikhtiar melalui rumah sakit kembali dilakukan. Oleh pihak puskesmas, Munir sempat diarahkan berobat ke RSUD Lawang dan Rumah Sakit Prima Husada Singosari. Paling lama, Munir ditangani di Rumah Sakit Prima Husada.

Namun pada bulan kedua, Munir memutuskan berhenti datang ke rumah sakit. Itu setelah tim dokter menyampaikan bahwa kaki Munir harus diamputasi. ”Selama berobat di dua rumah sakit itu, saya masih belum tahu kalau terkena kusta. Dokter selalu menyampaikan bahwa saya mengalami alergi,” terang putra pasangan Miun dan Tasmi tersebut.

Untuk lebih memperkuat diagnosis, Munir didorong untuk kembali memeriksakan diri ke RSSA. Pada awal 2023, Munir kembali pergi ke RSSA. Kali ini sendiri karena dua kakaknya bekerja. Saat itu lah dia didiagnosis kusta.

Selama sepekan, Munir harus bolak-balik ke RSSA sebanyak empat kali.

”Perjalanan dari rumah ke RSSA biasanya sekitar 1 jam,” kata bungsu dari tiga bersaudara tersebut. Setiap datang ke RSSA, Munir diminta cek darah untuk mengecek kadar bakteri kusta yang ada dalam tubuhnya. Di samping itu, dia juga diberi obat. Obat tersebut dikonsumsi hingga 10 kali. Efeknya, bakteri kusta di tubuh menjadi nihil.

Namun, kontrol rutin ke RSSA tetap harus dilakukan. Sebab, oleh dokter spesialis kulit dan kelamin, Munir diminta mengikuti rehabilitasi medik. Tujuannya memulihkan organ gerak. Di sana, dia bertemu dokter spesialis bernama Prisca.

Lewat dokter Prisca, Munir banyak dibantu dalam mendapatkan akses pengobatan. Tidak hanya memulihkan organ gerak, tapi juga memeriksakan kemampuan melihat mata kirinya yang berkurang pasca-terjangkit kusta.

”Beliau juga yang membawa saya ke Kota Surabaya untuk mencari sepatu khusus,” terang Munir. Selain menjalani rehabilitasi medik di RSSA, Munir juga berobat ke Persada Hospital dalam rangka menangani mata kirinya.

Sekitar enam bulan, Munir harus rutin ke dua rumah sakit. Di sela-sela berobat, pada akhir 2023, Munir mulai mencoba bangkit. Dia belajar membuat kopi bubuk. Mulai dari menyangrai biji kopi sampai pengemasan. Satu kali produksi, Munir bisa menghabiskan 5 sampai 10 kilogram biji kopi.

Setiap kilogram, Munir bisa menghasilkan 15 pack kopi bubuk kemasan 50 gram. Satu pack kopi kemasan itu dibanderol dengan harga Rp 50 ribu. ”Untuk pemasaran, awalnya saya dibantu bapak. Bapak menawarkan keliling sampai ke pasar, tapi sekarang saya jual lewat online,” tegas dia.

Selain kopi, Munir juga kerap ikut kegiatan bersama Linksos. Oleh founder Linksos yakni Ken Kertaningtyas bersama pengurus lain, Munir diajari cara membuat keset dari kain perca. Jika ada pesanan, keset yang dibuat Munir biasanya akan diambil.

Sesekali Munir mencoba ikut pameran UMKM yang digelar di Kota Malang. Namun Munir hanya ikut pameran yang tidak mengeluarkan biaya. Munir kini juga berjualan keripik.

Karena belum pulih 100 persen, Munir masih banyak berjualan dari rumah. Dia juga mengurangi intensitas berjualan keliling agar tidak kelelahan dan terpapar sinar matahari secara berlebihan.

Munir kini sedang menunggu giliran operasi untuk kakinya. Pada kakinya terdapat luka terbuka akibat kusta yang harus ditangani. ”Kata dokter ini tidak selamanya. Dari hasil pemeriksaan terakhir, kondisi saya semakin baik meski tidak bisa kembali normal sepenuhnya,” tandas dia. (*/by)

Disunting kembali oleh : Anna Tasya Enzelina

Editor : Aditya Novrian
#kusta #lawang #RSSA