21.6 C
Malang
Thursday, 2 February 2023

670 Kasus Baru HIV/AIDS Ditemukan

Rekapitulasi Sepanjang 2022 di Malang Raya 

MALANG KOTA – Dari tiga daerah di Malang raya, penambahan kasus baru HIV/AIDS yang terbanyak datang dari Kota Malang. Di tahun ini, total ada 390 kasus baru yang ditemukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Itu tercatat mulai Januari sampai Oktober lalu. 

Jumlah penambahan itu lebih banyak dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2021. Sebab saat itu Dinkes menemukan 239 kasus. Sementara sepanjang tahun 2021, penemuan kasus baru HIV/AIDS berjumlah 329 kasus (selengkapnya baca grafis). 

Sub Koordinator Sub Instansi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa mengatakan, pihaknya rutin menggelar tes untuk mengetahui kasus baru. Tes tersebut dilakukan melalui dua metode. ”Pertama, metode konseling dan testing sukarela (KTS) yang ditujukan bagi pihak-pihak yang berisiko tertular. Dan kedua, konseling dan tes atas inisiasi petugas (KTIP),” kata dia

Dilihat dari capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) HIV/ AIDS di Kota Malang, jumlah sasaran yang dites tahun 2021 berjumlah 31.061 orang. Sementara realisasinya 14.084 orang, atau setara 45,3 persen. ”Kemudian tahun 2022 target SPM-nya adalah 21.974 orang. Dengan jumlah yang berhasil dites sampai saat ini sudah lebih dari 12 ribu orang,” beber Bayu. 

Sejak program penemuan positif HIV/AIDS diberlakukan pada tahun 2005 sampai 2022, penerapan dua metode sudah menemukan 5.000-an kasus. Dari belasan ribu sasaran yang dites, ada beberapa kelompok yang mendominasi kasus HIV/ AIDS. Seperti laki sama laki (LSL). Berikutnya ada komunitas populasi kunci (ponci) yang terdiri dari pekerja seks, pengguna narkoba, kelompok MSM-transgender, dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). 

Untuk penanganan kasus HIV/ AIDS, Dinkes Kota Malang melakukan berbagai upaya. Seperti melakukan mobile clinic bersama teman-teman pendamping. Juga membuka pelayanan kesehatan melalui 30 fasilitas kesehatan (faskes). Yang meliputi satu klinik, 16 puskesmas, dan 13 rumah sakit. ”Yang positif HIV/AIDS biasanya dilayani dengan perawatan dukungan dan pengobatan (PDP). Sampai Oktober lalu, yang aktif berobat di seluruh layanan sebanyak 1.663 orang,” tambah Bayu. 

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menyebut kasus HIV/AIDS bisa disebabkan banyak faktor. Seperti perubahan gaya hidup hingga penggunaan jarum suntik. ”Penanganan sudah kami lakukan, baik di rumah sakit maupun puskesmas. Bahkan, obat-obatan juga tersedia,” tambah mantan Direktur RSUD Kota Malang itu. 

Penambahan kasus yang terbanyak selanjutnya datang dari Kabupaten Malang. Mulai Januari sampai November, ada 235 kasus baru yang ditemukan. ”Dari total itu, 55 orang berdomisili di luar Malang. Data ini didapat dari faskes se-Kabupaten Malang. Sementara yang testing HIV/AIDS sebanyak 26.005 orang,” terang Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo. 

Banyak faktor yang memengaruhi pertambahan ODHA. Misalnya, penyalahgunaan narkoba lewat jarum suntik. Kemudian, bergonta-ganti pasangan seksual. Dua faktor itu mendominasi penularan HIV/ AIDS di Kabupaten Malang. Sebagai bentuk penanganan, Wiyanto menyebut bila pihaknya menggerakkan sistem jejaring layanan kesehatan ODHA. 

