24.7 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Waspadai Peningkatan Kasus Diabetes

RSSA BANYAK TANGANI PENDERITA DIABETIC FOOT

MALANG KOTA – Dunia memperingati Hari Diabetes Internasional kemarin (14/11). Sayang, peringatan itu masih ditandai dengan tingginya angka penderita penyakit gangguan metabolic itu. Bahkan di Malang Raya, jumlah penderitanya cenderung mengalami peningkatan.

Berdasar catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, jumlah penderita diabetes sepanjang 2021 sebanyak 22.806 orang. Sementara untuk tahun ini, meski belum genap 12 bulan, angka penderitanya sudah mencapai 23.365 orang. Jumlah tersebut sudah meliputi diabetes tipe 1 (non-insulin) dan diabetes tipe 2 (insulin). Kemungkinan masih akan bertambah pada saat dilakukan pendataan pada akhir tahun mendatang.

Sepanjang 2021, tidak semua penderita diabetes mau memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan. Dari total 22.808 penderita, yang ditangani layanan kesehatan sekitar 21.013 orang.

Kepala Dinkes Kota Malang dr. Husnul Muarif menjelaskan diabetes merupakan penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik. Hal ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi. “Penyebab meningkatnya angka kasus lebih pada persoalan gaya hidup. Faktor lainnya, jumlah orang yang diperiksa pada 2022 memang lebih banyak dibandingkan 2021,” ujar mantan Direktur RSUD Kota Malang itu.

Husnul menjelaskan bahwa penderita diabetes biasanya mengalami sejumlah gejala. Di antaranya sering lapar, sering haus, sering buang air kecil dalam jumlah banyak, dan penurunan berat badan.

Agar terhindar dari diabetes, Husnul mengimbau masyarakat menghindari konsumsi makanan secara berlebih. Misalnya, makanan-makanan yang mengandung gula, garam, serta lemak. Tidak hanya itu, penting bagi masyarakat untuk rutin melakukan aktivitas fisik, rajin mengonsumsi buah dan sayur, cek kesehatan berkala, hingga menghindari rokok.

“Kami juga rutin memberikan edukasi kepada masyarakat terkait perubahan pola hidup dan menyediakan skrining melalui puskesmas,” terang Husnul.

Diabetes juga menjadi atensi tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan (faskes) tingkat lanjut. Misalnya di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA). Kepala Divisi Metabolik-Endokrin RSSA dr. Laksmi Sasiarini Sp.PDKEMD mengungkapkan, diabetes terbagi menjadi empat. Yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, tipe lain, dan gestasional (kehamilan).

Dilihat dari kategori penderita, diabetes tipe 1 sering terjadi pada anak-anak. Kemudian diabetes tipe 2 adalah mereka yang memiliki pola hidup tidak sehat dan obesitas. Sementara tipe lain diderita oleh orang-orang yang mengalami infeksi pada pankreas akibat pengaruh obatobatan dari golongan steroid.

“Dan yang terakhir, gestasional adalah ibu-ibu hamil yang mengalami gangguan metabolisme karbohidrat. Jika ibu hamil mengalami gangguan tersebut, gula darahnya akan tinggi selama hamil dan melahirkan bayi yang besar. Nantinya, ibu dan anak memiliki risiko diabetes tipe 2,” jelasnya.

Laksmi menambahkan, penderita diabetes yang datang RSSA biasanya sudah dalam kondisi parah. Sejak adanya regulasi pelayanan berjenjang dari BPJS, pasien memang tidak sebanyak dulu. Yang tersisa pasien dengan kondisi parah atau komplikasi. Komplikasi yang dialami mulai dari penyakit ginjal, jantung, dan banyak lainnya.

“Belakangan yang datang kemari adalah penderita diabetic foot atau kaki diabetik. Itu kondisi yang tergolong kronis karena diabetesnya sudah cukup lama. Kontrol gula darahnya juga buruk,” tuturnya.

