Kapolrestabes Makassar Kombespol Dwi Ariwibowo menunjukkan barang bukti kekerasan fisik yang dialami taruna ATKP Makassar, Aldama Putra. (Sahrul Ramadan/ JawaPos.com)

Sebelum meninggalkan lingkungan kampus, Daniel sempat berpesan kepada Aldama. Jika Aldama membutuhkan keperluan, dia bisa menghubungi Daniel atau bisa melalui pengasuh yang juga merupakan anggota TNI.

Di atas motor, Daniel bahkan sempat menoleh ke putranya. Sebelum akhirnya roda motornya benar-benar menapak aspal jalan raya, meninggalkan kampus. Itulah momen terakhir Daniel menatap senyum Aldama.

Daniel tidak pernah menyangka, Aldama meninggal dunia. Minggu malam sekitar pukul 20.00 WITA, Daniel menerima telepon. Telepon itu membawa kabar mengejutkan. Aldama dikabarkan jatuh di kamar mandi.

“Kebetulan saya lagi jaga (piket). Yang telepon pengasuhnya, saya disuruh ke Rumah Sakit Sayang Rakyat. Sempat saya tanya ngapain ke situ, dia (pengasuh) bilang anak saya jatuh,” tutur Daniel.

Daniel sontak kaget menerima kabar itu. Dia langsung bergegas memacu motornya menuju rumah sakit. Namun informasi yang disampaikan pihak kampus masih simpang siur. Daniel mencoba tenang. Masih berharap anaknya tidak mengalami cedera yang serius.

“Saya pikir dia patah (tulang) atau bagaimana. Di atas motor saya mikir di mana mau cari tukang urut,” ungkapnya.

Setibanya di rumah sakit, Daniel langsung disambut oleh pengasuh dan beberapa perwakilan pihak kampus. Mereka langsung menyampaikan kabar duka terkait meninggalnya Aldama. “Langsung saya kaget sekali. Gelap langsung saya punya penglihatan pas mereka bilang anak saya sudah tidak bisa tertolong,” lanjutnya.

Beberapa menit setelah menenangkan perasaan, Daniel meminta agar bisa melihat jenazah putranya. Saat itu lah Daniel curiga ada yang tidak beres.

“Pas saya masuk, saya lihat kaki dan tangannya sudah diikat. Mukanya sudah ditutup. Saya peluk dia, masih hangat badannya. Berarti memang barusan meninggal,” tambah Daniel.

Setelah membuka sedikit kain penutup jenazah, Daniel semakin melihat tanda-tanda kejanggalan. Tubuh anaknya seperti baru dihantam benda tumpul. Luka lebam terlihat jelas di wajah dan dada. “Paling kentara lukanya di atas alis dan di bawah mata,” sebutnya.

Daniel masih tak menyangka nyawa Aldama melayang sia-sia. Padahal harapan keluarga besarnya menggantung di pundak Aldama. “Saya tidak habis pikir. Seandainya bisa ditukar, saya rela meninggal duluan,” ucap warga Jalan Leo Wattimna, Kompleks TNI AU, Lanud Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros ini.

Senin dini hari (4/2), Daniel memutuskan untuk langsung melapor ke polisi. Kasus itu kemudian ditindaklanjuti oleh Polrestabes Makassar. Hari ini, mereka menetapkan satu tersangka yang terbukti menganiaya Aldama.

Daniel berharap kematian anaknya adalah yang terakhir. Dia meminta ATKP Makassar bisa mengawasi seluruh tarunanya agar tidak melakoni kekerasan. Dia juga berharap agar pelaku dihukum seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatan kejinya terhadap Aldama.

Editor           : Dida Tenola

Reporter      : Sahrul Ramadan

Copy Editor : Fersita Felicia Facette