alexametrics
28.1 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Capaian ASI Eksklusif di Kota Malang 80,9 Persen

MALANG KOTA – Upaya untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Pada 2021 lalu,  dari pemeriksaan 4.618 bayi, 77,9 persen atau 3598 bayi bisa mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya. Tahun ini, capaian itu diperkirakan bisa meningkat.Sebab, hingga kuartal pertama (Januari-April), pemberian ASI eksklusif berada di kisaran 80,9 persen.

Untuk meningkatkan capaian tersebut, dinkes rutin melakukan sosialisasi melalui Posyandu, pertemuan pra-nikah, hingga pada saat pemeriksaan Antenatal Care (ANC). ”ASI eksklusif sangat penting karena memiliki banyak manfaat.Misalnya, kolostrum (susu pertama yang dihasilkan kelenjar susu setelah kehamilan) berfungsi memberi antibodi kepada bayi secara maksimal,” ujar Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Malang LatifahHanun kemarin.

Dia mengakui ada ibu yang sulit mengeluarkan ASI setelah melahirkan. Namun Hanun tetap menyarankan agar sang ibu tetap menyusui anaknya.  Cara itu akan membantu merangsang produksi ASI. ”Saat mengadakan kelas ibu hamil, biasanya akan diajarkan cara merawat payudara. Di puskesmas-puskesmas sudah kami lakukan,” terangnya. Berkat berbagai upaya-upaya tersebut, hingga kuartal pertama tahun ini, capaian penerimaan eksklusif di Kota Malang sudah 80,9 persen0.

Di samping sosialisasi, upaya pendukung juga terus dilakukan.Seperti  penyediaan dan perbaikan ruang laktasi di tempat-tempat publik. Khusus untuk di fasilitas kesehatan yang berada di bawah naungan Dinkes Kota Malang, seperti puskesmas, ruang laktasi sudah lengkap. Untuk kantor-kantor di organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya masih terus dilengkapi.

”Begitu pula di pusat-pusat perbelanjaan juga sudah ada. Yang jelas, di ruang laktasi harus ada tempat untuk mengganti pakaian bayi, AC, hingga lemari pendingin,” pungkasnya.

Terkait masih adanya bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, Hanun menyebut satu faktor yang paling sering menjadi penyebabnya.Yakni, bayi tidak diurus oleh ibunya sendiri dan diasuh pihak ketiga. Ada juga yang disebabkan karena sang ibu bekerja, sehingga tidak bisa konsisten menyusui anaknya sewaktu-waktu. (mel/fat)

MALANG KOTA – Upaya untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Pada 2021 lalu,  dari pemeriksaan 4.618 bayi, 77,9 persen atau 3598 bayi bisa mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya. Tahun ini, capaian itu diperkirakan bisa meningkat.Sebab, hingga kuartal pertama (Januari-April), pemberian ASI eksklusif berada di kisaran 80,9 persen.

Untuk meningkatkan capaian tersebut, dinkes rutin melakukan sosialisasi melalui Posyandu, pertemuan pra-nikah, hingga pada saat pemeriksaan Antenatal Care (ANC). ”ASI eksklusif sangat penting karena memiliki banyak manfaat.Misalnya, kolostrum (susu pertama yang dihasilkan kelenjar susu setelah kehamilan) berfungsi memberi antibodi kepada bayi secara maksimal,” ujar Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Malang LatifahHanun kemarin.

Dia mengakui ada ibu yang sulit mengeluarkan ASI setelah melahirkan. Namun Hanun tetap menyarankan agar sang ibu tetap menyusui anaknya.  Cara itu akan membantu merangsang produksi ASI. ”Saat mengadakan kelas ibu hamil, biasanya akan diajarkan cara merawat payudara. Di puskesmas-puskesmas sudah kami lakukan,” terangnya. Berkat berbagai upaya-upaya tersebut, hingga kuartal pertama tahun ini, capaian penerimaan eksklusif di Kota Malang sudah 80,9 persen0.

Di samping sosialisasi, upaya pendukung juga terus dilakukan.Seperti  penyediaan dan perbaikan ruang laktasi di tempat-tempat publik. Khusus untuk di fasilitas kesehatan yang berada di bawah naungan Dinkes Kota Malang, seperti puskesmas, ruang laktasi sudah lengkap. Untuk kantor-kantor di organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya masih terus dilengkapi.

”Begitu pula di pusat-pusat perbelanjaan juga sudah ada. Yang jelas, di ruang laktasi harus ada tempat untuk mengganti pakaian bayi, AC, hingga lemari pendingin,” pungkasnya.

Terkait masih adanya bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, Hanun menyebut satu faktor yang paling sering menjadi penyebabnya.Yakni, bayi tidak diurus oleh ibunya sendiri dan diasuh pihak ketiga. Ada juga yang disebabkan karena sang ibu bekerja, sehingga tidak bisa konsisten menyusui anaknya sewaktu-waktu. (mel/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/