”Kami libatkan kader, lembaga swadaya masyarakat untuk rujukan ODHA. Selain itu, kami juga sediakan pengobatan antiretroviral (ARV),” kata dia. Semua ODHA yang terdeteksi di faskes Kabupaten Malang bakal langsung ditangani. Mereka mendapat obat ARV secara gratis. Pengawasan terhadap kepatuhan minum ARV dilakukan kader dan petugas kesehatan. 

Karena sebaran ODHA merata di semua kecamatan, Dinkes menyiapkan semua faskes dengan ARV. Wiyanto memastikan ketersediaannya di 39 Puskesmas di Kabupaten Malang. Dua rumah sakit pemerintah daerah, yakni RSUD Lawang dan Kanjuruhan juga membuka pelayanan ODHA. Tak terkecuali, empat rumah sakit swasta. Yakni Marsudi Waluyo, RS UMM, RSI Gondanglegi, dan RS Bala Keselamatan. Selain itu, Dinkes Kabupaten 

Malang juga sudah menyediakan program layanan sosial. ”Kami ada pembinaan kelompok ODHA. Ini tergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Pelaksananya puskesmas setempat,” imbuh mantan Kepala Puskesmas Pakis tersebut. 

Dinkes juga menginisiasi kelompok Warga Peduli AIDS (WPA). Kelompok itu dikembangkan di 33 kecamatan. Puskesmas juga mendapat tugas tambahan advokasi. Terutama bila ada tindakan diskriminasi terhadap ODHA. Baik di tempat kerja, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal ODHA. 

Diskriminasi ODHA di Kota Batu Masih Tinggi 

Di tempat lain, Dinkes Kota Batu mencatat adanya tambahan 45 kasus baru HIV/AIDS. Itu tercatat mulai Januari sampai 30 November. Bila ditotal, sepanjang tahun ini ada 670 kasus baru HIV/AIDS yang ditemukan di Malang raya. 

Kasus baru yang ditemukan di Kota Batu tidak hanya berasal dari warga di sana saja. Dari total 45 kasus baru, 12 di antaranya merupakan warga luar Kota Batu. Bila ditotal secara keseluruhan, jumlah ODHA di Kota Batu sejak 2014 hingga tahun ini berjumlah 346 orang. Kepala Dinkes Kota Batu drg Kartika Trisulandari menyebut bila usia ODHA berada di kisaran 25 sampai 49 tahun. Itu cukup menjelaskan bahwa kelompok usia produktif lah yang mendominasi. ”Tren kenaikan kasusnya pada ibu rumah tangga dan LSL,” kata dia. 

Lebih lanjut, dia mengakui bila stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di Kota Batu masih tinggi. Ini menyebabkan penemuan kasus baru terhambat, dan timbul masalah sosial yang kompleks. ”Mulai dari pengucilan masyarakat terhadap ODHA dan keluarga, hingga masalah pribadi dari ODHA sendiri. Misal menyangkut pekerjaan atau rumah tangga,” jelas Kartika. 

Selama ini, Dinkes Kota Batu melakukan tiga langkah untuk meminimalisir penularan HIV/ AIDS. Yang pertama dilakukan lewat kegiatan promotif berupa penyuluhan, pembagian leaflet, dan menyebarkan informasi mengenai HIV/AIDS ke masyarakat. Kegiatan tersebut banyak menyasar kalangan remaja. ”Berikutnya ada kegiatan preventif atau pencegahan berupa skrining populasi kunci. Seperti ibu hamil, pasien tuberculosis, pasien infeksi menular seksual (IMS), pekerja seks, waria, dan pengguna narkotika,” papar Kartika. 

Upaya preventif juga dilakukan dengan menerapkan sistem Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB). Di mana pasien tes HIV/ AIDS yang ditemukan positif akan dilanjutkan hingga ke pengobatan, konseling, dan dukungan moril. ”Kami juga mengupayakan untuk perbaikan sistem pelayanan,” tuturnya. Langkah selanjutnya yang dilakukan yakni perbaikan. (mel/fin/adk/ifa/by)

Rekapitulasi Sepanjang 2022 di Malang Raya 

MALANG KOTA – Dari tiga daerah di Malang raya, penambahan kasus baru HIV/AIDS yang terbanyak datang dari Kota Malang. Di tahun ini, total ada 390 kasus baru yang ditemukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Itu tercatat mulai Januari sampai Oktober lalu. 

Jumlah penambahan itu lebih banyak dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2021. Sebab saat itu Dinkes menemukan 239 kasus. Sementara sepanjang tahun 2021, penemuan kasus baru HIV/AIDS berjumlah 329 kasus (selengkapnya baca grafis). 

Sub Koordinator Sub Instansi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa mengatakan, pihaknya rutin menggelar tes untuk mengetahui kasus baru. Tes tersebut dilakukan melalui dua metode. ”Pertama, metode konseling dan testing sukarela (KTS) yang ditujukan bagi pihak-pihak yang berisiko tertular. Dan kedua, konseling dan tes atas inisiasi petugas (KTIP),” kata dia

Dilihat dari capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) HIV/ AIDS di Kota Malang, jumlah sasaran yang dites tahun 2021 berjumlah 31.061 orang. Sementara realisasinya 14.084 orang, atau setara 45,3 persen. ”Kemudian tahun 2022 target SPM-nya adalah 21.974 orang. Dengan jumlah yang berhasil dites sampai saat ini sudah lebih dari 12 ribu orang,” beber Bayu. 

Sejak program penemuan positif HIV/AIDS diberlakukan pada tahun 2005 sampai 2022, penerapan dua metode sudah menemukan 5.000-an kasus. Dari belasan ribu sasaran yang dites, ada beberapa kelompok yang mendominasi kasus HIV/ AIDS. Seperti laki sama laki (LSL). Berikutnya ada komunitas populasi kunci (ponci) yang terdiri dari pekerja seks, pengguna narkoba, kelompok MSM-transgender, dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). 

Untuk penanganan kasus HIV/ AIDS, Dinkes Kota Malang melakukan berbagai upaya. Seperti melakukan mobile clinic bersama teman-teman pendamping. Juga membuka pelayanan kesehatan melalui 30 fasilitas kesehatan (faskes). Yang meliputi satu klinik, 16 puskesmas, dan 13 rumah sakit. ”Yang positif HIV/AIDS biasanya dilayani dengan perawatan dukungan dan pengobatan (PDP). Sampai Oktober lalu, yang aktif berobat di seluruh layanan sebanyak 1.663 orang,” tambah Bayu. 

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menyebut kasus HIV/AIDS bisa disebabkan banyak faktor. Seperti perubahan gaya hidup hingga penggunaan jarum suntik. ”Penanganan sudah kami lakukan, baik di rumah sakit maupun puskesmas. Bahkan, obat-obatan juga tersedia,” tambah mantan Direktur RSUD Kota Malang itu. 

Penambahan kasus yang terbanyak selanjutnya datang dari Kabupaten Malang. Mulai Januari sampai November, ada 235 kasus baru yang ditemukan. ”Dari total itu, 55 orang berdomisili di luar Malang. Data ini didapat dari faskes se-Kabupaten Malang. Sementara yang testing HIV/AIDS sebanyak 26.005 orang,” terang Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo. 

Banyak faktor yang memengaruhi pertambahan ODHA. Misalnya, penyalahgunaan narkoba lewat jarum suntik. Kemudian, bergonta-ganti pasangan seksual. Dua faktor itu mendominasi penularan HIV/ AIDS di Kabupaten Malang. Sebagai bentuk penanganan, Wiyanto menyebut bila pihaknya menggerakkan sistem jejaring layanan kesehatan ODHA. 

