JAKARTA – Meninggalnya Shinta Putri Dina Pertiwi, 22, mahasiswi asal Kota Malang, di Danau Trebgas, Badesse, Bavaria, Jerman, Rabu (8/8), mendapat perhatian besar dari pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri RI siap membiayai pemulangan jenazah Shinta dari Jerman ke rumah korban di Jalan Bandulan XII Kota Malang.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal menjelaskan, perwakilan Indonesia di Jerman baru mendapatkan kabar Shinta Putri tenggelam dari otoritas setempat Kamis sore (9/8). Jenazah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Bayreuth, Jerman, ini sudah diotopsi pada Senin lalu (13/8) oleh otoritas setempat. Namun, hingga kemarin (14/8) belum ada kabar kapan jenazah Shinta akan dipulangkan. Sebab, pihak keluarga agak kesulitan menanggung seluruh biaya pemulangan. Karena untuk memulangkan jenazah, setidaknya butuh biaya di atas Rp 60 juta.

Nah, untuk membantu keluarga korban, Iqbal menyatakan, Kemenlu siap membantu pemulangan jenazah. Jika keluarga Shinta sudah memiliki biaya untuk pemulangan jenazah, Kemenlu akan membantu pengurusan proses administrasinya saja. Termasuk penanganan jenazah di bandara Jerman maupun setibanya di tanah air.

Namun, jika keluarga Shinta tidak mampu membiayai proses pemulangan jenazah, Kemenlu juga bersedia membiayai pemulangannya. ”Perwakilan kami di Jerman akan melakukan yang terbaik,” tuturnya.

Sebagaimana dikabarkan pada Kamis pekan lalu (9/8), Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Frankfurt menerima kabar tentang kematian mahasiswi Shinta Putri Dina Pertiwi akibat tenggelam di Danau Trebgas, Badesse, Bavaria, Jerman. Sehari sebelumnya (8/8), Shinta bersama kedua temannya mengunjungi danau itu.

Menurut salah satu temannya, Shinta tidak keluar lagi setelah dua jam dirinya menunggu di danau. Kejadian ini akhirnya disampaikan ke polisi setempat. Setelah dilakukan pencarian, jenazah Shinta ditemukan Kamis (9/8) sekitar pukul 17.00 waktu setempat.

Sementara itu, untuk prosesi pemulangan jenazah dari luar negeri ke Indonesia begitu rumit. Di antaranya, mengurus administrasi di RS selama penyimpanan sementara jenazah, mengurus dokumen perjalanan resmi ke  Kedutaan Besar RI, minta surat kematian ke RS untuk diserahkan ke maskapai, jenazah harus diawetkan selama pengiriman via pesawat memakai es kering atau dry ice (selengkapnya baca grafis).

 

Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Darmono