alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 1 October 2022

Delapan Bulan, Dinkes Catat 489 Kasus DBD

MALANG KOTA – Ada tren kenaikan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Malang. Sejak Januari hingga Agustus lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat 489 kasus. Jumlah tersebut naik drastis dibandingkan periode yang sama di tahun 2021. Sebab saat itu Dinkes mencatat ada 164 kasus. Data tersebut kemarin (20/9) dibeberkan dr Bayu Tjahjawibawa, Sub Koordinator Sub Instansi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Kota Malang. 

Dari jumlah kasus selama delapan bulan terakhir, dia menyebut bila penderita DBD didominasi kalangan remaja sampai dewasa. Kelompok umur yang mendominasi berusia antara 15 sampai 44 tahun. Jumlahnya 220 orang. Namun, ada pula penderita anak-anak. Mereka berusia antara 1 sampai 14 tahun, sebanyak 225 orang. ”Kasus DBD di Kota Malang merata di 57 kelurahan. Untuk tahun 2022 ini, kasus tertinggi terjadi di bulan Januari, saat itu ada 127 kasus. Sementara yang terendah Agustus lalu, 17 kasus,” tutur pejabat eselon IV A Pemkot Malang itu. 

Meski pada bulan Agustus 2022 jumlahnya sedikit, Bayu meminta masyarakat untuk tetap waspada. Selain itu, upaya-upaya pencegahan lainnya juga perlu dilakukan. Seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan menggerakkan program satu rumah satu jumantik. Juga mengaktifkan kelompok kerja operasional pembinaan pos dan pelayanan terpadu (Pokjanal Posyandu). ”Kami juga sudah melakukan penyuluhan ke masyarakat melalui 16 puskesmas,” kata dia. 

Terpisah, dr Didi Candradikusuma SpPD, dokter spesialis penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang menyebut bila kasus DBD sebenarnya bisa diramal perjalanannya. Sebab setelah tujuh hari akan membaik sendiri. Didi melanjutkan, klinis dari DBD dibagi menjadi tiga fase. Yakni fase akut pada tiga hari pertama. Gejala yang muncul seperti demam, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan mual. ”Selanjutnya adalah fase kritis di hari keempat sampai dengan hari keenam, dengan kondisi demam mulai turun, diikuti trombosit yang juga menurun. Pada fase kritis, biasanya terjadi kegawatan,” kata dia. Pada fase kritis itulah pasien butuh mendapat penanganan dari rumah sakit. 

Sementara itu, Staf Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Pediatri SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUB/RSSA dr Irene Ratridewi Huwae SpAK menyebut bila jumlah pasien DBD di RSSA cenderung stabil. ”Khusus bulan September saja kami sudah mencatat ada 10 pasien anak. Dari jumlah tersebut, ada dua anak yang mengalami gejala berat,” beber Irene. (mel/by)

MALANG KOTA – Ada tren kenaikan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Malang. Sejak Januari hingga Agustus lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat 489 kasus. Jumlah tersebut naik drastis dibandingkan periode yang sama di tahun 2021. Sebab saat itu Dinkes mencatat ada 164 kasus. Data tersebut kemarin (20/9) dibeberkan dr Bayu Tjahjawibawa, Sub Koordinator Sub Instansi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Kota Malang. 

Dari jumlah kasus selama delapan bulan terakhir, dia menyebut bila penderita DBD didominasi kalangan remaja sampai dewasa. Kelompok umur yang mendominasi berusia antara 15 sampai 44 tahun. Jumlahnya 220 orang. Namun, ada pula penderita anak-anak. Mereka berusia antara 1 sampai 14 tahun, sebanyak 225 orang. ”Kasus DBD di Kota Malang merata di 57 kelurahan. Untuk tahun 2022 ini, kasus tertinggi terjadi di bulan Januari, saat itu ada 127 kasus. Sementara yang terendah Agustus lalu, 17 kasus,” tutur pejabat eselon IV A Pemkot Malang itu. 

Meski pada bulan Agustus 2022 jumlahnya sedikit, Bayu meminta masyarakat untuk tetap waspada. Selain itu, upaya-upaya pencegahan lainnya juga perlu dilakukan. Seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan menggerakkan program satu rumah satu jumantik. Juga mengaktifkan kelompok kerja operasional pembinaan pos dan pelayanan terpadu (Pokjanal Posyandu). ”Kami juga sudah melakukan penyuluhan ke masyarakat melalui 16 puskesmas,” kata dia. 

Terpisah, dr Didi Candradikusuma SpPD, dokter spesialis penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang menyebut bila kasus DBD sebenarnya bisa diramal perjalanannya. Sebab setelah tujuh hari akan membaik sendiri. Didi melanjutkan, klinis dari DBD dibagi menjadi tiga fase. Yakni fase akut pada tiga hari pertama. Gejala yang muncul seperti demam, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan mual. ”Selanjutnya adalah fase kritis di hari keempat sampai dengan hari keenam, dengan kondisi demam mulai turun, diikuti trombosit yang juga menurun. Pada fase kritis, biasanya terjadi kegawatan,” kata dia. Pada fase kritis itulah pasien butuh mendapat penanganan dari rumah sakit. 

Sementara itu, Staf Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Pediatri SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUB/RSSA dr Irene Ratridewi Huwae SpAK menyebut bila jumlah pasien DBD di RSSA cenderung stabil. ”Khusus bulan September saja kami sudah mencatat ada 10 pasien anak. Dari jumlah tersebut, ada dua anak yang mengalami gejala berat,” beber Irene. (mel/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/