Kaki diabetik merupakan kondisi pada saat kadar gula terlalu tinggi. Akibatnya, terjadi kerusakan saraf yang membuat penderita diabetes tidak bisa merasakan sakit atau sensasi ganjil di kaki jika kaki mengalami luka. Hal itu menyebabkan luka semakin parah dan tidak terawat.

Laksmi melanjutkan, penyakit diabetes tidak memandang gender. Baik perempuan maupun laki-laki bisa mengalami diabetes. Kebanyakan penderita diabetes merupakan orang dengan rentang usia 40 tahun ke atas. Namun tidak menutup kemungkinan orang yang berusia di bawah 40 tahun juga terkena diabetes. Utamanya adalah yang memiliki faktor risiko. Seperti orang yang kadar gula darahnya tak terkontrol.

“Kalau yang datang ke poli endokrin, setiap hari bisa 20-30 orang. Dari jumlah tersebut, 80 persennya adalah penderita diabetes. Sisanya pasien penyakit endokrin lain,” sebut Laksmi.

Terkait penanganan, Laksmi menjelaskan bahwa pengobatan penderita diabetes berlangsung tanpa putus. Tak hanya di rumah sakit, pengobatan juga bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Misalnya di puskesmas, klinik primer, hingga dokter praktik.

Pemeriksaan diabetes tidak cukup di gula darah saja. Melainkan juga pemeriksaan HbA1c (hemoglobin A1c). Yakni pemeriksaan yang berfungsi mengukur rata-rata jumlah sel darah merah atau hemoglobin yang berikatan dengan gula darah atau glukosa selama 3 bulan terakhir.

“Salah satu dokter kami pernah melakukan penelitian. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa 2.000 pasien BPJS di Malang Raya memiliki rapor diabetes yang cukup tinggi,” bebernya.

Pola Hidup, Usia, dan Faktor Genetik

Potensi peningkatan jumlah penderita diabetes mellitus (DM) juga terjadi di Kabupaten Malang. Terhitung sejak Januari sampai Oktober 2022, jumlah penderitanya mencapai 40.623 kasus. Memang lebih rendah jika dibandingkan dengan angka penderita sepanjang 2021 yang mencapai 40.990 orang. Namun data tahun ini masih menyisakan dua bulan, Bisa jadi, angka kasus sepanjang tahun ini melebihi tahun lalu.

Mayoritas penderita diabetes di Kabupaten Malang masuk kategori DM noninsulin. Yakni penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi. Ini disebabkan tubuh menolak atau resisten terhadap insulin. Atau karena kekurangan insulin pada tubuh. “DM noninsulin sebanyak 35.894 orang. Sementara DM insulin 4.729 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg. Wiyanto Wijoyo kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin.

Insulin adalah hormon yang membantu penyerapan glukosa dalam sel-sel tubuh mengendalikan kadar gula darah. Sel-sel dalam tubuh membutuhkan energi untuk bekerja. Glukosa yang nantinya bisa diubah menjadi sumber energi. Tanpa insulin, glukosa tidak terserap dalam sel tubuh. Akibatnya, muncul berbagai gejala penyakit gula. Antara lain sering kencing dan mudah lelah.

DM noninsulin terjadi akibat kombinasi gaya hidup dan faktor genetis. Penderita sebenarnya bisa mengendalikan kondisi diri. Misalnya, melakukan diet dan olahraga. Namun, faktor yang tidak bisa dikendalikan yakni pertambahan usia, genetis, dan jenis kelamin.

Perempuan lebih rentan terpapar penyakit diabetes ketimbang pria. Sementara diabetes insulin adalah faktor genetis. Biasanya, penderitanya berusia remaja bahkan anak-anak.

Masyarakat di Kota Batu juga mengalami kecenderungan yang sama. Angka diabetes diprediksi meningkat, meski tidak terlalu signifikan. “Kemungkinan data pada akhir tahun ini akan mengalami peningkatan. Sampai Oktober saja sudah 4.224 orang. Sementara total tahun lalu 4.634 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Kartika Trisulandari.

