Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, mulai 2019 sampai 2022, jumlah masyarakat yang mengakses layanan kesehatan jiwa cenderung meningkat. Terutama pada pelayanan kesehatan jiwa untuk depresi.
”Terkait kesehatan mental, kami memiliki program kesehatan jiwa di masing-masing puskesmas,” kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif. Di dalam program tersebut, ada layanan konseling dan pendampingan.
Husnul menambahkan, sebelum mendapat pelayanan, orang yang datang akan menjalani asesmen terlebih dulu. ”Setelah itu, akan diberi penanganan sesuai hasil asesmen,” imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Contohnya di Puskesmas Kendalkerep, Kecamatan Blimbing. Kepala Puskesmas Kendalkerep dr A A I Ngurah Kunti Putri mengakui bila masyarakat yang mengakses layanan kesehatan jiwa cukup banyak. Terutama mereka yang menderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.
Sebagian dari mereka ada yang mengambil obat di puskesmas maupun meminta rujukan ke rumah sakit. ”Ada pula kasus-kasus seperti depresi dan gangguan kecemasan,” kata dia.
Data Kasus Bunuh Diri di Kota Malang
- 2021 : 5 Kasus
- 2022 : 8 Kasus
- 2023 : 7 Kasus (Januari-Mei)
Penyebab Bunuh Diri di Kota Malang
- Faktor impitan ekonomi
- Konflik keluarga
- Masalah percintaan
Lokasi Bunuh Diri
- Rel Kereta Api (KA)
- Jembatan
- Rumah dan tempat yang sepi
Sumber: Polresta Malang Kota
Hal yang sama juga disampaikan Kepala Puskesmas Rampal Claket dr M. Ali Syahib. Dia menyebut, untuk kunjungan ke poli umum ada yang berupa pengambilan obat rutin. Apabila ada yang ingin melakukan konseling atau penanganan langsung, ada program kesehatan jiwa yang tersedia. ”Dan jumlah pasien pengawasan dari program jiwa ada sekitar 23 orang di wilayah kerja kami,” sebut dia.
Syahib menambahkan, biasanya mereka yang ingin konseling mengalami sejumlah gejala. Seperti tidak bisa tidur, gelisah, hiperaktif, dan mudah marah. Namun, yang terbanyak tetap skizofrenia terkendali atau stabil pengobatan rutinitas. Juga keluhan depresi yang terkontrol.
Layanan Kesehatan Jiwa di 16 Puskesmas
Pelayanan untuk depresi
- 2019: 18 pelayanan
- 2020: 49 pelayanan
- 2021: 136 pelayanan
- 2022: 821 pelayanan
- 2023 (Januari-Mei): 11 pelayanan (sampling dua puskesmas)
Pelayanan untuk gangguan mental emosi
- 2019: 1.830 pelayanan
- 2020: 2.160 pelayanan
- 2021: 2.021 pelayanan
- 2022: 2.150 pelayanan
- 2023: dalam perhitungan
Pelayanan untuk orang dengan gangguan jiwa berat (ODGJ)
- 2019: 1.163 pelayanan
- 2020: 732 pelayanan
- 2021: 975 pelayanan
- 2022: 1.297 pelayanan
- 2023 (Januari-Mei): 12 pelayanan (sampling dua puskesmas)
Peningkatan kunjungan ke layanan kesehatan jiwa juga terlihat di lembaga konseling kampus. Setiap hari, jumlah yang datang antara satu sampai sepuluh orang per hari. Salah satunya di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang.
Ketua Laboratorium Konseling Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Rika Fuaturosida menjelaskan, peningkatan kunjungan terjadi karena penyebab yang beragam. ”Ada yang memang memiliki kesadaran diri atau rekomendasi dari teman sebaya,” kata dia. Demikian pula masalah mental yang dikeluhkan. Mulai dari masalah keluarga, teman, hingga pasangan.
Lebih lanjut, apabila persoalan yang dirasakan kompleks, masyarakat bisa mengakses layanan di rumah sakit. Seperti layanan di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).
Spesialis Kedokteran Jiwa RSSA dr Ratri Istiqomah SpKJ menyebut, pasien yang mengakses layanan di RSSA dalam satu bulan bisa mencapai 600-an pasien. Terdiri dari berbagai macam kelompok usia, mulai dari usia remaja akhir hingga dewasa. Itu terbagi dalam sejumlah kategori. Salah satunya adalah pasien dengan kelompok gangguan skizofrenia sebanyak 30 persen.
”Kemudian, ada pasien dengan gangguan depresi. Termasuk gangguan lain dengan gejala depresi sebanyak 20 persen,” sebut Ratri. Pada pasien dengan gejala depresi, lanjut dia, biasanya ada keluhan putus asa dan pemikiran untuk mengakhiri hidup.
Pada kondisi itu, penting untuk memperhatikan kesehatan mental. Caranya dengan promosi kesehatan untuk menumbuhkan kesadaran bersama sesuai peran masing-masing. Juga diperlukan kolaborasi yang memungkinkan pencegahan lebih meluas.
Disinggung terkait upaya Pemkot Malang yang mengajukan penambahan pagar pengaman pada tempat-tempat tinggi seperti jembatan, Ratri turut mendukungnya. Namun, upaya pencegahan tidak boleh berhenti sampai di situ saja. ”Intinya bagaimana bisa menjadikan masyarakat yang sehat secara komprehensif. Baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual,” tandas dia. (mel/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana