alexametrics
28 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Hipertensi Incar Remaja, Empat Bulan 206 Pasien Meninggal Dunia

LIPUTAN HARI HIPERTENSI DUNIA

RATRI, bukan nama sebenarnya, hanya bisa menyesal. Pasien penyakit hipertensi menyadari selama ini dia kurang olahraga. Padahal dia penggemar makanan berlemak. Sehingga vonis hipertensi pun harus dia terima. “Saat pertama kali didiagnosis (lima tahun lalu), saya hanya meminum obat sampai dengan bulan kelima. Setelah itu, karena sudah merasa enak saya berhenti,” kenang pasien di RSSA Malang ini.

Rupanya, hipertensi yang diderita Ratri tak kunjung membaik. Saat kambuh dan tidak meminum obat dengan teratur, punggungnya akan terasa sakit seperti diremasremas. Sejak itu, dirinya pun merasa kapok. ”Ya awalnya sempat sedih setelah tahu dari dokter kalau saya harus meminum obat seumur hidup. Terlebih saya juga memiliki penyakit lain, yakni kolesterol. Akhirnya saya mulai minum obat teratur,” tuturnya. Ratri pun mengaku, hipertensi yang dideritanya timbul karena gaya hidupnya yang tidak teratur, kurang olahraga, dan hobi mengkonsumsi makanan yang berlemak. “Tapi, saya juga ada keturunan dari orang tua,” tutupnya.

Ratri merupakan satu dari ribuan pasien yang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Kota Malang. Dari data Dinas Kesehatan Kota Malang misalnya, pada tahun 2020 ditemukan sebanyak 39.172 kasus. Jumlah tersebut kemudian mengalami pertambahan menjadi 40.129 kasus di tahun 2021.

Diungkapkan Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kota Malang drg Muhammad Zamroni, estimasi atau target penemuan kasus hipertensi untuk tahun 2022 adalah sebanyak 272.270 orang. Semestinya, sampai dengan triwulan 1 (Januari-Maret 2022) ditemukan 68.087 pasien. “Namun, yang masih ditemukan baru 8.714 kasus. Jumlah ini meliputi kasus lama sebanyak 5.405 dan kasus baru 3.309. Sementara, jumlah kematian 206 kasus,” bebernya.

Kurangnya target pemeriksaan ini dikarenakan adanya puskesmas beserta beberapa klinik yang belum lengkap dalam pelaporan. Untuk itu, Dinkes Kota Malang terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melakukan pemeriksaan dini penyakit tidak menular. “Kemudian, apabila sudah terdiagnosa hipertensi maka harus menjalani pengobatan secara teratur,” kata Zamroni.

Menurut spesialis jantung Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Sasmojo Widito hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah seseorang terukur di atas 140/90 mmHg dalam minimal dua kali pemeriksaan yang berbeda waktu. Peningkatan tekanan darah ini nantinya bisa berkaitan dengan peningkatan risiko untuk menderita penyakit jantung koroner, gagal jantung, hingga stroke. “Ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan tekanan darah. Di antaranya, obesitas, resistensi insulin, asupan alkohol yang tinggi, asupan garam, gaya hidup, stres, dan asupan kalsium serta kalium yang rendah,” jelasnya.

Meski begitu, tidak ada gejala atau keluhan yang spesifik dari penderita hipertensi. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah selalu menjaga pola hidup sehat, seperti tidak merokok, menghindari minuman beralkohol, rutin melakukan aktivitas fisik, serta makan makanan bergizi yang rendah lemak. Pencegahan sejak dini pun juga perlu dilakukan. Yakni, melalui kontrol rutin ke fasilitas layanan primer jika memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, serangan jantung, dan stroke pada keluarga. “Tapi, kalau sudah terdiagnosis memiliki tekanan darah tinggi atau kondisi yang bisa memperparah seperti diabetes, obesitas, dislipidemia, dan hiperuresmia. Caranya ya tetap jaga gaya hidup, kontrol rutin ke tenaga kesehatan, hingga patuh dalam meminum obat,” ujarnya.

Tidak hanya mencegah maupun memperlambat terkena hipertensi, pola hidup sehat juga bisa mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Selain itu, pola hidup sehat juga akan mencegah kebutuhan terapi obat pada jenis hipertensi derajat 1. Namun, hipertensi bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan. Melainkan bisa dikontrol melalui beberapa pola hidup. Di antaranya, membatasi konsumsi garam dengan rekomendasi tidak lebih dari 1 sendok teh garam dapur atau 2 gram per hari, mengonsumsi makanan seimbang, menjaga berat badan agar tetap ideal, olahraga, dan berhenti merokok.

Selama pandemi pada tahun 2021, beberapa rumah sakit juga menemukan pasien hipertensi yang terinfeksi Covid-19. Misalnya saja, RS UB sebanyak 15 kasus, RSI Unisma 96 kasus, Persada Hospital 56 kasus, dan RSSA 137 kasus.

Menurut Sasmojo, hipertensi merupakan faktor risiko infeksi Covid-19. Pasien dengan hipertensi khususnya usia lanjut dan memiliki faktor-faktor risiko lainnya mempunyai risiko mengalami gejala yang berat selama terinfeksi Covid-19.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah hipertensi pada anak. Selama tribulan 1 tahun 2022, Dinkes Kota Malang menemukan sebanyak 9 anak dengan rentang usia 15 sampai dengan 19 tahun dengan hipertensi. Konsultan ginjal anak RSSA dr Astrid Kristina Kardani mengatakan, sering kali orang awam berpikir bahwa hipertensi hanya terjadi pada orangorang dewasa. Padahal, tren hipertensi pada anak hingga remaja mulai menunjukkan peningkatan, tetapi kurang terdeteksi sejak dini. Selain itu, terdapat perbedaan antara hipertensi anak dan orang dewasa.

Pada anak, khususnya mereka yang berusia di bawah 13 tahun, sebesar 80-85 persen penyebab utama timbulnya hipertensi adalah penyakit ginjal. “Sebab, ginjal merupakan organ tubuh yang terpenting dalam mengatur tekanan darah. Di dalam ginjal terdapat hormon renin. Jika hormon itu aktif, maka dapat meningkatkan tekanan darah,” ujarnya. Namun, pada anak dengan usia di atas 13 tahun faktorfaktor penyebab hipertensi mirip dengan yang terjadi di orang dewasa.

Lantas, bagaimana cara mendeteksi hipertensi pada anak? Astrid menyarankan supaya anak sehat di atas 3 tahun melakukan pemeriksaan darah setiap tahun sekali. Tetapi, bagi yang memiliki faktor risiko hipertensi, seperti riwayat lahir prematur, berat badan lahir rendah, dan memiliki keluarga dengan riwayat penyakit ginjal, maka harus segera diperiksakan. “Selain itu, orang tua harus mewaspadai perubahan warna urin menjadi kecoklatan, kemerahan, bahkan berbusa. Kemudian, waspadai juga bila ada pembengkakan di seluruh tubuh seperti pada mata, perut, atau kaki,” imbuhnya.

Jika anak sakit ginjal dan memiliki hipertensi tidak tertangani dengan baik, maka akan terjadi gagal ginjal kronik yang berujung cuci darah. Dalam penelitian di RSSA tahun 2016, dari 41 pasien anak dengan hipertensi usia paling sering 5-10 tahun dengan penyebab kelainan ginjal. Dalam prosesnya, skrining hipertensi pada anak kerap mengalami kendala. Salah satunya karena tidak tersedianya manset untuk mengukur tekanan darah yang ukurannya tidak sesuai dengan lengan anak. Namun, orang tua tidak perlu khawatir. Sebab, pemeriksaan tekanan darah bisa dilakukan secara mandiri di rumah jika memiliki tensimeter digital. (mel/abm)

LIPUTAN HARI HIPERTENSI DUNIA

RATRI, bukan nama sebenarnya, hanya bisa menyesal. Pasien penyakit hipertensi menyadari selama ini dia kurang olahraga. Padahal dia penggemar makanan berlemak. Sehingga vonis hipertensi pun harus dia terima. “Saat pertama kali didiagnosis (lima tahun lalu), saya hanya meminum obat sampai dengan bulan kelima. Setelah itu, karena sudah merasa enak saya berhenti,” kenang pasien di RSSA Malang ini.

Rupanya, hipertensi yang diderita Ratri tak kunjung membaik. Saat kambuh dan tidak meminum obat dengan teratur, punggungnya akan terasa sakit seperti diremasremas. Sejak itu, dirinya pun merasa kapok. ”Ya awalnya sempat sedih setelah tahu dari dokter kalau saya harus meminum obat seumur hidup. Terlebih saya juga memiliki penyakit lain, yakni kolesterol. Akhirnya saya mulai minum obat teratur,” tuturnya. Ratri pun mengaku, hipertensi yang dideritanya timbul karena gaya hidupnya yang tidak teratur, kurang olahraga, dan hobi mengkonsumsi makanan yang berlemak. “Tapi, saya juga ada keturunan dari orang tua,” tutupnya.

Ratri merupakan satu dari ribuan pasien yang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Kota Malang. Dari data Dinas Kesehatan Kota Malang misalnya, pada tahun 2020 ditemukan sebanyak 39.172 kasus. Jumlah tersebut kemudian mengalami pertambahan menjadi 40.129 kasus di tahun 2021.

Diungkapkan Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kota Malang drg Muhammad Zamroni, estimasi atau target penemuan kasus hipertensi untuk tahun 2022 adalah sebanyak 272.270 orang. Semestinya, sampai dengan triwulan 1 (Januari-Maret 2022) ditemukan 68.087 pasien. “Namun, yang masih ditemukan baru 8.714 kasus. Jumlah ini meliputi kasus lama sebanyak 5.405 dan kasus baru 3.309. Sementara, jumlah kematian 206 kasus,” bebernya.

Kurangnya target pemeriksaan ini dikarenakan adanya puskesmas beserta beberapa klinik yang belum lengkap dalam pelaporan. Untuk itu, Dinkes Kota Malang terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melakukan pemeriksaan dini penyakit tidak menular. “Kemudian, apabila sudah terdiagnosa hipertensi maka harus menjalani pengobatan secara teratur,” kata Zamroni.

Menurut spesialis jantung Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Sasmojo Widito hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah seseorang terukur di atas 140/90 mmHg dalam minimal dua kali pemeriksaan yang berbeda waktu. Peningkatan tekanan darah ini nantinya bisa berkaitan dengan peningkatan risiko untuk menderita penyakit jantung koroner, gagal jantung, hingga stroke. “Ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan tekanan darah. Di antaranya, obesitas, resistensi insulin, asupan alkohol yang tinggi, asupan garam, gaya hidup, stres, dan asupan kalsium serta kalium yang rendah,” jelasnya.

Meski begitu, tidak ada gejala atau keluhan yang spesifik dari penderita hipertensi. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah selalu menjaga pola hidup sehat, seperti tidak merokok, menghindari minuman beralkohol, rutin melakukan aktivitas fisik, serta makan makanan bergizi yang rendah lemak. Pencegahan sejak dini pun juga perlu dilakukan. Yakni, melalui kontrol rutin ke fasilitas layanan primer jika memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, serangan jantung, dan stroke pada keluarga. “Tapi, kalau sudah terdiagnosis memiliki tekanan darah tinggi atau kondisi yang bisa memperparah seperti diabetes, obesitas, dislipidemia, dan hiperuresmia. Caranya ya tetap jaga gaya hidup, kontrol rutin ke tenaga kesehatan, hingga patuh dalam meminum obat,” ujarnya.

Tidak hanya mencegah maupun memperlambat terkena hipertensi, pola hidup sehat juga bisa mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Selain itu, pola hidup sehat juga akan mencegah kebutuhan terapi obat pada jenis hipertensi derajat 1. Namun, hipertensi bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan. Melainkan bisa dikontrol melalui beberapa pola hidup. Di antaranya, membatasi konsumsi garam dengan rekomendasi tidak lebih dari 1 sendok teh garam dapur atau 2 gram per hari, mengonsumsi makanan seimbang, menjaga berat badan agar tetap ideal, olahraga, dan berhenti merokok.

Selama pandemi pada tahun 2021, beberapa rumah sakit juga menemukan pasien hipertensi yang terinfeksi Covid-19. Misalnya saja, RS UB sebanyak 15 kasus, RSI Unisma 96 kasus, Persada Hospital 56 kasus, dan RSSA 137 kasus.

Menurut Sasmojo, hipertensi merupakan faktor risiko infeksi Covid-19. Pasien dengan hipertensi khususnya usia lanjut dan memiliki faktor-faktor risiko lainnya mempunyai risiko mengalami gejala yang berat selama terinfeksi Covid-19.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah hipertensi pada anak. Selama tribulan 1 tahun 2022, Dinkes Kota Malang menemukan sebanyak 9 anak dengan rentang usia 15 sampai dengan 19 tahun dengan hipertensi. Konsultan ginjal anak RSSA dr Astrid Kristina Kardani mengatakan, sering kali orang awam berpikir bahwa hipertensi hanya terjadi pada orangorang dewasa. Padahal, tren hipertensi pada anak hingga remaja mulai menunjukkan peningkatan, tetapi kurang terdeteksi sejak dini. Selain itu, terdapat perbedaan antara hipertensi anak dan orang dewasa.

Pada anak, khususnya mereka yang berusia di bawah 13 tahun, sebesar 80-85 persen penyebab utama timbulnya hipertensi adalah penyakit ginjal. “Sebab, ginjal merupakan organ tubuh yang terpenting dalam mengatur tekanan darah. Di dalam ginjal terdapat hormon renin. Jika hormon itu aktif, maka dapat meningkatkan tekanan darah,” ujarnya. Namun, pada anak dengan usia di atas 13 tahun faktorfaktor penyebab hipertensi mirip dengan yang terjadi di orang dewasa.

Lantas, bagaimana cara mendeteksi hipertensi pada anak? Astrid menyarankan supaya anak sehat di atas 3 tahun melakukan pemeriksaan darah setiap tahun sekali. Tetapi, bagi yang memiliki faktor risiko hipertensi, seperti riwayat lahir prematur, berat badan lahir rendah, dan memiliki keluarga dengan riwayat penyakit ginjal, maka harus segera diperiksakan. “Selain itu, orang tua harus mewaspadai perubahan warna urin menjadi kecoklatan, kemerahan, bahkan berbusa. Kemudian, waspadai juga bila ada pembengkakan di seluruh tubuh seperti pada mata, perut, atau kaki,” imbuhnya.

Jika anak sakit ginjal dan memiliki hipertensi tidak tertangani dengan baik, maka akan terjadi gagal ginjal kronik yang berujung cuci darah. Dalam penelitian di RSSA tahun 2016, dari 41 pasien anak dengan hipertensi usia paling sering 5-10 tahun dengan penyebab kelainan ginjal. Dalam prosesnya, skrining hipertensi pada anak kerap mengalami kendala. Salah satunya karena tidak tersedianya manset untuk mengukur tekanan darah yang ukurannya tidak sesuai dengan lengan anak. Namun, orang tua tidak perlu khawatir. Sebab, pemeriksaan tekanan darah bisa dilakukan secara mandiri di rumah jika memiliki tensimeter digital. (mel/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/