alexametrics
28.9 C
Malang
Friday, 1 July 2022

Kuartal Pertama, Dinkes Kota Malang Temukan 153 Kasus Baru HIV/AIDS

MALANG KOTA – Penyebaran HIV/AIDS di Kota Malang kembali harus diwaspadai. Sebab, dalam kuartal pertama (JanuariApril) 2022, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat 153 kasus baru. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai 73 kasus.

Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa mengungkapkan, tahun ini pihaknya menargetkan pengetesan Standar Pelayanan Minimal (SPM) HIV/AIDS terhadap 21.974 orang. Yang terealisasi pada kuartal pertama baru 4.360 orang atau 19,8 persen dengan temuan kasus positif sebanyak 153 orang.

Bayu mengungkapkan, sejak 2021 sampai saat ini, kasus positif HIV/AIDS di Kota Malang masih didominasi oleh populasi umum atau masyarakat biasa. Pada 2021 jumlahnya mencapai 150 orang, sementara untuk tahun 2022 adalah sebanyak 57 orang. ”Jumlah itu kemudian disusul oleh lelaki seks lelaki (LSL) sebanyak 110 kasus positif untuk 2021 dan 48 kasus positif di kuartal pertama tahun 02022,” imbuhnya.

Menurut dia, dalam penanganan HIV/AIDS masih ada stigma yang menjadi kendala. Belum lagi jika harus menggiring anggota keluarga yang berpotensi tertular untuk melakukan tes. Namun pihaknya tetap menawarkan tes dan sifat rahasia. Ada dua metode tes HIV/AIDS yang dilakukan. Pertama, konseling dan testing sukarela (KTS) yang ditujukan bagi pihak-pihak berisiko tertular. Seperti pekerja seks komersial, pecandu narkoba, waria, hingga LSL. Biasanya metode ini dilakukan berdasar rujukan teman-teman pendamping atau LSM. Yang kedua, tes atas inisiasi petugas kesehatan (TIPK).

Bayu menambahkan, testing bisa dilakukan di Puskesmas setiap hari. Ada juga mobile clinic ke tempat-tempat yang ditentukan oleh LSM pendamping. Terpisah, Kepala Puskesmas Rampal Claket dr M Ali Syahib mengatakan, testing HIV/AIDS biasanya terjadwal secara khusus. Namun selama pandemi pihaknya memberikan layanan dengan mengikuti jam kerja puskesmas. ”Kita laksanakan mulai dari screening dan pengobatan ARV atau obat khusus untuk penderita HIV lanjutan dengan pengobatan setiap satu bulan sekali sambil follow up di rumah sakit. Tapi, untuk layanan di Puskesmas tidak semuanya bisa inisiasi pengobatan mandiri sampai dengan tuntas,” jelas Ali.

Senada dengan Bayu, Ali mengatakan tantangan penanganan HIV/AIDS adalah jika pasien belum bisa jujur dengan pemeriksa dan pasangan untuk melakukan pengobatan mulai dari awal dan lanjutan sampai dengan tuntas. (mel/fat)

MALANG KOTA – Penyebaran HIV/AIDS di Kota Malang kembali harus diwaspadai. Sebab, dalam kuartal pertama (JanuariApril) 2022, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat 153 kasus baru. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai 73 kasus.

Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa mengungkapkan, tahun ini pihaknya menargetkan pengetesan Standar Pelayanan Minimal (SPM) HIV/AIDS terhadap 21.974 orang. Yang terealisasi pada kuartal pertama baru 4.360 orang atau 19,8 persen dengan temuan kasus positif sebanyak 153 orang.

Bayu mengungkapkan, sejak 2021 sampai saat ini, kasus positif HIV/AIDS di Kota Malang masih didominasi oleh populasi umum atau masyarakat biasa. Pada 2021 jumlahnya mencapai 150 orang, sementara untuk tahun 2022 adalah sebanyak 57 orang. ”Jumlah itu kemudian disusul oleh lelaki seks lelaki (LSL) sebanyak 110 kasus positif untuk 2021 dan 48 kasus positif di kuartal pertama tahun 02022,” imbuhnya.

Menurut dia, dalam penanganan HIV/AIDS masih ada stigma yang menjadi kendala. Belum lagi jika harus menggiring anggota keluarga yang berpotensi tertular untuk melakukan tes. Namun pihaknya tetap menawarkan tes dan sifat rahasia. Ada dua metode tes HIV/AIDS yang dilakukan. Pertama, konseling dan testing sukarela (KTS) yang ditujukan bagi pihak-pihak berisiko tertular. Seperti pekerja seks komersial, pecandu narkoba, waria, hingga LSL. Biasanya metode ini dilakukan berdasar rujukan teman-teman pendamping atau LSM. Yang kedua, tes atas inisiasi petugas kesehatan (TIPK).

Bayu menambahkan, testing bisa dilakukan di Puskesmas setiap hari. Ada juga mobile clinic ke tempat-tempat yang ditentukan oleh LSM pendamping. Terpisah, Kepala Puskesmas Rampal Claket dr M Ali Syahib mengatakan, testing HIV/AIDS biasanya terjadwal secara khusus. Namun selama pandemi pihaknya memberikan layanan dengan mengikuti jam kerja puskesmas. ”Kita laksanakan mulai dari screening dan pengobatan ARV atau obat khusus untuk penderita HIV lanjutan dengan pengobatan setiap satu bulan sekali sambil follow up di rumah sakit. Tapi, untuk layanan di Puskesmas tidak semuanya bisa inisiasi pengobatan mandiri sampai dengan tuntas,” jelas Ali.

Senada dengan Bayu, Ali mengatakan tantangan penanganan HIV/AIDS adalah jika pasien belum bisa jujur dengan pemeriksa dan pasangan untuk melakukan pengobatan mulai dari awal dan lanjutan sampai dengan tuntas. (mel/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/