21.8 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Diibaratkan Dokter seperti Fenomena Gunung Es

Di tahun ini, RSSA Malang telah menangani 388 pasien yang mengalami serangan jantung. Semua masih berusia kurang dari 45 tahun. Jadi salah satu bukti bila serangan jantung juga bisa terjadi pada generasi muda. 

Budi (bukan nama sebenarnya), terpaksa berhenti dari pekerjaannya untuk sementara waktu. Pria yang bekerja pada instansi pemerintahan di Kota Batu itu tengah sakit. Awalnya, dia merasakan nyeri di bagian dada. Nyeri itu kemudian menjalar ke tangannya. Oleh rekannya, dia lantas dirujuk ke RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapat penanganan lebih lanjut. 

Saat dikunjungi Ketua Kelompok Staf Medik (KSM) Jantung dan Pembuluh Darah dr Setyasih Anjarwani SpJP di Ruang Musi Instalasi Perawatan Jantung Terpadu (IPJT) RSSA, kemarin (28/9) siang, Budi tengah terbaring lemas. Sebab dia baru saja menjalani pemasangan ring akibat serangan jantung. Beruntung, kini kondisinya sudah membaik. ”Tapi masih belum enak betul,” kata Budi dengan nada lirih sembari mengelus bagian dadanya. 

Setyasih lantas mengajukan beberapa pertanyaan kepada Budi. Seperti kebiasaan merokok dan riwayat keluarganya. Pria berusia 45 tahun tersebut mengakui jika dirinya merupakan perokok. Setiap dua hari sekali, dia bisa menghabiskan satu bungkus rokok yang berisi 20 batang. ”Kalau riwayat keluarga, setahu saya tidak ada yang memiliki riwayat penyakit jantung,” imbuh Budi. 

Budi adalah salah satu dari banyaknya pasien penyakit jantung di RSSA Malang. Setiap tahun, IPJT RSSA bisa menangani lebih dari 1.000 tindakan di bidang kardiovaskular atau penyakit jantung. Tren tersebut sempat mengalami penurunan saat pandemi Covid-19. Namun, tahun 2021 kembali meningkat dengan total sebanyak 925 penanganan. Yang terbanyak adalah penanganan untuk jantung koroner, 59 persen (selengkapnya baca grafis). 

Setyasih lantas menjabarkan bila penyakit jantung terdiri dari beberapa kategori. Seperti gagal jantung, gangguan irama jantung, gangguan pembuluh darah, hingga penyakit jantung bawaan yang didapat sejak lahir. ”Penyakit jantung bisa menyerang berbagai kelompok usia, termasuk usiausia produktif,” kata dia. 

Itu berbeda dengan dulu yang kebanyakan didominasi kelompok usia di atas 50 tahun. Kini, penyakit jantung juga menyasar anak-anak muda. Demikian pula serangan jantung. Berdasarkan kelompok usia, serangan jantung terbagi menjadi beberapa kategori. Salah satunya yakni premature coronary artery disease (PCAD). Yakni serangan jantung koroner pada usia kurang dari 45 tahun. 

Selanjutnya, dia menyebut beberapa penyebab penyakit jantung. Seperti genetik, kebiasaan merokok, jenis kelamin, stres, diabetes, hipertensi, obesitas hingga gaya hidup. 

Hal serupa juga disampaikan dr Ikhwan Handi R SpJP, dokter spesialis jantung di RSUD Karsa Husada, Kota Batu. ”Salah satu pemicu penyakit jantung ini adalah pola hidup yang tidak sehat. Makanya, tidak heran jika penyakit jantung dapat menyerang mereka yang berusia di bawah 30 tahun,” kata dia. Untuk bisa mengetahui kategori penyakit jantung, dia menyebut pentingnya upaya deteksi dini. ”Karena faktanya, ada yang usia 20-an atau 40-an yang baru tahu ternyata sekat jantung bagian atasnya berlubang atau bocor. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan penunjang ekokardiografi atau USG jantung,” tambahnya. 

Secara umum, pihaknya menyebut tiga hal penting yang harus dilakukan dalam menyikapi penyakit jantung. Pertama, upaya preventif dengan menjaga pola hidup yang baik. Upaya kedua yakni kuratif, tentang update ilmu dan manajemen terapi, sehingga angka kesakitan dan kematian pasien bisa menurun. Sedangkan poin ketiga adalah rehabilitasi. 

”Jadi, rehabilitasi ini tujuannya sebagai peningkatan kualitas hidup pasien penderita penyakit jantung,” tambahnya. Di tempat lain, Plt Direktur Utama RSUD Kanjuruhan dr Bobi Prabowo SpEm KEC MBiomed mengakui bila tren penyakit jantung pada generasi muda terus meningkat. ”Sakit jantung milenial itu ibarat fenomena gunung es. Biasanya tak sampai masuk faskes (fasilitas kesehatan). Sebab anak muda umumnya tidak percaya bisa kena sakit jantung,” kata dia, kemarin (28/9). 

Dia lantas menjelaskan mitos terkait anak muda yang meninggal cepat. Seperti meninggal akibat masuk angin atau angin duduk. Dia menyebut bila itu miskonsepsi atau kesalahpahaman yang cukup berbahaya. Sebab, sejatinya, besar kemungkinan angin duduk itu adalah sakit jantung. ”Ada anak muda meninggal cepat, yang kelihatannya sehat-sehat saja. Dianggap angin duduk, padahal itu sakit jantung. Ketika bergejala, terlambat dapat pertolongan,” imbuh Bobi. 

Dia mengakui bila edukasi pertolongan pertama bagi orang yang terkena serangan jantung cukup minim. Khususnya di Kabupaten Malang. (mel/ifa/fin/by)

Di tahun ini, RSSA Malang telah menangani 388 pasien yang mengalami serangan jantung. Semua masih berusia kurang dari 45 tahun. Jadi salah satu bukti bila serangan jantung juga bisa terjadi pada generasi muda. 

Budi (bukan nama sebenarnya), terpaksa berhenti dari pekerjaannya untuk sementara waktu. Pria yang bekerja pada instansi pemerintahan di Kota Batu itu tengah sakit. Awalnya, dia merasakan nyeri di bagian dada. Nyeri itu kemudian menjalar ke tangannya. Oleh rekannya, dia lantas dirujuk ke RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapat penanganan lebih lanjut. 

Saat dikunjungi Ketua Kelompok Staf Medik (KSM) Jantung dan Pembuluh Darah dr Setyasih Anjarwani SpJP di Ruang Musi Instalasi Perawatan Jantung Terpadu (IPJT) RSSA, kemarin (28/9) siang, Budi tengah terbaring lemas. Sebab dia baru saja menjalani pemasangan ring akibat serangan jantung. Beruntung, kini kondisinya sudah membaik. ”Tapi masih belum enak betul,” kata Budi dengan nada lirih sembari mengelus bagian dadanya. 

Setyasih lantas mengajukan beberapa pertanyaan kepada Budi. Seperti kebiasaan merokok dan riwayat keluarganya. Pria berusia 45 tahun tersebut mengakui jika dirinya merupakan perokok. Setiap dua hari sekali, dia bisa menghabiskan satu bungkus rokok yang berisi 20 batang. ”Kalau riwayat keluarga, setahu saya tidak ada yang memiliki riwayat penyakit jantung,” imbuh Budi. 

Budi adalah salah satu dari banyaknya pasien penyakit jantung di RSSA Malang. Setiap tahun, IPJT RSSA bisa menangani lebih dari 1.000 tindakan di bidang kardiovaskular atau penyakit jantung. Tren tersebut sempat mengalami penurunan saat pandemi Covid-19. Namun, tahun 2021 kembali meningkat dengan total sebanyak 925 penanganan. Yang terbanyak adalah penanganan untuk jantung koroner, 59 persen (selengkapnya baca grafis). 

Setyasih lantas menjabarkan bila penyakit jantung terdiri dari beberapa kategori. Seperti gagal jantung, gangguan irama jantung, gangguan pembuluh darah, hingga penyakit jantung bawaan yang didapat sejak lahir. ”Penyakit jantung bisa menyerang berbagai kelompok usia, termasuk usiausia produktif,” kata dia. 

Itu berbeda dengan dulu yang kebanyakan didominasi kelompok usia di atas 50 tahun. Kini, penyakit jantung juga menyasar anak-anak muda. Demikian pula serangan jantung. Berdasarkan kelompok usia, serangan jantung terbagi menjadi beberapa kategori. Salah satunya yakni premature coronary artery disease (PCAD). Yakni serangan jantung koroner pada usia kurang dari 45 tahun. 

Selanjutnya, dia menyebut beberapa penyebab penyakit jantung. Seperti genetik, kebiasaan merokok, jenis kelamin, stres, diabetes, hipertensi, obesitas hingga gaya hidup. 

Hal serupa juga disampaikan dr Ikhwan Handi R SpJP, dokter spesialis jantung di RSUD Karsa Husada, Kota Batu. ”Salah satu pemicu penyakit jantung ini adalah pola hidup yang tidak sehat. Makanya, tidak heran jika penyakit jantung dapat menyerang mereka yang berusia di bawah 30 tahun,” kata dia. Untuk bisa mengetahui kategori penyakit jantung, dia menyebut pentingnya upaya deteksi dini. ”Karena faktanya, ada yang usia 20-an atau 40-an yang baru tahu ternyata sekat jantung bagian atasnya berlubang atau bocor. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan penunjang ekokardiografi atau USG jantung,” tambahnya. 

Secara umum, pihaknya menyebut tiga hal penting yang harus dilakukan dalam menyikapi penyakit jantung. Pertama, upaya preventif dengan menjaga pola hidup yang baik. Upaya kedua yakni kuratif, tentang update ilmu dan manajemen terapi, sehingga angka kesakitan dan kematian pasien bisa menurun. Sedangkan poin ketiga adalah rehabilitasi. 

”Jadi, rehabilitasi ini tujuannya sebagai peningkatan kualitas hidup pasien penderita penyakit jantung,” tambahnya. Di tempat lain, Plt Direktur Utama RSUD Kanjuruhan dr Bobi Prabowo SpEm KEC MBiomed mengakui bila tren penyakit jantung pada generasi muda terus meningkat. ”Sakit jantung milenial itu ibarat fenomena gunung es. Biasanya tak sampai masuk faskes (fasilitas kesehatan). Sebab anak muda umumnya tidak percaya bisa kena sakit jantung,” kata dia, kemarin (28/9). 

Dia lantas menjelaskan mitos terkait anak muda yang meninggal cepat. Seperti meninggal akibat masuk angin atau angin duduk. Dia menyebut bila itu miskonsepsi atau kesalahpahaman yang cukup berbahaya. Sebab, sejatinya, besar kemungkinan angin duduk itu adalah sakit jantung. ”Ada anak muda meninggal cepat, yang kelihatannya sehat-sehat saja. Dianggap angin duduk, padahal itu sakit jantung. Ketika bergejala, terlambat dapat pertolongan,” imbuh Bobi. 

Dia mengakui bila edukasi pertolongan pertama bagi orang yang terkena serangan jantung cukup minim. Khususnya di Kabupaten Malang. (mel/ifa/fin/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/