Dia menjelaskan, dulu ratarata usia penderita diabetes 50 tahun ke atas. Namun, karena pola hidup yang kurang sehat, ada juga yang terserang sejak usia 40-an. (mel/fin/adk/fat)

RSSA BANYAK TANGANI PENDERITA DIABETIC FOOT

MALANG KOTA – Dunia memperingati Hari Diabetes Internasional kemarin (14/11). Sayang, peringatan itu masih ditandai dengan tingginya angka penderita penyakit gangguan metabolic itu. Bahkan di Malang Raya, jumlah penderitanya cenderung mengalami peningkatan.

Berdasar catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, jumlah penderita diabetes sepanjang 2021 sebanyak 22.806 orang. Sementara untuk tahun ini, meski belum genap 12 bulan, angka penderitanya sudah mencapai 23.365 orang. Jumlah tersebut sudah meliputi diabetes tipe 1 (non-insulin) dan diabetes tipe 2 (insulin). Kemungkinan masih akan bertambah pada saat dilakukan pendataan pada akhir tahun mendatang.

Sepanjang 2021, tidak semua penderita diabetes mau memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan. Dari total 22.808 penderita, yang ditangani layanan kesehatan sekitar 21.013 orang.

Kepala Dinkes Kota Malang dr. Husnul Muarif menjelaskan diabetes merupakan penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik. Hal ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi. “Penyebab meningkatnya angka kasus lebih pada persoalan gaya hidup. Faktor lainnya, jumlah orang yang diperiksa pada 2022 memang lebih banyak dibandingkan 2021,” ujar mantan Direktur RSUD Kota Malang itu.

Husnul menjelaskan bahwa penderita diabetes biasanya mengalami sejumlah gejala. Di antaranya sering lapar, sering haus, sering buang air kecil dalam jumlah banyak, dan penurunan berat badan.

Agar terhindar dari diabetes, Husnul mengimbau masyarakat menghindari konsumsi makanan secara berlebih. Misalnya, makanan-makanan yang mengandung gula, garam, serta lemak. Tidak hanya itu, penting bagi masyarakat untuk rutin melakukan aktivitas fisik, rajin mengonsumsi buah dan sayur, cek kesehatan berkala, hingga menghindari rokok.

“Kami juga rutin memberikan edukasi kepada masyarakat terkait perubahan pola hidup dan menyediakan skrining melalui puskesmas,” terang Husnul.

Diabetes juga menjadi atensi tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan (faskes) tingkat lanjut. Misalnya di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA). Kepala Divisi Metabolik-Endokrin RSSA dr. Laksmi Sasiarini Sp.PDKEMD mengungkapkan, diabetes terbagi menjadi empat. Yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, tipe lain, dan gestasional (kehamilan).

Dilihat dari kategori penderita, diabetes tipe 1 sering terjadi pada anak-anak. Kemudian diabetes tipe 2 adalah mereka yang memiliki pola hidup tidak sehat dan obesitas. Sementara tipe lain diderita oleh orang-orang yang mengalami infeksi pada pankreas akibat pengaruh obatobatan dari golongan steroid.

“Dan yang terakhir, gestasional adalah ibu-ibu hamil yang mengalami gangguan metabolisme karbohidrat. Jika ibu hamil mengalami gangguan tersebut, gula darahnya akan tinggi selama hamil dan melahirkan bayi yang besar. Nantinya, ibu dan anak memiliki risiko diabetes tipe 2,” jelasnya.

Laksmi menambahkan, penderita diabetes yang datang RSSA biasanya sudah dalam kondisi parah. Sejak adanya regulasi pelayanan berjenjang dari BPJS, pasien memang tidak sebanyak dulu. Yang tersisa pasien dengan kondisi parah atau komplikasi. Komplikasi yang dialami mulai dari penyakit ginjal, jantung, dan banyak lainnya.

“Belakangan yang datang kemari adalah penderita diabetic foot atau kaki diabetik. Itu kondisi yang tergolong kronis karena diabetesnya sudah cukup lama. Kontrol gula darahnya juga buruk,” tuturnya.

Kaki diabetik merupakan kondisi pada saat kadar gula terlalu tinggi. Akibatnya, terjadi kerusakan saraf yang membuat penderita diabetes tidak bisa merasakan sakit atau sensasi ganjil di kaki jika kaki mengalami luka. Hal itu menyebabkan luka semakin parah dan tidak terawat.

Laksmi melanjutkan, penyakit diabetes tidak memandang gender. Baik perempuan maupun laki-laki bisa mengalami diabetes. Kebanyakan penderita diabetes merupakan orang dengan rentang usia 40 tahun ke atas. Namun tidak menutup kemungkinan orang yang berusia di bawah 40 tahun juga terkena diabetes. Utamanya adalah yang memiliki faktor risiko. Seperti orang yang kadar gula darahnya tak terkontrol.

“Kalau yang datang ke poli endokrin, setiap hari bisa 20-30 orang. Dari jumlah tersebut, 80 persennya adalah penderita diabetes. Sisanya pasien penyakit endokrin lain,” sebut Laksmi.

Terkait penanganan, Laksmi menjelaskan bahwa pengobatan penderita diabetes berlangsung tanpa putus. Tak hanya di rumah sakit, pengobatan juga bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Misalnya di puskesmas, klinik primer, hingga dokter praktik.

Pemeriksaan diabetes tidak cukup di gula darah saja. Melainkan juga pemeriksaan HbA1c (hemoglobin A1c). Yakni pemeriksaan yang berfungsi mengukur rata-rata jumlah sel darah merah atau hemoglobin yang berikatan dengan gula darah atau glukosa selama 3 bulan terakhir.

“Salah satu dokter kami pernah melakukan penelitian. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa 2.000 pasien BPJS di Malang Raya memiliki rapor diabetes yang cukup tinggi,” bebernya.

Pola Hidup, Usia, dan Faktor Genetik

Potensi peningkatan jumlah penderita diabetes mellitus (DM) juga terjadi di Kabupaten Malang. Terhitung sejak Januari sampai Oktober 2022, jumlah penderitanya mencapai 40.623 kasus. Memang lebih rendah jika dibandingkan dengan angka penderita sepanjang 2021 yang mencapai 40.990 orang. Namun data tahun ini masih menyisakan dua bulan, Bisa jadi, angka kasus sepanjang tahun ini melebihi tahun lalu.

Mayoritas penderita diabetes di Kabupaten Malang masuk kategori DM noninsulin. Yakni penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi. Ini disebabkan tubuh menolak atau resisten terhadap insulin. Atau karena kekurangan insulin pada tubuh. “DM noninsulin sebanyak 35.894 orang. Sementara DM insulin 4.729 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg. Wiyanto Wijoyo kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin.

Insulin adalah hormon yang membantu penyerapan glukosa dalam sel-sel tubuh mengendalikan kadar gula darah. Sel-sel dalam tubuh membutuhkan energi untuk bekerja. Glukosa yang nantinya bisa diubah menjadi sumber energi. Tanpa insulin, glukosa tidak terserap dalam sel tubuh. Akibatnya, muncul berbagai gejala penyakit gula. Antara lain sering kencing dan mudah lelah.

DM noninsulin terjadi akibat kombinasi gaya hidup dan faktor genetis. Penderita sebenarnya bisa mengendalikan kondisi diri. Misalnya, melakukan diet dan olahraga. Namun, faktor yang tidak bisa dikendalikan yakni pertambahan usia, genetis, dan jenis kelamin.

Perempuan lebih rentan terpapar penyakit diabetes ketimbang pria. Sementara diabetes insulin adalah faktor genetis. Biasanya, penderitanya berusia remaja bahkan anak-anak.

Masyarakat di Kota Batu juga mengalami kecenderungan yang sama. Angka diabetes diprediksi meningkat, meski tidak terlalu signifikan. “Kemungkinan data pada akhir tahun ini akan mengalami peningkatan. Sampai Oktober saja sudah 4.224 orang. Sementara total tahun lalu 4.634 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Kartika Trisulandari.

Dia menjelaskan, dulu ratarata usia penderita diabetes 50 tahun ke atas. Namun, karena pola hidup yang kurang sehat, ada juga yang terserang sejak usia 40-an. (mel/fin/adk/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/