alexametrics
21.5 C
Malang
Sunday, 2 October 2022

Pasien Kusta Meningkat Tiga Tahun Terakhir

MALANG KOTA – Penyakit kusta belum punah. Bahkan setelah pandemi Covid-19, RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang mencatat peningkatan jumlah pasien penyakit infeksi kronis itu. 

Berdasar data yang dihimpun pihak rumah sakit di Jalan Jaksa Agung Suprapto itu, sejak Januari sampai Juni 2022 tercatat 98 kunjungan penyakit. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun 2021, yakni sebanyak 86 kunjungan dan pada 2020 sebanyak 73 kunjungan.

Menurut dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin RSSA dr Dhelya Widasmara SpKK, selama pandemi terjadi ketakutan masyarakat untuk berobat ke rumah sakit. Pasien kusta pun takut tertular virus corona baru yang telah memakan banyak korban itu. Karena itulah, angka kunjungan pasien saat itu tidak terlalu tinggi. 

Padahal jika tidak ditangani sesegera mungkin, kusta juga sangat berbahaya. Untuk itu, dia meminta agar masyarakat mewaspadai gejala-gejala penyakit yang pernah menjadi mitos kutukan tersebut. ”Yakni, bercak putih seperti panu, bercak kemerahan yang berukuran sebesar koin hingga selebar telapak tangan, dan mati rasa atau kebas,” sebutnya. 

Ada juga gejala berupa benjolan di sekitar wajah. Kusta juga bisa menyerang gangguan saraf tepi tubuh penderitanya, sehingga menyebabkan beberapa anggota tubuh mengalami mati rasa. Gejala kusta lainnya diikuti dengan pembengkakan atau benjolan pada bagian sarafnya. Di samping itu bisa timbul rasa kesemutan, terutama pada siku hingga jarijari tangan atau pada area sekitar punggung kaki. Gejala semacam itu muncul jika terjadi peradangan pada saraf tepi lengan (siku) atau tungkai bagian bawah (lutut). 

”Kuman kusta yang menyerang saraf di tangan dan kaki dapat mengakibatkan kelemahan otot. Menyerupai lumpuh atau sering disebut kaki semper atau tangan kiting,” jelasnya. 

Untuk penanganan kusta, Dhelya mengatakan Departemen/SMF Dermatologi dan Venereologi Universitas Brawijaya sudah membuat inovasi. Namanya Rawat Mandiri Kusta (Ramata) kit. Merupakan alat perawatan luka mandiri bagi penderita kusta. ”Ramata kit merupakan solusi bebas kecacatan. Untuk penggunaannya, pasien akan diarahkan oleh petugas kesehatan dan selanjutnya bisa melakukan perawatan mandiri di rumah,” terangnya. 

Inovasi itu akan mempermudah pasien untuk mencapai hasil terapi dan perawatan maksimal tanpa harus mengantre di rumah sakit. Perlengkapan yang ada dalam Ramata kit terdiri dari penggosok kaki, pelembab, obat antibiotik oles, cairan antiseptic, kasa steril, dan kasa gulung. (mel/fat)

MALANG KOTA – Penyakit kusta belum punah. Bahkan setelah pandemi Covid-19, RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang mencatat peningkatan jumlah pasien penyakit infeksi kronis itu. 

Berdasar data yang dihimpun pihak rumah sakit di Jalan Jaksa Agung Suprapto itu, sejak Januari sampai Juni 2022 tercatat 98 kunjungan penyakit. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun 2021, yakni sebanyak 86 kunjungan dan pada 2020 sebanyak 73 kunjungan.

Menurut dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin RSSA dr Dhelya Widasmara SpKK, selama pandemi terjadi ketakutan masyarakat untuk berobat ke rumah sakit. Pasien kusta pun takut tertular virus corona baru yang telah memakan banyak korban itu. Karena itulah, angka kunjungan pasien saat itu tidak terlalu tinggi. 

Padahal jika tidak ditangani sesegera mungkin, kusta juga sangat berbahaya. Untuk itu, dia meminta agar masyarakat mewaspadai gejala-gejala penyakit yang pernah menjadi mitos kutukan tersebut. ”Yakni, bercak putih seperti panu, bercak kemerahan yang berukuran sebesar koin hingga selebar telapak tangan, dan mati rasa atau kebas,” sebutnya. 

Ada juga gejala berupa benjolan di sekitar wajah. Kusta juga bisa menyerang gangguan saraf tepi tubuh penderitanya, sehingga menyebabkan beberapa anggota tubuh mengalami mati rasa. Gejala kusta lainnya diikuti dengan pembengkakan atau benjolan pada bagian sarafnya. Di samping itu bisa timbul rasa kesemutan, terutama pada siku hingga jarijari tangan atau pada area sekitar punggung kaki. Gejala semacam itu muncul jika terjadi peradangan pada saraf tepi lengan (siku) atau tungkai bagian bawah (lutut). 

”Kuman kusta yang menyerang saraf di tangan dan kaki dapat mengakibatkan kelemahan otot. Menyerupai lumpuh atau sering disebut kaki semper atau tangan kiting,” jelasnya. 

Untuk penanganan kusta, Dhelya mengatakan Departemen/SMF Dermatologi dan Venereologi Universitas Brawijaya sudah membuat inovasi. Namanya Rawat Mandiri Kusta (Ramata) kit. Merupakan alat perawatan luka mandiri bagi penderita kusta. ”Ramata kit merupakan solusi bebas kecacatan. Untuk penggunaannya, pasien akan diarahkan oleh petugas kesehatan dan selanjutnya bisa melakukan perawatan mandiri di rumah,” terangnya. 

Inovasi itu akan mempermudah pasien untuk mencapai hasil terapi dan perawatan maksimal tanpa harus mengantre di rumah sakit. Perlengkapan yang ada dalam Ramata kit terdiri dari penggosok kaki, pelembab, obat antibiotik oles, cairan antiseptic, kasa steril, dan kasa gulung. (mel/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/