21.6 C
Malang
Friday, 3 February 2023

Hubungan Seksual Masih Dominasi Penularan

Penyebaran HIV/AIDS umumnya terjadi karena kontak seksual. Bisa dari kalangan heteroseksual maupun homoseksual. Virus menyebar karena dipengaruhi berbagai macam faktor. Di antaranya sumber infeksi, jumlah virus, daya tahan tubuh, dan berapa lama atau berapa kali melakukan kontak. 

Spesialis penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Didi Candradikusuma SpPD menjelaskan, penularan utama HIV umumnya melalui hubungan seksual. Risikonya sekitar 0,3 persen. Tapi jika hubungan seksual dilakukan berulang, terlebih dengan orang yang tidak jelas status HIV-nya, maka risikonya bisa lebih besar lagi.

”Supaya tidak tertular, maka harus menghindari kontak atau risiko. Kalau sudah positif, harus minum ARV (antiretroviral). Dalam ketentuan baru, jika minum ARV selama enam bulan diharapkan virusnya sudah tidak terdeteksi lagi,” terang Didi. Meski nantinya sudah tidak terdeteksi atau undetectable, virus bukan berarti menghilang. 

Kondisi itu berarti virus sudah tidak menular ke orang lain secara seksual. Kesimpulan itu, kata Didi, berdasarkan hasil dari empat penelitian besar yang menghitung risiko penularan lewat hubungan seksual tanpa pengaman bila virus sudah undetectable. 

”Namun, untuk menuju kondisi undetectable, ada berbagai macam syarat. Seperti rajin menjalani pengobatan dan lain sebagainya,” sambung Didi. 

Sementara itu, saat disinggung seputar vaksin HIV yang beberapa waktu lalu sempat mencuat, Didi menyatakan bila sampai saat ini belum ada yang berhasil membuatnya. Sebab, virus HIV memiliki karakteristik yang tidak stabil dan gampang bermutasi. 

Sambil menunggu vaksin HIV, otoritas kesehatan melakukan alternatif melalui ARV. Namun, beberapa waktu terakhir pemerintah Indonesia sedang melakukan uji coba pengobatan HIV melalui metode Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) dan Post Exposure Prophylaxis (PEP). 

Bedanya, PrEP merupakan pengobatan yang dilakukan sebelum terpapar. Sementara PEP merupakan pengobatan pasca terpapar HIV dari pihak-pihak yang tidak diinginkan, seperti korban pemerkosaan. 

”Ini sedang diujicobakan di lima daerah. Salah satunya adalah Yogyakarta,” beber Didi. 

Upaya lainnya, Didi menyebutkan ada tips ABCDE. Yakni, abstinence atau tidak berhubungan seksual selama menjalani pengobatan, be faithful atau setia dengan satu pasangan, menggunakan kondom, menghindari drugs seperti jarum suntik sembarangan, dan terakhir edukasi. (mel/by)

Penyebaran HIV/AIDS umumnya terjadi karena kontak seksual. Bisa dari kalangan heteroseksual maupun homoseksual. Virus menyebar karena dipengaruhi berbagai macam faktor. Di antaranya sumber infeksi, jumlah virus, daya tahan tubuh, dan berapa lama atau berapa kali melakukan kontak. 

Spesialis penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Didi Candradikusuma SpPD menjelaskan, penularan utama HIV umumnya melalui hubungan seksual. Risikonya sekitar 0,3 persen. Tapi jika hubungan seksual dilakukan berulang, terlebih dengan orang yang tidak jelas status HIV-nya, maka risikonya bisa lebih besar lagi.

”Supaya tidak tertular, maka harus menghindari kontak atau risiko. Kalau sudah positif, harus minum ARV (antiretroviral). Dalam ketentuan baru, jika minum ARV selama enam bulan diharapkan virusnya sudah tidak terdeteksi lagi,” terang Didi. Meski nantinya sudah tidak terdeteksi atau undetectable, virus bukan berarti menghilang. 

Kondisi itu berarti virus sudah tidak menular ke orang lain secara seksual. Kesimpulan itu, kata Didi, berdasarkan hasil dari empat penelitian besar yang menghitung risiko penularan lewat hubungan seksual tanpa pengaman bila virus sudah undetectable. 

”Namun, untuk menuju kondisi undetectable, ada berbagai macam syarat. Seperti rajin menjalani pengobatan dan lain sebagainya,” sambung Didi. 

Sementara itu, saat disinggung seputar vaksin HIV yang beberapa waktu lalu sempat mencuat, Didi menyatakan bila sampai saat ini belum ada yang berhasil membuatnya. Sebab, virus HIV memiliki karakteristik yang tidak stabil dan gampang bermutasi. 

Sambil menunggu vaksin HIV, otoritas kesehatan melakukan alternatif melalui ARV. Namun, beberapa waktu terakhir pemerintah Indonesia sedang melakukan uji coba pengobatan HIV melalui metode Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) dan Post Exposure Prophylaxis (PEP). 

Bedanya, PrEP merupakan pengobatan yang dilakukan sebelum terpapar. Sementara PEP merupakan pengobatan pasca terpapar HIV dari pihak-pihak yang tidak diinginkan, seperti korban pemerkosaan. 

”Ini sedang diujicobakan di lima daerah. Salah satunya adalah Yogyakarta,” beber Didi. 

Upaya lainnya, Didi menyebutkan ada tips ABCDE. Yakni, abstinence atau tidak berhubungan seksual selama menjalani pengobatan, be faithful atau setia dengan satu pasangan, menggunakan kondom, menghindari drugs seperti jarum suntik sembarangan, dan terakhir edukasi. (mel/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru