Rujuk Pasien, Komisaris Rumah Sakit pun Jadi “Sopir” Ambulans

PELAYANAN PRIMA: Dokter Sadi Hariono MMRS (kiri) bersama istrinya Endang Susilowati di depan RS Prima Husada, Jalan Raya Mondoroko, Banjararum, Singosari.

BERAWAL dari klinik pribadi, Rumah Sakit (RS) Prima Husada berkembang menjadi salah satu RS besar di Malang Utara. Bahkan, 2017 lalu dinobatkan menjadi Trauma Center Terbaik. Bagaimana perjalanannya?
***

Gedung megah RS Prima Husada di Jalan Raya Mondoroko, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, itu dulunya hanya sepetak ruang praktik dr Sadi Hariono MMRS. Bersama istrinya, Endang Susilowati, mereka membangun RS Prima Husada dari awal. Orientasinya bukan uang. Tapi, mereka ingin melayani masyarakat.

Perjalanan pasangan suami istri (pasutri) Sadi-Endang dalam melayani masyarakat dimulai pada 1990 silam. Saat itu dr Sadi Hariono MMRS memulai praktik dokter pribadi di rumahnya, Jalan Raya Mondoroko.
Sebagai dokter umum yang baru menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), Sadi menerapkan dua prinsip dalam melayani pasien. Yakni, siap melayani 24 jam dan menempatkan diri sebagai pelayan pasien.

Meski awalnya sedikit pasien yang datang kepadanya karena lokasi praktik yang berada di permukiman sepi dan di sekitar area persawahan. ”Saat itu kami tidak cukup mampu untuk memiliki tempat strategis. Kami tinggal di kompleks pemukiman di tengah sawah, masuk ke dalam gang sempit, dan sepi belum banyak penghuninya,” kata Endang saat menyambut Jawa Pos Radar Malang di ruang kerjanya kemarin.

Ramah, jujur, dan selalu siap melayani pasien menjadi slogan mereka. Jam berapa pun ada pasien datang, selalu dilayani. Bermodal keramahan, kejujuran, dan layanan 24 jam nonstop itulah, akhirnya banyak masyarakat yang mengenal Sadi. Pasien yang datang pun semakin banyak.

Sekitar 2000 silam, mulai banyak pasien yang menyarankan Sadi untuk membuat tempat perawatan. Meski sempat ragu, akhirnya Sadi-Endang membuka balai pengobatan pada 2005. ”Awalnya tidak memiliki jiwa bisnis, tapi karena banyaknya permintaan dari pasien, kami pun tergerak. Bagi kami, orang minta pasti punya harapan, akhirnya 2005 lalu kami membeli rumah di depan tempat kami tinggal dan juga untuk praktik,” ujar ibu tiga anak tersebut.

Sadi dan istrinya pun membeli rumah tipe 70 yang terdiri dari 3 kamar dengan kapasitas 10 bed. ”Saat itu izin kami adalah balai pengobatan,” kenang dia.

Meski perawatan pada pasien telah terlaksana, tapi karena statusnya sebagai balai pengobatan, Prima Husada kala itu hanya bisa merawat pasien selama dua hari. Sembuh atau tidak, secara aturan harus keluar. Jika sembuh, dipulangkan. Tapi jika belum sembuh, berarti harus di rujuk ke RS lain.
”Banyak pasien yang tidak mau dirujuk dan ingin dirawat hingga sembuh di balai pengobatan Prima Husada,” kata dia.

Alasan pasien tidak mau dirujuk karena sudah nyaman di Prima Husada. ”Terkadang kami harus ’bertengkar’ dengan pasien ketika harus merujuk. Malahan pasien mengajari kami kalau sudah dua hari tidak sembuh, maka status dipulangkan. Dan beberapa jam berikutnya didaftarkan lagi sebagai pasien baru, tentu hal ini salah,” kata Endang.

Selain terus memberikan pengertian kepada pasien bahwa ada prosedur fasilitas kesehatan yang harus dipatuhi, Sadi dan Endang pun mulai berkonsultasi ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang. Pihak dinkes pun menyarankan agar Prima Husada naik kelas menjadi tempat rawat inap.
Selanjutnya pada 2008, Prima Husada pun menjadi tempat rawat inap dengan kapasitas 20 bed dengan menambah 2 kavling bangunan. ”Tahun 2008 itu kami menambah 2 kavling lagi rumah tipe 70. Dengan menjadi tempat rawat inap, kami bisa merawat pasien hingga sembuh. Namun, ada kendala lagi karena kami tidak bisa melayani operasi ataupun jika memerlukan dokter spesialis,” kata dia.

Rasa tanggung jawab penuh pada pasiennya membuat Sadi mengantarkan pasien, mulai dari memilih RS untuk operasi. Bahkan, beberapa kali dia mengantarkan sendiri pasiennya menggunakan ambulans Prima Husada.
”Waktu itu masih boleh menyetir ambulans sendiri, sekarang kan sudah tidak boleh. Saya tunggu sampai selesai operasi dan kami bawa kembali ke Prima Husada untuk dirawat,” timpal Sadi menceritakan kisahnya saat menjadi sopir pasien.

Lantaran banyak pasien yang perlu dioperasi, Sadi dan istrinya pun terus berkonsultasi kepada Dinkes Kabupaten Malang. Akhirnya pada 2010 lalu, Dinkes Kabupaten Malang menyarankan untuk mengubah status menjadi RS Prima Husada.

”Kami menambah bangunan menjadi 10 kavling. Dan dengan kapasitas 40 bed, akhirnya jadilah Rumah Sakit Prima Husada. Dengan izin operasional sementara,” imbuh perempuan berjilbab tersebut.
Dalam perjalanannya, tidak hanya satu dua kendala yang mereka hadapi. Salah satunya adalah kendala lokasi. Di awal-awal naik kelas menjadi RS, keadaan bangunan yang masih terpisah jarak dengan beberapa rumah hunian menjadi masalah dalam mengurus izin tetap RS.
”Saat akan mengurus izin tetap dan penetapan kelas rumah sakit, bangunannya kan harus menyambung antar pelayanan. Ini menjadi masalah kami dan upaya dalam bentuk apa pun kami lakukan,” kata Endang.

Akhirnya upayanya membuahkan hasil. Pada 2013, RS Prima Husada mendapat izin tetap sebagai RS yang dinaungi PT Disa Prima Medika dengan dr Sadi sebagai komisaris utama (Komut)-nya. Pada tahun itu juga, gedung pelayanan RS Prima Husada sudah terintegrasi dengan total 17 kavling serta bangunan utama berlantai 4.
”Sekarang kapasitas bed kami menjadi 125. Dan sekarang kami adalah rumah sakit tipe C di Kabupaten Malang,” kata dia.

Sebagai RS tipe C, pelayanan dokter spesialis yang dimiliki RS Prima Husada tergolong lengkap. Hingga saat ini, RSPH telah didukung oleh 43 dokter spesialis, mulai dari penyakit dalam, spesialis mata, jantung pembuluh darah, paru dan pernafasan, radiologi, saraf, neurologi, anestesi, bedah, bedah plastik, orthopedi dan traumatology, patologi klinik, obstetric dan ginekologi, serta masih banyak lagi.

Atas kelengkapan fasilitas layanan tersebut, awal 2020 lalu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menobatkan RS Prima Husada sebagai salah satu RS rujukan Covid-19. Sebelumnya, tepatnya 2017 RS Prima Husada dinobatkan sebagai Trauma Center Terbaik. Penghargaan itu diberikan kepada RS mitra Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Salah satu tolok ukur menjadi Trauma Center Terbaik karena pelayanan maksimal terhadap pasien korban kecelakaan. Hingga Mei lalu, RS tersebut telah melayani sekitar 70 pasien dalam pengawasan (PDP) rawat inap serta ratusan ODP rawat jalan.

Lantas apa yang membuat mereka konsisten melayani pasien? Sadi bercerita, terlahir sebagai anak buruh tani dari desa yang belum familier dengan dokter, membuatnya terpacu menempuh pendidikan sebagai dokter. ”Di desa saya dulu belum ada listrik, ketika ada anak yang sakit, tidak pernah dibawa ke dokter. Paling bagus dibawa ke mantri,” ujar dia.

Akhirnya sejak awal menjadi dokter, Sadi selalu siap melayani pasien kapan pun dibutuhkan. ”Saya selalu berpikir seandainya anak saya yang sakit di hari Minggu dan dokter libur, mau dibawa ke mana anak saya? Maka dari itulah saya tidak pernah membatasi jam praktik. Bahkan, jika ada pasien datang tengah malam, asal tidak berniat buruk, pasti saya layani,” kata dia.

Dia bersyukur banyak pasien yang memberikan kepercayaan pada dirinya dalam mengobati. Bahkan, di awal-awal berdirinya RS Prima Husada, banyak masyarakat yang lebih mengenalnya dengan istilah Rumah Sakit dr Sadi. ”Jadi, sampai sekarang masih banyak pasien yang sejak dulu periksa di saya, sampai sekarang kalau sakit datangnya ke saya. Meskipun saya tidak melayani BPJS, tapi mereka masih bersedia,” tutur Sadi. Dia percaya ketika pasien berobat, bukan hanya kesembuhan yang dicari, tapi juga ketenangan dan kenyamanan.

Pewarta: Arlita Ulya Kusuma
Foto: Arlita Ulya Kusuma
Editor: Mahmudan/Hendarmono Al S