MALANG KOTA – Menjelang Tahun Baru China (Imlek) pada bulan Februari mendatang, pengusaha lampion di Kota Malang mulai ada yang kebanjiran orderan. Pengusaha yang beruntung tersebut adalah Hasanuddin, 35, warga Jl Juanda, Kota Malang.

Menurut Hasanuddin, jika di hari biasa omzet penjualannya kisaran Rp 3 juta sampai Rp 4 juta, menjelang perayaan Imlek kali ini omzetnya terdongkrak naik hingga dua kali lipat. ”Omzetnya bisa berkisar Rp 7 juta sampai Rp 8 juta,” terangnya. Kenaikan omzet lampion ini dikarenakan setiap tahun menjelang Imlek, pihaknya menerima orderan dari Belanda. ”Untuk kali ini orderan dari Belanda ada sebanyak dua ribu lampion berkarakter shio,” ujarnya.

Hasanuddin menjelaskan, lampion dengan karakter shio ini dibuat sesuai dengan permintaan pemesan, untuk kali ini, dia akan membuat lampion dengan diameter 40 sentimeter dan umumnya didominasi warna merah. ”Proses pengerjaannya oleh 5 orang,” ujarnya.  Pria yang mengawali bisnis lampion sejak 20 tahun silam ini juga menambahkan bahwa jika untuk harga, tergantung pada tingkat kerumitan dan bahannya. ”Kalau ada gambarnya bisa mencapai Rp 100 ribu per item, kalau pesanan dari Belanda itu harganya Rp 60 ribu per item,” pungkasnya.

Sementara itu, pantauan Jawa Pos Radar Malang, kawasan Jl Juanda, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, memperlihatkan sebagai kawasan perkampungan yang konsisten dalam mempertahankan ciri khasnya sebagai kampung perajin lampion. Karena sejumlah warganya terlibat aktif dalam pembuatan kerajinan lampion. Hasil karya mereka tersebar luas tidak hanya di wilayah regional, namun juga nasional dan internasional.

Lampion yang diproduksi oleh para pengusaha di Kampung Lampion itu rata-rata dibuat berbentuk bola, oval, maupun kapsul. Warnanya juga beraneka ragam, antara lain merah, biru, pink, tosca, putih juga cokelat.

Pewarta               : Andini
Copy Editor          : Amalia Safitri
Penyunting          : Mardi Sampurno
Fotografi              : Rubianto