”Kami libatkan kader, lembaga swadaya masyarakat untuk rujukan ODHA. Selain itu, kami juga sediakan pengobatan antiretroviral (ARV),” kata dia. Semua ODHA yang terdeteksi di faskes Kabupaten Malang bakal langsung ditangani. Mereka mendapat obat ARV secara gratis. Pengawasan terhadap kepatuhan minum ARV dilakukan kader dan petugas kesehatan. 

Karena sebaran ODHA merata di semua kecamatan, Dinkes menyiapkan semua faskes dengan ARV. Wiyanto memastikan ketersediaannya di 39 Puskesmas di Kabupaten Malang. Dua rumah sakit pemerintah daerah, yakni RSUD Lawang dan Kanjuruhan juga membuka pelayanan ODHA. Tak terkecuali, empat rumah sakit swasta. Yakni Marsudi Waluyo, RS UMM, RSI Gondanglegi, dan RS Bala Keselamatan. Selain itu, Dinkes Kabupaten 

Malang juga sudah menyediakan program layanan sosial. ”Kami ada pembinaan kelompok ODHA. Ini tergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Pelaksananya puskesmas setempat,” imbuh mantan Kepala Puskesmas Pakis tersebut. 

Dinkes juga menginisiasi kelompok Warga Peduli AIDS (WPA). Kelompok itu dikembangkan di 33 kecamatan. Puskesmas juga mendapat tugas tambahan advokasi. Terutama bila ada tindakan diskriminasi terhadap ODHA. Baik di tempat kerja, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal ODHA. 

Diskriminasi ODHA di Kota Batu Masih Tinggi 

Di tempat lain, Dinkes Kota Batu mencatat adanya tambahan 45 kasus baru HIV/AIDS. Itu tercatat mulai Januari sampai 30 November. Bila ditotal, sepanjang tahun ini ada 670 kasus baru HIV/AIDS yang ditemukan di Malang raya. 

Kasus baru yang ditemukan di Kota Batu tidak hanya berasal dari warga di sana saja. Dari total 45 kasus baru, 12 di antaranya merupakan warga luar Kota Batu. Bila ditotal secara keseluruhan, jumlah ODHA di Kota Batu sejak 2014 hingga tahun ini berjumlah 346 orang. Kepala Dinkes Kota Batu drg Kartika Trisulandari menyebut bila usia ODHA berada di kisaran 25 sampai 49 tahun. Itu cukup menjelaskan bahwa kelompok usia produktif lah yang mendominasi. ”Tren kenaikan kasusnya pada ibu rumah tangga dan LSL,” kata dia. 

Lebih lanjut, dia mengakui bila stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di Kota Batu masih tinggi. Ini menyebabkan penemuan kasus baru terhambat, dan timbul masalah sosial yang kompleks. ”Mulai dari pengucilan masyarakat terhadap ODHA dan keluarga, hingga masalah pribadi dari ODHA sendiri. Misal menyangkut pekerjaan atau rumah tangga,” jelas Kartika. 

Selama ini, Dinkes Kota Batu melakukan tiga langkah untuk meminimalisir penularan HIV/ AIDS. Yang pertama dilakukan lewat kegiatan promotif berupa penyuluhan, pembagian leaflet, dan menyebarkan informasi mengenai HIV/AIDS ke masyarakat. Kegiatan tersebut banyak menyasar kalangan remaja. ”Berikutnya ada kegiatan preventif atau pencegahan berupa skrining populasi kunci. Seperti ibu hamil, pasien tuberculosis, pasien infeksi menular seksual (IMS), pekerja seks, waria, dan pengguna narkotika,” papar Kartika. 

Upaya preventif juga dilakukan dengan menerapkan sistem Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB). Di mana pasien tes HIV/ AIDS yang ditemukan positif akan dilanjutkan hingga ke pengobatan, konseling, dan dukungan moril. ”Kami juga mengupayakan untuk perbaikan sistem pelayanan,” tuturnya. Langkah selanjutnya yang dilakukan yakni perbaikan. (mel/fin/adk/ifa/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/