MALANG KOTA – Hingga kemarin (14/7), Kota Malang masih bebas dari kasus antraks. Guna mengantisipasi masuknya penyakit menular dari hewan ke manusia tersebut, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang menyiapkan sejumlah strategi.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Dispangtan Kota Malang Anton Pramujiono mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan penyuluh pertanian dan peternakan. Tujuannya untuk memberikan pemahaman terkait penyakit antraks. ”Harapannya, penyuluh-penyuluh itu bisa meneruskan ke peternak dan masyarakat luas,” ujar Anton.
Dia menjelaskan, antraks merupakan penyakit yang dapat menular ke manusia (zoonosis). Penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri Bacillus Anthracis. Penularannya bisa melalui tiga jalur. Yakni pertama, spora antraks bisa masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan (terhirup). Kedua, melalui luka pada kulit yang bisa mengakibatkan bisul atau pembengkakan di tempat yang terinfeksi. Ketiga, melalui saluran pencernaan dari daging hewan yang tidak dimasak dengan baik atau dengan suhu tinggi.
Anton mengaku sudah menyampaikan informasi tersebut ke penyuluh pertanian dan peternakan. Apabila ditemukan gejala serupa, katanya, bisa dilaporkan ke Dispangtan Kota Malang.
Dia meminta agar peternak hewan, khususnya sapi bisa lebih menjaga kebersihan. Mulai kondisi kandang hingga makanannya. Sebab, penyakit itu ditularkan melalui spora antraks yang tahan di tanah selama bertahun tahun.
Hal itu dibenarkan oleh Pakar Produksi Ternak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr drh Lili Zalizar MS. Dia mengungkapkan, antraks sulit diberantas. Sebab, penyakit tersebut ditularkan melalui spora antraks. Spora bisa bertahan di tanah dalam waktu yang lama. “Bisa sampai bertahun-tahun,” ucapnya.
Lili menyebut, hewan ternak sangat mungkin terinfeksi melalui rumput yang tercemar spora antraks. Gejala klinis pada hewan yang terserang antraks yakni kejang-kejang dan tiba-tiba terjatuh.
Selain itu, lanjutnya, biasanya juga ditemukan keluarnya darah dari mulut, hidung, anus, dan vagina pada ternak betina.
Menurutnya, dispangtan harus mulai melakukan tracing (pelacakan). “Jika ada hewan ternak yang menunjukkan gejala antraks, sebaiknya lapor ke dinas peternakan atau mantri hewan," tandasnya.(dre/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana