21.3 C
Malang
Friday, 3 February 2023

Pengawasan Ciki Ngebul Diserahkan ke Sekolah

KEPANJEN – Pengawasan terhadap jajanan anak di sekolah harus ditingkatkan lagi. Apalagi di sejumlah daerah, kasus ciki ngebul alias cibul yang menelan korban anak-anak bermunculan. Meski belum ada laporan kasus terjadi, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang gencar melakukan sosialisasi.

Kadinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya pengawasan di lapangan terkait jananan berbahaya untuk anak sekolah. Pihaknya mengoptimalkan peran puskesmas dalam mensosialisasikan bahayanya makanan sejenis cibul dan variannya. “Ada petugas dari puskesmas yang turut menyertai sosialisasi ini,” kata dia. Pihaknya berkoordinasi dengan pihak sekolah melalui upaya kesehatan sekolah (UKS).

Menurut Wiyanto, hingga saat ini belum ada laporan korban akibat makanan yang dianggap kekinian itu. Dikatakannya, selain cibul, jajanan yang diduga mengandung zat berbahaya adalah makan yang menggunakan bahan pewarna. Bagi pihak sekolah, ia mengimbau agar tidak mengizinkan pedagang berjualan jajanan berbahaya di areal sekolaj. “Kalau ada jajanan yang sedang tren dan berbahaya mohon tidak diizinkan untuk berjualan. Hal ini menjadi kewenangan sekolah,” kata dia.

Melalui sosialisasi tersebut, Wiyanto berharap pihak sekolah bisa mengambil langkah tegas agar tidak memperbolehkan pedagang menjual makanan yang tidak sesuai standar. Apalagi penjual menggunakan nitrogen cair pada produk pangan siap saji ke anak-anak. “Jadi mending sekolah menyediakan kantin yang baru dan bersih. Agar anak-anak tidak beli jajanan di luar,” kata dia.

Seperti diketahui, nitrogen cair ini bisa mengakibatkan redang dingin dan luka bakar jika terkena kulit. Bahkan, bila dikonsumsi dapat mengakibatkan luka lambung. “Maka perlu adanya kesadaran bersama termasuk ibu wali murid juga. Di rumah harus dijaga. Memang agak susah tapi harus dilakukan,” tutup dia. (nif/nay)

KEPANJEN – Pengawasan terhadap jajanan anak di sekolah harus ditingkatkan lagi. Apalagi di sejumlah daerah, kasus ciki ngebul alias cibul yang menelan korban anak-anak bermunculan. Meski belum ada laporan kasus terjadi, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang gencar melakukan sosialisasi.

Kadinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya pengawasan di lapangan terkait jananan berbahaya untuk anak sekolah. Pihaknya mengoptimalkan peran puskesmas dalam mensosialisasikan bahayanya makanan sejenis cibul dan variannya. “Ada petugas dari puskesmas yang turut menyertai sosialisasi ini,” kata dia. Pihaknya berkoordinasi dengan pihak sekolah melalui upaya kesehatan sekolah (UKS).

Menurut Wiyanto, hingga saat ini belum ada laporan korban akibat makanan yang dianggap kekinian itu. Dikatakannya, selain cibul, jajanan yang diduga mengandung zat berbahaya adalah makan yang menggunakan bahan pewarna. Bagi pihak sekolah, ia mengimbau agar tidak mengizinkan pedagang berjualan jajanan berbahaya di areal sekolaj. “Kalau ada jajanan yang sedang tren dan berbahaya mohon tidak diizinkan untuk berjualan. Hal ini menjadi kewenangan sekolah,” kata dia.

Melalui sosialisasi tersebut, Wiyanto berharap pihak sekolah bisa mengambil langkah tegas agar tidak memperbolehkan pedagang menjual makanan yang tidak sesuai standar. Apalagi penjual menggunakan nitrogen cair pada produk pangan siap saji ke anak-anak. “Jadi mending sekolah menyediakan kantin yang baru dan bersih. Agar anak-anak tidak beli jajanan di luar,” kata dia.

Seperti diketahui, nitrogen cair ini bisa mengakibatkan redang dingin dan luka bakar jika terkena kulit. Bahkan, bila dikonsumsi dapat mengakibatkan luka lambung. “Maka perlu adanya kesadaran bersama termasuk ibu wali murid juga. Di rumah harus dijaga. Memang agak susah tapi harus dilakukan,” tutup dia. (nif/nay)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru