24.7 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

8 Bulan, Catat 42 Kasus Kanker Serviks

MALANG KOTA – Kanker serviks (leher rahim) masih menjadi kanker dengan jumlah penderita terbanyak kedua di Kota Malang. Berada di bawah jumlah penderita kanker payudara. Pada 2021 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat ada 50 kasus. Sementara dalam delapan bulan terakhir, tepatnya Januari sampai Agustus lalu, ada 42 kunjungan penderita kanker serviks. 

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kota Malang rutin menggelar penanggulangan penyakit tidak menular. Salah satunya dilakukan lewat inspeksi visual asam asetat (IVA). Tujuannya utamanya untuk mendeteksi tanda-tanda kanker serviks. Seperti yang berlangsung kemarin (27/9) di Puskesmas Polowijen. 

Saat meninjau tes IVA, Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan bahwa sasaran tes adalah perempuan yang pernah berhubungan seksual. Setelah dilakukan tes, akan tampak hasilnya. Apabila positif, ada grade-grade-nya. Mulai dari ringan, sedang dan berat. ”Kemudian baru dilakukan konseling. Itu bisa berupa saran untuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), atau rekomendasi lain untuk mencegah agar kanker serviks tidak berlanjut ke tahap berikutnya,” terang mantan Direktur RSUD Kota Malang itu. 

Husnul melanjutkan, jika ada yang ditemukan positif, pihaknya bakal menawarkan penanganan melalui cryotheraphy. Yakni terapi untuk menangani tumor. Baik tumor jinak, pra-kanker, maupun kanker. Bisa juga melalui obat-obatan, atau tindakan lebih lanjut di rumah sakit. ”Kita punya konselor dan konsultan yang sudah dilatih. Dari 16 puskesmas, ada empat yang bisa melakukannya. Meliputi Puskesmas Polowijen, UPTD Puskesmas Kendalsari, Puskesmas Ciptomulyo dan Puskesmas Kedungkandang,” bebernya. 

Selain di Puskesmas Polowijen, selama bulan September ini Dinkes Kota Malang sudah menggelar tes IVA di Puskesmas Kedungkandang dan Ciptomulyo. Total kuota yang disediakan mencapai 150. Dari beberapa perempuan yang sudah mengikuti tes sejauh ini, enam di antaranya positif kanker serviks. Beruntung, enam perempuan itu berada pada grade ringan. Sehingga penanganannya bisa dilakukan melalui cryoteraphy. 

”Positif itu bukan kanker, tapi lesi (sel-sel) pra-kanker. Akhirnya, kami memberikan cryoteraphy atau terapi dengan mendinginkan kuman pada suhu minus 20 derajat,” kata konsultan tes IVA sekaligus Kepala Puskesmas Kedungkandang dr Lisna Tanjung. Terapi itu, ditambahkan Lisna, tidak membuat perempuan kesakitan. Sebab, mereka hanya diminta berbaring seperti akan memasang alat KB spiral. 

Lalu, alat terapi akan ditempelkan ke mulut rahim. Besar alat terapi sebesar tutup botol. Prosesnya pun hanya berlangsung sekitar tiga menit. ”Terasa dingin. Kalau sudah terapi, satu minggu kemudian harus kontrol. Jika tidak ada masalah, ya sudah. Nanti tiga bulan sejak terapi dites lagi untuk mengetahui positif atau negatifnya,” imbuh Lisna. 

Dia pun menyarankan agar para perempuan yang pernah berhubungan seksual untuk rutin melakukan cek IVA. Minimal satu tahun satu kali. Untuk pasien umum, biayanya hanya Rp 15 ribu. Sementara itu, salah seorang peserta tes IVA Grinda Suestrimi mengaku sudah tiga kali mengikuti tes. Perempuan asal Kelurahan Purwodadi itu menyadari bila tes IVA penting untuk kesehatannya. ”Alhamdulillah, selama ini hasilnya negatif,” ucap Grinda. (mel/by)

MALANG KOTA – Kanker serviks (leher rahim) masih menjadi kanker dengan jumlah penderita terbanyak kedua di Kota Malang. Berada di bawah jumlah penderita kanker payudara. Pada 2021 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat ada 50 kasus. Sementara dalam delapan bulan terakhir, tepatnya Januari sampai Agustus lalu, ada 42 kunjungan penderita kanker serviks. 

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kota Malang rutin menggelar penanggulangan penyakit tidak menular. Salah satunya dilakukan lewat inspeksi visual asam asetat (IVA). Tujuannya utamanya untuk mendeteksi tanda-tanda kanker serviks. Seperti yang berlangsung kemarin (27/9) di Puskesmas Polowijen. 

Saat meninjau tes IVA, Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan bahwa sasaran tes adalah perempuan yang pernah berhubungan seksual. Setelah dilakukan tes, akan tampak hasilnya. Apabila positif, ada grade-grade-nya. Mulai dari ringan, sedang dan berat. ”Kemudian baru dilakukan konseling. Itu bisa berupa saran untuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), atau rekomendasi lain untuk mencegah agar kanker serviks tidak berlanjut ke tahap berikutnya,” terang mantan Direktur RSUD Kota Malang itu. 

Husnul melanjutkan, jika ada yang ditemukan positif, pihaknya bakal menawarkan penanganan melalui cryotheraphy. Yakni terapi untuk menangani tumor. Baik tumor jinak, pra-kanker, maupun kanker. Bisa juga melalui obat-obatan, atau tindakan lebih lanjut di rumah sakit. ”Kita punya konselor dan konsultan yang sudah dilatih. Dari 16 puskesmas, ada empat yang bisa melakukannya. Meliputi Puskesmas Polowijen, UPTD Puskesmas Kendalsari, Puskesmas Ciptomulyo dan Puskesmas Kedungkandang,” bebernya. 

Selain di Puskesmas Polowijen, selama bulan September ini Dinkes Kota Malang sudah menggelar tes IVA di Puskesmas Kedungkandang dan Ciptomulyo. Total kuota yang disediakan mencapai 150. Dari beberapa perempuan yang sudah mengikuti tes sejauh ini, enam di antaranya positif kanker serviks. Beruntung, enam perempuan itu berada pada grade ringan. Sehingga penanganannya bisa dilakukan melalui cryoteraphy. 

”Positif itu bukan kanker, tapi lesi (sel-sel) pra-kanker. Akhirnya, kami memberikan cryoteraphy atau terapi dengan mendinginkan kuman pada suhu minus 20 derajat,” kata konsultan tes IVA sekaligus Kepala Puskesmas Kedungkandang dr Lisna Tanjung. Terapi itu, ditambahkan Lisna, tidak membuat perempuan kesakitan. Sebab, mereka hanya diminta berbaring seperti akan memasang alat KB spiral. 

Lalu, alat terapi akan ditempelkan ke mulut rahim. Besar alat terapi sebesar tutup botol. Prosesnya pun hanya berlangsung sekitar tiga menit. ”Terasa dingin. Kalau sudah terapi, satu minggu kemudian harus kontrol. Jika tidak ada masalah, ya sudah. Nanti tiga bulan sejak terapi dites lagi untuk mengetahui positif atau negatifnya,” imbuh Lisna. 

Dia pun menyarankan agar para perempuan yang pernah berhubungan seksual untuk rutin melakukan cek IVA. Minimal satu tahun satu kali. Untuk pasien umum, biayanya hanya Rp 15 ribu. Sementara itu, salah seorang peserta tes IVA Grinda Suestrimi mengaku sudah tiga kali mengikuti tes. Perempuan asal Kelurahan Purwodadi itu menyadari bila tes IVA penting untuk kesehatannya. ”Alhamdulillah, selama ini hasilnya negatif,” ucap Grinda. (mel/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/